Dua Tahun Silam -16

1501 Kata
"Geo, nih plesternya." Chima berlari menuju ke arah Geovan sembari menyodorkan beberapa bungkus plester luka. Gadis itu kemudian mencuci tangan dan mukanya dengan air dari kran yang sebelumnya juga digunakan Geovan untuk membilas lukanya. "Kamu kenapa Geo?" "Hah?" Chima mendekati Geovan dan menatap lekat wajah kawannya itu. "Enggak sih, kamu kelihatan kayak baru saja ketemu sesuatu yang membingungkan." Geovan mengangguk kecil. "Ya, memang." "Hah? Pembunuh itu kembali dan mengejarmu sampai ke sini?" Seru Chima panik Geovan buru-buru membekap mulut gadis mungil itu sebelum suaranya didengar oleh murid-murid lain yang kebetulan berada di sekitar lapangan tenis. "Jangan keras-keras, Chima." Ucap Geovan kesal. Chima melepaskan bekapan Geovan. "Iya, iya, maaf. Aku panik karena kamu ngomong gitu. Jadi, kamu ketemu siapa?" "Kak Perry." Chima mengernyit. "Kak Perry?" "Perry Diaz, yang jadi pemimpin kelompok kita pas masa orientasi bareng Kak Sandra." Chima mengangguk. Jujur saja, ia sendiri terkejut karena lupa dengan seseorang yang telah membelanya bersama Sandra Widya di hari orientasi waktu itu. "Wah, aku terkejut karena melupakan orang yang seharusnya kuingat sama besar seperti aku mengingat Kak Sandra." "Benar, kebetulan aku juga lupa sama dia. Kita bahkan nggak pernah ketemu sama dia atau setidaknya berpapasan ketika di sekolah setelah masa orientasi berakhir 'kan?" Chima mengangguk. Benar juga, ia baru sadar tentang hal tersebut karena Geovan mengatakannya. Chima biasanya tidak mudah melupakan seseorang, apalagi jika orang tersebut cukup memiliki peran dalam kehidupannya meski dalam waktu yang singkat. Perry Diaz cukup berjasa dalam hidup Chima di masa orientasi. Mungkin untuk beberapa orang hal yang dilakukan Perry Diaz bukan sesuatu yang cukup istimewa, namun Chima selalu menghargai bantuan orang lain apapun bentuknya. Perry Diaz telah membantunya, dan bagaimana bisa ia lupa dengan kakak kelasnya itu? "Ngomong-ngomong, untuk apa Kak Perry menemuimu?" Geovan mengangkat bahu kemudian menggeleng. "Jujur saja aku juga nggak paham. Dia tiba-tiba datang ketika aku sedang membasuh luka, lalu mengatakan hal-hal aneh dan berputar-putar." "Apa maksudmu?" "Tentang apa yang terjadi sama Kak Julian pagi tadi. Kak Perry tiba-tiba datang dan menanyakan mengapa aku menolong Kak Julian. Bukankah pertanyaannya aneh? Untuk apa aku menolong? Memangnya ada alasan untuk menolong orang lain. Aku juga tidak ingin Kak Julian meninggal karena bunuh diri. Bahkan meski aku bukan teman dekat Kak Julian pun, pasti aku merasa bersalah kalau membiarkan Kak Julian tewas begitu saja. Terlebih, dalam beberapa hari terakhir kita selalu berusaha membuatnya bicara padahal Kak Julian tampak benar-benar enggan untuk mengatakannya." Chima melongo mendengar apa yang dikatakan oleh Geovan. "Tunggu, Kak Perry datang menemuimu hanya untuk mengatakan hal itu? Sungguh?" Geovan mengangguk dan ber-hum pelan. Jangankan Chima yang tidak mengalami langsung, bahkan Geovan yang mengalaminya langsung saja masih tidak mengerti mengapa Perry Diaz melakukan itu. Apakah hanya iseng belaka? Atau sekadar kebetulan? Entahlah, Geovan tidak lagi percaya dengan kebetulan setelah banyaknya kejadian buruk yang ia alami pasca masuk dalam urusan kematian Sandra Widya. "Chima, kamu sadar nggak sih kalau Kak Perry nggak ada beritanya sama sekali di forum jurnalistik?" Chima mengusap dagunya. "Aku baru sadar karena kamu bilang ini. Selama àib pengurus OSIS muncul di forum jurnalistik, aku selalu melihat semuanya. Aku tahu semua anggota OSIS bahkan meski mereka bukan pejabat inti juga muncul di forum. Intinya, semua yang terdaftar sebagai anggota OSIS sama-sama dipermalukan, namun nama Kak Perry tidak pernah muncul. Kira-kira kenapa ya?" "Sayang sekali aku nggak tahu. Kak Perry mengatakan jika dia ingin menyampaikan sesuatu padaku, tapi dia juga tidak bilang kapan akan menyampaikan hal tersebut." "Menyampaikan sesuatu?" Geovan mengangguk. "Aku juga nggak yakin apa yang dikatakan oleh Kak Perry itu benar atau enggak. Kamu tahu, Kak Perry itu bertingkah seperti orang linglung." Chima mendekat dan membantu Geovan menempelkan plester luka di beberapa bagian wajahnya yang tergores. Keduanya kemudian kembali ke kelas setelah keadaan lebih tenang. Masing-masing dari mereka sama-sama mengharapkan kabar baik datang dari Julian Purnomo. Memang kemungkinannya sangat tipis untuk bertahan setelah jatuh dari atap menghantam paving seperti itu, namun tak ada salahnya untuk mencoba bukan? Geovan dan Chima sebenarnya sama-sama bukan tipe orang yang menggantungkan harapan pada sesuatu yang tidak pasti, namun untuk kali ini saja mereka berharap demikian. O||O Perry Diaz mungkin beruntung, atau lebih sial. Entahlah, ia tidak bisa memastikan bagaimana dirinya sekarang. Perry Diaz hanya salah satu bagian dari divisi OSIS. Sejak SMP, dia memang selalu berpartisipasi dalam OSIS meski tidak pernah mendapatkan jabatan yang tinggi dan berhenti hanya pada anggota, namun nyatanya Perry Diaz tetap menyukainya. Baginya, asalkan bisa lolos masuk sebagai anggota OSIS sudah sangat cukup untuknya. Perry Diaz tidak pernah sekalipun berpikir bahwa masuk sebagai anggota OSIS hanya untuk membuatnya menjadi terkenal, melainkan karena ia memang suka berorganisasi. Dengan mengikuti OSIS, Perry merasa bisa lebih tahu bagaimana caranya membagi waktu dan menyampaikan pendapat dengan baik. Ada banyak alasan di dalam pikiran Perry, namun yang jelas pemuda itu tidak memiliki niatan buruk sama sekali dengan bergabung sebagai anggota OSIS. Ketika lolos tes masuk ke SMA Utama, Perry Diaz merasa sangat senang. SMA Utama terkenal berisi anak-anak kaya dan pintar. Sekolah itu selalu banyak menjuarai lomba baik nasional maupun internasional. Perry Diaz juga mendengar bahwa OSIS di SMA Utama dipilih dengan sangat ketat karena menyangkut nama baik sekolah dan juga sebagai teladan murid-murid lain. Perry Diaz percaya bahwa organisasi yang diatur dengan sangat ketat seperti itu pastilah memiliki banyak hal yang bisa dipelajari. Ada banyak ekstrakurikuler di SMA Utama yang begitu keren dan diminati banyak murid-muridnya. Intinya, lolos sebagai murid SMA Utama adalah hal yang sangat membanggakan untuk Perry Diaz. Tidak seperti kebanyakan kawan-kawannya, Perry Diaz bukan berasal dari keluarga kaya raya. Keluarganya biasa saja, namun ia tidak minder dengan hal itu. Sekolah bukan untuk ajang pamer kekayaan melainkan untuk belajar. Lagipula, mereka hanya anak-anak kaya, yang mana harta itu adalah milik orang tua mereka bukan milik mereka sendiri. Jadi untuk apa mider dengan harta kekayaan orang tua kawan-kawannya. Ia sendiri cukup beruntung karena memiliki mental yang cukup kuat untuk mengabaikan hal-hal yang sekiranya mengganggu. Sebagai seorang laki-laki, pantang baginya mengeluh hanya karena hal-hal sepele seperti itu. Perry Diaz lolos menjadi anggota OSIS di tahun pertama. Menurut yang ia dengar, sangat jarang murid tahun pertama yang lolos dalam seleksi OSIS, sehingga jumlahnya pun sedikit. Kebanyakan dari mereka adalah tahun kedua dan ketiga. Seperti yang Perry harapkan, OSIS memiliki banyak kegiatan yang baik dan membuatnya banyak belajar. Perry merasa beruntung dan juga lega karena setiap tahun dan pergantian pengurus baru, Perry selalu kembali lolos seleksi hingga di tahun ketiga. Perry kira, segalanya akan berjalan normal hingga ia lulus, namun sepertinya tidak demikian. Ia baru saja resmi menjadi murid tahun ketiga dan menyelesaikan seleksinya sebagai pengurus OSIS. Program yang paling dekat akan dilakukan adalah orientasi murid baru. Kegiatan itu jelas sangat menarik atensi dan minat kakak kelas. Perry yakin di sekolah manapun seperti itu. Ada banyak aspek yang membuat kegiatan itu menarik, dari hal yang memang penting hingga hal-hal sepele semacam mencari gebetan baru dari adik-adik kelas yang tampak polos. Di tahun-tahun sebelumnya, Perry selalu melakukan kegiatannya dengan lancar. Ia memang tidak pernah memiliki jabatan tinggi karena bagian itu selalu dikuasai oleh murid-murid beken yang memiliki backing kuat. Perry tidak masalah. Selama mereka bekerja dengan semestinya, ia tidak akan protes. Sayangnya, kegiatan orientasi murid baru kali ini memiliki banyak masalah internal. Perry sadar sepenuhnya bahwa susunan pengurus inti OSIS tahun ini cukup kacau. Mereka tidak kompeten seperti pengurus sebelumnya. Ketua, wakil, sekretaris, bendahara, dan ketua divisi internal maupun eksternal tidak memiliki keahlian yang mumpuni. Tentu Perry tahu karena mereka semua satu angkatan. Mereka hanya menang di kuasa. Perry juga tahu bagaimana sifat dan sikap mereka. Pengurus tahun lalu sama-sama memutuskan hengkang dengan alasan ingin fokus belajar di tahun ketiga. Mereka juga tidak ingin berurusan dengan OSIS lagi karena beberapa sebab yang tidak ingin diungkapkan secara publik. Tetapi semua pengurus OSIS lama bahkan mungkin beberapa murid non OSIS sudah menebak apa yang terjadi. Perry kira, semua akan kembali baik-baik saja, namun ternyata semua berlalu dengan cukup buruk. Apa yang terjadi pada masa orientasi murid baru tidak pernah ia pikirkan sebelumnya, dan lebih buruk karena semua ini merambat menjadi hal yang lebih buruk dan menyangkut nyawa seseorang. Perry mondar-mandir di dalam kamarnya dengan pikiran mengawang-awang. "Apakah keputusan yang tepat dengan berbicara kepada Geovan?" Gumam Perry pelan. Ia menghela napas berkali-kali. Apa yang terjadi kepada Sandra Widya, juga yang terjadi kepada Julian Purnomo bukan hal yang tidak ia ketahui. Sungguh, selama ini Perry menghindari interaksi dengan siapapun karena ia memang ingin membuat dirinya tidak dilihat orang lain. Perry Diaz tahu banyak hal, dan karena ketahuannya itulah dia tidak ingin menarik perhatian. Rasanya, masa sekolah di tahun terakhir ini benar-benar membebani mental Perry dalam berbagai aspek. Ia yang sebelumnya sangat menyukai apapun di SMA Utama benar-benar ingin waktu segera berlalu dan ia segera lulus. Setidaknya, dengan keluar dari SMA Utama, ia akan bebas dari semua beban apa yang ia ketahui dalam setiap masalah ini. Perry Diaz ingin melupakan segalanya dan menyusun kehidupan baru dengan melupakan semua masa lalunya yang tidak baik-baik saja di tahun terakhir SMA. "Tapi aku merasa terbebani jika tidak mengatakan kebenarannya." Perry Diaz jatuh terduduk sembari memegangi kepalanya. Ia benar-benar berada di dalam dilema berat yang menekan jiwa dan raganya. O||O
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN