Perubahan Rencana

1555 Kata

Nyaris saja Septi berteriak histeris memanggil Jingga, saat melihat Senja dengan wajah dipenuhi oleh luka memar. Bukan hanya itu, masih ada darah segar yang terlihat di pelipis dan sudut bibir pria itu. Senja membawa jari telunjuknya ke depan bibir. Meminta Septi untuk diam agar Jingga yang sedang menonton televisi tidak terkejut. Septi meringis. Membayangkan betapa sakit dan perihnya luka memar di wajah Senja. "Sayang … maukah kamu mengobati lukaku?" lirih Senja. Seraya duduk di samping Jingga dan merebahkan tubuhnya. Menjadikan kedua paha istrinya itu menjadi bantal yang begitu empuk. "Eh?" Jingga tersentak. Tiba-tiba saja Senja datang dan menjadikan pahanya sebagai bantal. "Astaga …, Kak! Apa yang terjadi?" pekik Jingga. Menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia begitu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN