Bab 5 Pernikahan

1493 Kata
Nadia sedang dirias di kamarnya, hari ini adalah hari pernikahannya dengan David. Nadia selama ini tidak membayangkan bahwa dirinya akan menikah dengan orang yang tidak dia cintai bahkan diapun tidak mengenalnya. Hari pernikahan yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia bagi pengantinya, tetapi tidak dengan Nadia. Entah setelah pernikahan ini hidupnya akan bahagia atau tidak tetapi Nadia tidak mampu menolak pernikahan ini. Pernikahan diadakan di mansion David dan hanya dihadiri beberapa orang kepercayaan David. Tidak ada pesta pernikahan hanya ada ijab kobul saja, pernikahannya pun disembunyikan dari publik. David melafalkan kalimat qabul dalam satu kali nafas dan para saksi langsung mengatakan SAH. Setelah ijab qobul berjalan dengan lancar mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Nadia mencium punggung tangan David lalu David mencium kening Nadia. David dan Nadia lalu melakukan beberapa sesi foto, setelah semuanya selesai Nadia kembali ke dalam kamarnya. Semuanya terasa seperti mimpi bagi Nadia, dalam sekejap dia telah menjadi seorang istri dari laki-laki yang baru dia kenal kurang dari satu bulan. Nadia melepaskan pakaian pengantinya dan menghapus make upnya. Meski hanya melangsungkan ijab qobul entah mengapa Nadia merasa sangat lelah, dia pun tertidur di sofa yang ada di kamarnya. Meskipun hari ini Nadia dan David telah resmi menjadi suami istri tidak ada kamar pengantin yang sebagai mestinya. Bahkan mereka tetap tidur di kamar masing-masing, sebelum menikah David telah mengatakan bahwa dia tidak ingin satu kamar dengan Nadia. Hal itu malah membuat Nadia merasa tenang. Nadia tidak mengharapkan hubungan suami istri yang harmonis dia hanya ingin hidup tenang, dia tak peduli jika suaminya tidak menganggapnya sebagai istri karena Nadia tidak mencintainya. Sore hari Nadia sedang berada di dalam kamarnya, David tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam kamarnya. Nadia yang melihat David masuk langsung bangkit dari duduknya. "Kau pikir kau nyonya di rumah ini," ejek David. "Ikut aku." David langsung menarik tangan Nadia. David membawa Nadia ke dapur disana sudah ada dua asisten rumah tangga dan bodyguard yang telah berkumpul. Di mansion itu hanya ada orang-orang kepercayaan David saja, karena Mansion itu tempat persembunyian David. Tidak semua anak buah David tahu tentang mansion itu. "Mulai saat ini apa yang aku makan dan aku minum hanya Nadia yang boleh menyiapkan kalian dilarang membantunya, bahkan piring gelas bekas aku hanya Nadia yang boleh mencucinya dan apapun yang aku perintahkan ke Nadia tidak ada yang boleh membantunya. Jika kalian ketahuan membantu Nadia maka akan aku pecat!!" Gumam David dengan lantangnya, Nadia yang berada di sebelah David hanya menunduk tak berani bersuara ataupun menatap David. "Makan malam jam 7 malam dan sarapan jam 7 pagi. Tidak boleh telat sedetikpun, untuk makan siang aku jarang makan di rumah tapi jika aku di rumah kau harus menyiapkannya!" perintah David yang lalu pergi dari dapur. Nadia yang melihat jam dinding telah menunjukan pukul 17.00 wib dia langsung membuka isi kulkas dan memasak untuk David. "Bu maaf mau nanya, Tuan tadi itu ada alergi engga?" tanya Nadia kepada Bi Ima. "Engga Non," jawab Bi Ima. "Bu kan udah dibilang jangan panggil Non, panggil Nadia aja." "Eh iya ibu lupa Nak Nadia," ujar Bi Ima. "Oh iya Nak David itu nggak suka kalau melihat makanan terlalu banyak, jadi masaknya jangan macem-macem Nak. 2 atau 3 macam saja sudah cukup." "Oh gitu ya bu." "Iya Nak, Nak David nggak suka membuang-buang makanan. Dulu ada koki yang memasak banyak untuk Nak David, koki itu fikir agar Nak David bisa memilih makanan yang dia mau. Tetapi Nak David malahan marah besar karena itu sama saja membuang-buang makanan." "Ouh ok deh bu, aku masaknya jadi sedikit aja ya." Nadia yang melihat udang di dalam kulkas langsung terpikir untuk memasak udang saus pedas. Nadia lalu mengupas udangnya terlebih dahulu dan membersihkanya, dia kemudian memberikan sedikit jeruk nipis agar udangnya lebih wangi. Nadia menumis bawang putih bawang merah dan bawang bombay yang sebelumnya telah dia potong. Nadia lalu memasukan saus, daun jeruk, garam, merica, kecap dan memberi sedikit air agar tidak terlalu matang. "Hm andai aku memasak ini untuk kak David pasti dia seneng, aku masih ingat perkataan bunda yang bilang kalau kak David suka sekali udang saus pedas. Bahkan dulu setelah aku mengetahuinya aku langsung belajar membuatnya tetapi aku belum pernah memasaknya untuk kak David," gumam Nadia yang didengar David, sudah 5 menit David berdiri di dapur melihat Nadia memasak. "Dan hari ini aku memasaknya untuk David suamiku, namanya memang sama tapi sikapnya sungguh berbeda." "Kak David dimana ya? Hmm dimanapun itu semoga kakak selalu bahagia." Mendengar perkataan Nadia membuat d**a David merasa sesak. Dia langsung memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Selain memasak udang saus pedas Nadia juga memasak ayam saus pedas dan tak lupa pula Nadia membuat tempe goreng. Karena baginya makan tanpa tempe goreng itu kurang nikmat. "Aku nggak tau Tuan David suka atau tidak yang penting aku udah usaha." Setelah semuanya selesai Nadia menyiapkannya di meja makan, tak lama David pun turun dan duduk di meja makan. Nadia langsung mengambilkan nasi untuk David. "Tuan mau udang atau ayam?" tanya Nadia. "Semuanya," jawab David singkat. Setelah mengambilkan makanan untuk David Nadia kembali ke dapur, sambil menunggu David selesai makan Nadia pun makan di dapur. Lima belas menit kemudian Nadia kembali ke ruang makan dan bertepatan David telah selesai makan. David langsung kembali ke dalam kamarnya, Nadia menuju meja makan dan melihat semua makanan telah habis tanpa tersisa sedikitpun. "Laper apa doyan?" ujar Nadia sambil menggeleng-geleng kepalanya. Nadia lalu membawa piring kotor itu ke dapur untuk mencucinya. Setelah semuanya selesai Nadia lalu kembali ke dalam kamarnya di tangga Nadia berpapasan dengan David, Nadia tidak berani menatap David dia berjalan sambil menunduk. Nadia merasakan bahwa David menatapnya dengan sangat tajam. Nadia mempercepat langkahnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Baru saja Nadia duduk, pintu kamarnya ada yang membuka itu membuat Dia kaget dan ternyata Davidlah yang masuk. Nadia langsung waspada terhadap David, tatapanya membuat bulu kuduk Nadia berdiri. Hawa dingin langsung menyelimuti kamar itu, aura David sangat kuat memenuhi kamar itu. "Minggu depan kau mulai kuliah," ujar David. Nadia yang mendengarnya tidak percaya jika David mengijinkanya untuk kuliah. "Benarkah Tuan?" tanya Nadia dengan mata yang berbinar. "Hem, tapi jangan berusaha untuk kabur dariku. Jika kau bertingkah yang membuatku marah maka kau akan tau akibatnya!" gertak David. "I-iya." Nadia semakin ngeri dengan David dia menundukan kepalanya tidak berani menatap David. David lalu keluar dari kamar Nadia, Nadia langsung menghempuskan nafas dengan lega. "Syukurlah Tuan itu mengijinkan aku untuk kuliah, hmm mungkin dia tidak sejahat yang aku bayangkan," ujar Nadia sendiri. Nadia hanya duduk termenung di kamarnya, dia bingung mau melakukan apa. Ponselnya pun di sita oleh David, Nadia yang bosan keluar dari kamar. Dia menuju kolam renang dan duduk di ayunan dekat kolam renang. "Nona belum tidur?" Nadia langsung menoleh ke sumber suara. "Eh kak Rio, belumlah kak baru juga jam 8," jawab Nadia. "Jam 8 lewat 50 menit," ujar Rio sambil menengok jam tanganya. "Ya yang penting jam 8 kan," ujar Nadia sambil terkekeh. "Duduk sih kak," pinta Nadia. "Engga ah nanti ada yang cemburu." "Siapa? Pacar kakak?" "Suami Anda Nona." "Engga mungkinlah, kak manggilnya Nadia aja." "Anda itu atasan Saya, tidak sopan kalau saya memanggil Anda hanya nama saja." "Aku bukan atasan kak Rio, posisi aku di rumah ini cuman pelayan kak," tutur Nadia dengan jujur. "Anda itu istri Tuan David, maka Anda nyonya di rumah ini." "Ihhh sudahlah panggil saja Nadia titik, ini perintah." Gumam Nadia dengan menatap Rio. "Hmm baiklah." Gumam Rio yang membuat Dia tersenyum. "Kak David udah lama kerja disini?" tanya Nadia sambil menoleh kearah David. "Aku dibesarkan disini, ibuku itu Bi Ima dia sudah bekerja disini sejak Papa David masih hidup. Lalu setelah Papanya meninggal Om Da_" David hampir saja keceplosan menyebut nama Daniel. "Eghem terus omnya David membiayai pendidikanku sebelum ibunya meninggal dia menitip pesan kepadaku untuk menjaga kedua anaknya," tutur Rio. "Dia pasti sangat menyanyangi anak-anaknya itu ya," ujar Nadia. "Iya aku rasa juga begitu." "Tapi kenapa kakak bekerja disini bukan di tempat Omnya itu untuk melindungi anak-anaknya." "Kedua anaknya yang dia maksud adalah David dan satu putrinya," jelas Rio. "Nadia masuk gih, kalau kelamaan ngobrol berdua nanti ada yang kebakaran," tutur Rio "Hah? Maksud kakak?" tanya Nadia yang tak mengerti perkataan Rio. "Iya kebakar api cemburu, noh liat ke balkon tatapnya seperti ingin membunuhku." Nadia langsung melihat ke arah balkon yang ternyata ada David yang sedang menatap mereka, tatapan sangat tajam dan seakan-akan ingin memakanya hidup hidup. Nadia langsung bergidik ngeri melihatnya, dia memalingkan wajahnya tidak berani menatap David lagi. "Kulkas sepuluh pintu itu memang serem ya kak kalau natap?" tanya Nadia yang membuat Rio langsung tertawa mendengarnya. "Apa kau bilang kulkas sepuluh pintu? Kau ini mengatai suami sendiri ya?" tanya Rio sambil terkekeh. "Aku tidak mengatainya tapi itu kenyataan, dia seperti kulkas sepuluh pintu. Kalau didekat dia langsung terasa hawa dingin," terang Nadia sambil bergidik ngeri. "Sudah-sudah kamu masuk sebelum kamu dimakan olehnya." "Ok ok aku masuk ya kak, selamat malam kakak ganteng," goda Nadia. "Malam juga Nadia," balas Rio sambil terkekeh Rio memandang kepergian Nadia. Dia lalu menatap kearah David sebelum pergi dari tempat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN