Wife 14

1141 Kata
Arni berjalan masuk ke dalam rumah sambil sesekali memijat leher yang terasa pegal seharian ini dia Menatap layar laptopnya sedikit lebih lama membuat seluruh pundak dan lehernya kaku, Arni pun mengedarkan ke segala penjuru rumah yang terlihat sepi dan mulai bertanya kepada salah satu pelayan yang berpapasan dengannya "apa Bara sudah pulang dari kantor?" Tanya Arni membuat langkah pelayan tersebut terhenti  "sudah nyonya, Tuan Bara sedang berada di dalam ruang kerjanya bersama Pak Reno "ucap pelayan tersebut membuat Arni mengerutkan keningnya, Arni kemudian kembali melanjutkan langkahnya dan berhenti di depan ruang kkerja Bara, entah kenapa rasa ingin tahu dalam diri Arni langsung menyeruak begitu saja ketika mendengar percakapan Bara dan Reno yang tidak terdengar jelas membuat Arni langsung menempelkan Sisi wajahnya pada daun pintu berharap bisa mencuri sedikit informasi yang bisa dia dapatkan terus berpindah-pindah dari sisi ke sisi lain namun ternyata pintu yang kini berada di dekatnya itu sedikit lebih tebal sehingga tidak bisa mendengarkan dengan jelas percakapan di antara mereka namun detik berikutnya Arni terlonjak kaget ketika pintu tersebut terbuka dan menampilkan Bara yang menatapnya dengan tatapan tajam “Apa yang kau lakukan? "Tanya Bara sambil menampilkan raut wajah dingin kepada Arni sedangkan Arni hanya bisa mengulas senyum canggungnya ketika kepergok menjadi penguping di antara mereka "tidak ada aku baru saja Ingin mengetuk pintu dan memastikan apa kau sedang berada di dalam sana? "Jelas Arnj masih dengan tersenyum kaku menatap ke arah Bara dan juga Reno, Arni pun mengalihkan pandangannya kepada Reno yang kini tengah menatapnya  " sore Om "Safa Arni membuat Reno hanya tersenyum sejenak setelah itu memperhatikan penampilan Arni dari atas sampai bawah  "apa istrimu sekarang bekerja?" Tanya Reno yang sepertinya ditujukan kepada Bara " tidak dia hanya mengambil alih toko peninggalan almarhum Mamah "Jawab Bara membuat Reno sedikit terdiam dan Ariel bisa melihat perubahan dari raut wajah yang Reno Tampilkan ketika mengetahui bahwa Arni kini tengah mengelola toko kue tersebut "Wah Ide Bagus itu, om juga dari dulu merasa bahwa toko tersebut harus dikelola oleh seseorang yang tepat "ucap Reno membuat Arni hanya bisa membalas senyuman yang dia berikan dengan Canggung  "Seperti Dulu saat Iren mengelola toko tersebut bukan" lanjut Reno sambil menatap ke arah Arni membuat senyum Ani langsung sirna saat itu juga  "ya sudah Om harus kembali berterima kasih atas izin yang sudah kau berikan "ucap Reno membuat Bara hanya menganggukkan kepalanya Sedangkan Arni hanya bisa melihat kepergian Omnya tersebut , Arni baru saja hendak membuka mulutnya untuk menanyakan perihal yang Reno katakan namun Bara  berlalu begitu saja menuju kamar mereka membuat Arni sedikit mendengus dan mengikuti pergerakan Bara dengan langkah panjang Arni  langsung mendorong Bara dengan sedikit cepat menuju kamarnya  "Hei apa yang kau lakukan?" Protes Bara ketika Ani mendorongnya dengan kuat “kau takut aku membawamu ke neraka "jawab Arni dengan wajah masamnya sambil terus mengabaikan Protestan Bara yang menyuruhnya untuk berhenti, Arni baru melepaskan dorongan kursi roda tersebut ketika mereka sampai di dalam kamar " bisa kau Jelaskan apa yang dikatakan pak Tua tadi? "Tanya Arni membuat bara malah berbalik memunggungi nya dan berjalan ke meja kerjanya "tidak ada yang perlu aku jelaskan " ucap Bara membuat Arni mendengus kemudian berjalan menghadang Bara yang hendak ke meja kerjanya " kau menyembunyikan sesuatu dariku? " Tanya Arni dengan wajah tidak suka menatap Bara, sedangkan Bara menatapnya dengan alis terangkat " Tidak semua urusanku Harus kau ketahui bukan "ucap Bara membuat Arni semakin kesal “ tapi sekarang aku istri mu jadi aku berhak mengetahui tentang yang ingin aku ketahui " jawab Arni membuat Bara mendengus  kemudian tertawa meremehkan "agar bisa kau laporkan kepada tante mu itu” ucap Bara dan Arni mengetahui maksud dari ucapan Bara tersebut dirinya pasti mencurigai bahwa Arni memang seorang mata-mata yang akan segera melaporkan kondisi rumah dan juga perusahaan kepada Vena "ini tidak ada sangkut-pautnya dengan tante Vena aku hanya penasaran dengan seseorang bernama Irene tersebut apa dia dulunya mengelola toko yang saat ini aku pegang? "Tanya Arni membuat Bara terdiam sejenak "ya dia yang memegang toko itu dan sangat berhasil membuat toko kembali Ramai Dan aku harap kerja bagus yang iren lakukan dulu bisa kau ikuti "ucap Bara yang terdengar jelas bahwa dia memuji wanita bernama Irene tersebut membuat Arni mengepalkan tangannya dengan kuat, Apakah sebegitu spesial kah wanita itu di mata Bara pikir Arni “ aku juga sedang berusaha untuk menyelamatkan toko itu kau tenang saja kau akan terkejut ketika melihat toko peninggalan Ibumu itu menjadi ramai di bawah kendali ku” jawab Arni membuat Bara hanya mengangkat bahunya Acuh “kalau begitu buktikan dan jangan hanya berkoar-koar saja "ucap Bara seolah meremehkan Arni membuat Arni mendengus, Arni memilih untuk berjalan ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya di sana sedangkan Bara melanjutkan kembali untuk berada di belakang meja kerjanya " setidaknya kau harus memberikan ku semangat kau tahu bukan bekerja mengurusi toko itu sangat melelahkan "gerutu Arni yang hanya bisa Bara dengar suaranya karena tubuhnya tertutup oleh sandaran kursi yang memang membelakangi meja kerjanya " aku tidak menyuruh mu bukan untuk mengambil alih toko tersebut "jawab Bara yang kini mulai membuka laptopnya “aku tahu, tetapi aku ingin membantu menyelamatkan toko itu apa Aku tidak boleh " Ucap Arni kembali membuat gerakan tangan Bara terhenti sambil melihat kearah sofa yang Arni tiduri Entah kenapa  terasa sedikit rasa hangat menyeruak ke dalam hati Bara ketika Arni mengutarakan niatnya bahwa dia peduli dengan toko peninggalan almarhum ibunya tersebut namun detik berikutnya Bara langsung menggelengkan kepalanya ketika rasa curiga masih menggelayuti pikirannya pada Arni dan juga ibu tirinya Bara yakin bahwa Arni melakukan hal tersebut karena ingin perlahan mulai menguasai aset yang dia memiliki “ kau tahu bukan Seharian ini Aku mencari ide-ide segar untuk membuat toko kue itu ramai "gerutu Arni kembali dengan suara yang sedikit melemah seolah dia memang menyiratkan rasa lelah yang dirasakan  "itu sudah kewajibanmu ketika kau berniat untuk mengambil alih toko itu jadi kau harus bertanggung jawab" jawab Barat namun detik berikutnya Bara tidak menerima jawaban ataupun sanggahan dari istrinya tersebut ,Bara pun hanya Acuh dan terus fokus pada layar laptopnya namun beberapa detik kemudian Bara akhirnya memilih untuk mendekat ke arah sofa besar di sana melihat Arni  yang Sudah terlelap dengan sedikit dengkuran halus membuat Bara yakin bahwa apa yang dia katakan tentang tubuhnya yang merasa lelah itu benar, sudut bibir Bara tertarik ketika melihat wajah Arni yang terlelap seperti seorang anak kecil “ Siapa suruh Kau mengambil Alih untuk mengelola toko tersebut bukankah kau merepotkan dirimu sendiri "ucap Bara sambil mengelus Puncak kepala Arni dengan lembut Perhatian Bara kemudian tertuju pada bibir Arni yang selama ini selalu menciumnya dengan sembarangan namun detik berikutnya Bara langsung menepis rasa yang menyeruak dari dalam dirinya begitu saja Bara tidak ingin dirinya tertarik oleh pesona Arni yang mungkin selama ini itu adalah tujuannya untuk itu Bara memilih untuk kembali ke belakang meja kerjanya dan membiarkan Arni tertidur dan beristirahat sejenak di atas sofa sebelum dia membangunkannya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN