"Jingga … Jingga …" seraya mengetuk pintu kamar Jingga dan Senja, Jihan berseru. Ia tidak sabar untuk membawa adiknya itu ke tempat Rendra. Semakin cepat Jingga hamil, semakin cepat pula bisa bertemu dengan Syakila. Alih-alih terbangun karena panggilan Jihan, Jingga malah semakin merapatkan tubuhnya pada Senja. Ia tidak ingin beranjak sedikitpun dari pelukan suaminya itu. "Apalagi yang diinginkan oleh wanita itu?" Senja yang ikut terusik, melepaskan diri secara perlahan dari Jingga. Meraih pakaiannya dan mengenakannya. Ia langsung menemui Jihan, yang seenaknya saja mengganggu tidurnya dan Jingga. Padahal matahari saja masih belum terbit. "Apa yang membuatmu berisik subuh-subuh buta seperti sekarang?" Rahang Senja mengeras. Jihan mengulas senyum. Ia langsung memeluk Senja dengan beg

