Wife 02

1145 Kata
Sesekali arni memijat betisnya yang sangat sangat terasa pegal, rasanya tamu yang berdatangan tidak berkurang sejak dua jam yang lalu "sebenarnya siapa saja yang di undang oleh nenek sihir itu" geram Bara membuat arni menoleh ke arahnya dan menyipitkan matanya Dia saja yang sedari tadi hanya duduk merasa geram apalagi dirinya yang terus terusan berdiri dan menampilkan senyum lebarnya pada para tamu. Bahkan arni rasanya tidak bisa merasakan kakinya lagi menapak. "Hans bawa aku  ke kamar" ucap Bara yang kembali membuat arni menoleh cepat "kemana.?"tanya arni membuat gerakan Hans  yang hendak memutar kursi roda Bara terhenti "saya akan mengantar tuan ke kamar" jawab Hans dengan senyum tipisnya, atasan dan sekertaris yang serasi batin arni sama sama minim ekspresi. "Lalu bagaimana denganku.?" tanya arni yang akhirnya membuat Bara menatap ke arahnya "Tugas pertamamu, sambut para tamu, lagi pula aku tidak mengenal mereka, hanya 1% dari semua tamu yang aku kenal, sisanya adalah komplotan nenek sihir itu, jadi kau yang harus tanggung jawab"jawaban bara membuat arni membulatkan matanya. "aku, bagaimana bisa, apalagi aku hanya mengenal 0,01% dari mereka semua, jadi ini bukan tanggung jawabku" "Kau ingin membantah tugas pertama dari suamimu ini istriku" jawab Bara dengan senyum jahatnya membuat arni mau tidak mau memilih diam dan menurut saja "Hans jalan, aku sudah tidak tahan"lanjut bara dan akhirnya pergi meninggalkan arni seorang diri menyambut para tamu di acara pernikahan mereka oOo Arni berjalan tergesa gesa menuju lift yang akan membawanya ke kamar yang di khususkan untuknya dan Bara. dengan berjalan cepat sambil mengangkat gaunnya yang terasa berat dari sisi kiri dan kanan, arni akhirnya masuk kedalam lift dan menatap pantulan dirinya di kaca lift kemudian menghembuskan nafas kasarnya "huff bisa bisanya dia meninggalkan aku seorang diri menangani para manusia itu, arghhhhh badanku" pekik arni di akhir kalimat sambil memukul pundak belakangnya yang terasa akan segera remuk. Kau harus menaklukan hatinya Kata kata itu tiba tiba terlintas di benak arni, ya kata kata tante vena yang selalu menyemangatinya, sesaat kemudian arni tersenyum miris "haha memang apanya yang harus di taklukkan, apa tante vena yakin dia punya hati, aku meragukan nya" gumam arni namun tidak di pungkiri ide tante vena memang benar, menaklukan singa buas itu memang harus hatinya yang harus di serang Ting Pintu lift terbuka, sebelum arni benar benar melangkah keluar arni terlebih dahulu menarik nafas dalam dan memantapkan hatinya "baiklah arni sekarang waktunya menjadi seorang istri yang baik dan taklukan singa buas itu" gumam arni menyemangati dirinya sendiri. Sedangkan di tempat berbeda yaitu kamar tempatnya berada, bara tengah sibuk berkutat dengan setumpuk berkas di depannya, meskipun ini hari pernikahannya tapi bara tidak peduli sama sekali baginya pekerjaannya adalah nomor satu baginya. Hingga beberapa saat bara mengangkat kepalanya saat suara pintu yang tidak jauh darinya terbuka, bara menaikkan sebelah halisnya menatap seorang wanita dengan santainya berjalan masuk  ke arah sisi tempat tidur dan entah apa yang dia lakukan dengan posisi menunduk untuk beberapa saat, Namun detik berikutnya mata bara membulat sempurna saat Arni melepas gaun pengantin nya dengan santai di depan Bara, "apa yang kau lakukan.?" tanya bara dengan geram membuat arni segera berbalik dan terkejut "Aaaaaa apa yang kau lakukan di situ.?" tanya arni sambil menyilangkan tangannya ke bagian d**a meskipun dia tahu itu tidak berguna sama sekali. "aku, harusnya aku yang bertanya, kenapa kau bisa masuk ke kamar ini.?" "tentu saja dengan ini.,!" jawab arni sambil menunjukan cardlock nya "Keluar.,!"perintah bara  dengan nada tegasnya "tidak" jawab cepat arni membuat bara sedikit terkejut ternyata gadis ini berani juga untuk menolak perintahnya "lagi pula ini kamar pengantinnya bukan, jadi ini pun adalah kamarku," ucap arni mencoba menormalkan detak jantungnya dan kembali mengalihkan pandangannya pada koper di sampingnya untuk memilih baju tidur Baju apa ini batin arni saat melihat isi kopernya hanya terdapat gaun tidur tipis dan barang barang yang arni tidak tau fungsinya apa, tentu saja tante vena yang menyiapkannya memangnya siapa lagi, Dengan terpaksa arni mengambil salah satu gaun tidur dan memakainya tepat di hadapan bara, Sedangkan Bara hanya mampu terdiam menatap pergerakan arni didepan mata kepalanya sendiri, wajah bara memerah menahan marah sekaligus debar jantungnya, bara tidak bohong tubuh arni memang tidak se seksi beberapa mantan pacarnya dulu tapi jika membayangkannya saja di bagian tertentu tubuh Arni akan sangat pas berada di genggamannya Sial Bara mengumpat saat pikiran kotornya mulai menyerang isi kepalanya, harusnya sedari tadi dia memalingkan pandangannya pada berkas menumpuk di depannya bukan melihat arni yang sedang berganti pakaian, apa dia sengaja untuk menggodaku batin bara , benar mungkin ini taktiknya untuk menggodaku, bara tidak menyangka penampilan luar arni sangat menipu ternyata dia bernyali juga seperti jalang jalang yang lainnya pikir bara, Dan yang lebih tidak masuk akalnya lagi adalah dirinya, bahkan bara masih menatap arni yang telah selesai berganti pakaian  dan sekarang dia berjalan mendekat ke arah meja tempat bara memeriksa tumpukan kertas itu. "di hari pernikahan kita, Sekretarismu masih memberimu pekerjaan sebanyak ini.?" tanya arni sambil menggelengkan kepalanya "itu bukan urusanmu" jawab bara kemudian kembali mengambil salah satu berkas dan mulai membacanya "apa kau lapar,  atau ingin berganti pakaian.?" tawar arni dengan senyum manisnya membuat bara menaikkan sebelah alisnya. "apa sekarang kau berperan sebagai istri yang baik" "em tentu saja, itu tugasku bukan" jawab arni sambil mengedipkan sebelah matanya kepada bara membuat mata bara menyipit Ternyata gadis di depannya lebih liar dari dugaannya. "jadi apa yang kau butuhkan suamiku.?" tanya arni masih menawarkan bantuannya "tidak ada, aku akan memanggil hans" "tidak, sekertaris Hans sudah pulang, jadi malam ini aku yang akan melayani mu"jawaban arni membuat bara berdecih dan segera meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang dan arni yakin pasti dia akan menghubungi sekretaris pribadinya itu. Namun dari ekspresi kesalnya arni bisa menebak tante vena berhasil membuat dua sejoli ini akhirnya berpisah untuk beberapa saat. Bara melempar kasar ponselnya ke atas meja dan kembali meraih dokumen yang dia baca "jadi apa dulu yang kau inginkan, makan.? Berganti pakaian atau ke kamar mandi.,?" tawar arni kembali membuat bara jengah dan menatapnya tajam. "yang ku ingin kan kau menyingkir dari hadapan ku dan biarkan aku berkonsentrasi bekerja" "ayolah ini malam pernikahan kita bukan" "ap kau berharap aku akan menyentuhmu.?" tanya bara dengan satu alis terangkat Tidak tentu saja tidak "ya." jawab arni membuat bara sedikit tersentak "maksudku bukan seperti itu, aku hanya ingin kita beristirahat sekarang, aku tau kau pasti lelah"rengek arni "menyingkirlah sebelum aku benar benar marah" geram bara akhirnya membuat arni mulai takut kembali "baiklah baiklah, aku tidak akan memaksamu, tapi jika kau butuh sesuatu panggil aku" jawab arni namun bara tidak peduli dan mulai fokus pada dokumen di tangannya namun detik berikutnya jantung bara seakan benar benar berhenti saat dia merasakan tangan lembut menyentuh sisi wajahnya dan bara bisa melihat arni dari jarak paling dekat, arni dengan santainya langsung menempelkan bibirnya kemudian melumat bibir bawah bara setelah itu dia berjalan ke tempat tidur dan segera membaringkan tubuhnya yang terasa amat lelah, meninggalkan bara yang masih diam mematung dengan jantung yang seakan melompat keluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN