Dua Tahun Silam -14

1030 Kata
Geovan memberontak dengan keras. Ia dengan gerakan cepat mendorong pergelangan tangan laki-laki yang duduk di atasnya dengan menodongkan pisau. Gerakan tersebut cukup efektif karena laki-laki itu langsung kehilangan keseimbangannya dan pisau yang dipegang terlempar agak jauh. Sayangnya, akibat dari gerakan memaksa tersebut, ujung pisau yang dipegang oleh laki-laki itu menggores batang hidung Geovan. Geovan bisa merasakan sengatan rasa perih di hidungnya, namun ia tidak begitu memikirkan hal tersebut karena kesempatan itu langsung ia gunakan untuk mendorong tubuh laki-laki itu. Geovan segera bangun dan menendang orang yang menahan tubuh Chima kemudian menarik pergelangan gadis mungil itu dan memaksanya berdiri. "Ayo pergi!" Seru Geovan terburu. Ia berlari sembari menarik lengan Chima yang agak oleng karena ditarik dengan tiba-tiba. Geovan tidak menengok ke belakang dan fokus berlari begitu saja. Mereka harus menjauh dari tempat sepi dan berada di tempat-tempat yang memiliki banyak orang untuk memastikan keselamatan keduanya. Napas Geovan tersengal-sengal. Ia jatuh terduduk dengan dadà naik turun ketika keduanya sudah berada di koridor sekolah. Beberapa orang memandangi mereka dengan tatapan bingung, namun Chima dan Geovan tidak ambil pusing dengan hal tersebut dan memilih duduk di lantai, bersandar pada dinding sembari meraup oksigen dengan rakus. Hampir saja. Mereka benar-benar nyaris mati. Geovan tidak tahu mana yang lebih gilà, gagal menyelamatkan Julian dari upaya bunuh dirinya, atau nyaris mati oleh pembunuh yang sama. Rasanya, sejak Geovan masuk sebagai murid SMA Utama, segala kejadian yang ia alami tidak pernah keluar dari lingkup hal-hal berbahaya. Apakah ini karma karena kelakuan bandelnya di masa lalu? Atau Geovan hanya tidak beruntung saja. Entahlah, Geovan bahkan tidak bisa memastikan hal itu. Chima menepuk-nepuk dadanya. "Kita masih selamat." Ucapnya lega. "Yeah, setidaknya untuk saat ini. Gilà, orang-orang itu selalu berada di tempat dan waktu yang sangat pas untuk membunuh kita." Geovan berusaha berdiri meski kakinya terasa nyeri. Ia mengulurkan telapak tangannya kepada Chima dan membantu gadis itu untuk bangun dari posisi duduknya. "Apalagi yang harus kita lakukan?" Tanya Chima. Geovan menghela napas. "Mau nggak mau, kita tetap harus mengungkap segalanya atau kita mati sia-sia." "Tapi bukankan orang yang berusaha membunuh kita mengatakan bahwa kita seharusnya menjauhi kasus ini?" Geovan terkekeh pelan. "Apa kamu yakin kehidupan kita bakalan kembali seperti sedia kala hanya dengan mengikuti apa yang dikatakan olehnya? Kita bahkan enggak bisa menjamin sama sekali mereka tetap akan mengejar-ngejar kita atau enggak. Ingat ya, berhenti atau tidak, kita tetap orang-orang yang tahu kejanggalan dari semua kasus ini. Bisa jadi dengan menyuruh kita untuk berhenti, orang-orang itu hendak membuat kita tetap diam. Mereka akan perlahan-lahan mengambil kesempatan untuk membunuh kita di saat kita lengah karena berpikir sudah tidak lagi memiliki urusan dengan mereka." Chima menggaruk kepalanya. "Perkiraanmu selalu sangat jauh Geo." "Dalam bertindak, kita harus memperkirakan segalanya dengan baik. Seandainya kamu berpikir kayak aku sejak awal, aku jamin hal ini nggak pernah terjadi sama kita." Chima mengerucutkan bibirnya. "Aku minta maaf." "Udah, nggak ada gunanya juga kamu minta maaf. Saat ini, kita hanya bisa bertahan hidup sampai orang-orang itu terungkap sebagai dalang dari kematian Sandra Widya." Geovan dan Chima tidak berani untuk pergi ke toilet di situasi saat ini. Pakaian mereka kotor karena debu karena pergulatan sebelumnya. Beberapa bagian wajah Chima dan Geovan juga tampak kusam karena keringat dan debu yang bercampur menjadi satu. Belum lagi, bagian hidung Geovan dan tangannya juga berdarah karena tergores pisau. "Chima, aku ke kran air di dekat lapangan tenis dulu untuk membasuh bekas darah ini." Chima mengangguk. "Mau aku belikan plester di apotek sekolah?" "Hm.... Boleh deh. Jangan lama-lama." Chima mendengus. "Iya, iya." Geovan masih memandang kepergian Chima sampai gadis mungil itu berbelok untuk menuju apotek sekolah. Geovan kemudian segera menuju ke kran air di dekat lapangan tenis untuk membersihkan lukanya. Seperti yang ia duga, jam pelajaran menjadi terganggu karena insiden Julian Purnomo yang menggemparkan sekolah. Memang tidak seharusnya terjadi, namun pihak sekolah selalu sibuk mengurus persoalan tersebut karena banyak faktor. Seandainya SMA Utama tidak diisi oleh anak-anak kaya raya melainkan murid-murid biasa saja seperti sekolah Geovan sebelum-sebelumnya, ia yakin sekali insiden bunuh diri seperti ini pun tidak akan terlalu membuat dewan guru pusing mengurusinya. Selain berisi anak-anak kaya, reputasi SMA Utama selalu bagus sejak dahulu. Sayangnya, setelah kegiatan orientasi angkatan Geovan yang kemudian memicu seluruh keributan hingga insiden bunuh diri Julian Purnomo hari ini, SMA Utama mengalami penurunan kepercayaan ekstrem dari masyarakat. Orang-orang yang selalu meninggikan reputasi lebih dari apapun jelas kalang kabut berusaha memperbaiki semuanya. Geovan mengaduh pelan ketika dinginnya air menyentuh luka sayat di batang hidungnya. Luka di bagian itu memang tidak terlalu dalam, namun tetap saja terasa sakit. Bagian wajah selalu memberikan sensasi tersiksa yang lebih besar ketika terluka dibanding dengan dengan bagian tubuh lainnya. Geovan selalu menyelamatkan mukanya terlebih dahulu ketika berkelahi sejak dulu, selain karena menjaga penampilan, ya karena rasa sakitnya yang terasa dua kali lipat lebih menyakitkan. Geovan menghela napas. "Kapan ya aku bisa menghabiskan waktu SMA dengan tenang." Gumam Geovan kepada dirinya sendiri. "Geovan!" Geovan menoleh dan mengernyit bingung ketika melihat Perry Diaz berdiri di hadapannya dengan ekspresi kikuk. Perry Diaz adalah rekan Sandra Widya dalam memimpin kelompok Geovan selama masa orientasi. Kalau dipikir-pikir, Geovan baru sadar bahwa ia tidak pernah bertemu lagi dengan Perry Diaz setelah kegiatan orientasi selesai. Bahkan hanya berpapasan di sekolah pun tidak pernah. "Oh, Kak Perry. Lama nggak ketemu Kak." Ucap Geovan berusaha ramah. Wajah Perry tampai tidak tenang, dan Geovan ikut bingung dengan kelakuan tersebut. Memangnya ada masalah apa dengan Perry Diaz sampai ia harus memasang wajah seperti itu? Masalah lainnya, mengapa Perry Diaz tiba-tiba datang padanya? "Kak? Kak Perry? Oi!" Perry mengerjap pelan. "Ah, eh iya?" "Kak Perry ada perlu apa sama aku? Ada yang bisa kubantu mungkin?" Perry Diaz memainkan jemarinya sendiri sembari menunduk. Geovan semakin tidak sabar melihatnya. Apa yang diinginkan kakak kelasnya ini sampai-sampai harus seperti itu? Rasanya melihat Perry Diaz sekarang benar-benar berbeda dengan Perry Diaz yang ia lihat selama masa orientasi. Perry Diaz bersikap cukup tegas dalam membela kelompoknya meski tidak seberani Sandra Widya. Pemuda itu kukuh bahwa anggota kelompoknya tidak boleh ada yang dihukum dengan alasan yang tidak jelas. Di malam keakraban itu juga, Perry Diaz berusaha melindungi kelompoknya. Kalau dipikir-pikir lagi, Geovan sama sekali tidak melihat àib Perry Diaz di forum jurnalistik sekolah. Bukankah dia juga pengurus OSIS? Lantas bagaimana bisa dia lolos? O||O
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN