Suara Lembut Jingga

1163 Kata
Suasana pantai yang indah di malam itu, membuat Senja dan Jihan mengenang kembali kebersamaan mereka di masa lalu. Duduk bersandar pada d**a bidang Senja, membuat Jihan merasa kebahagiaan berpihak kepadanya. Setelah sekian tahun lamanya, akhirnya ia kembali bisa menikmati kehangatan di dalam pelukan Senja. "Eja, kamu lihat ini. Putri kecil kita begitu sangat menggemaskan bukan?" Jihan memperlihatkan foto seorang gadis kecil yang ada di dalam ponselnya. Satu persatu foto itu di gulir dan ia zoom untuk melihat wajah gadis kecil itu dengan jelas. "Namanya Syakila, sesuai dengan yang kamu inginkan waktu itu. Memiliki seorang anak perempuan yang bernama Syakila." Senja tidak memberikan jawaban apapun kepada wanita yang kini setengah berbaring, memeluk tubuhnya. Mata pria itu terfokus pada foto gadis kecil, yang begitu sangat manis. Sangatlah mirip dengan Jihan. Hidungnya yang tidak terlalu mancung, serta matanya yang bulat dengan bulu mata yang sangatlah lentik. Jika di lihat-lihat gadis kecil tersebut sama sekali tidak mirip dengan Senja, ia mewarisi wajah sang ibu secara keseluruhan. "Kenapa dia tidak terlihat sepertiku?" tanya Senja. Sambil memandang lekat foto gadis kecil tersebut. Jihan mendongak, "Syakila perempuan, Eja. Jadi wajar saja dia lebih mirip denganku," Jihan mendekatkan wajahnya. "Apa kita lakukan lagi, agar kita bisa memiliki putra yang mirip denganmu?" "Kamu jangan gila, Jihan. Dengan bersamamu disini, merupakan kesalahan bagi kita berdua. Apa lagi memiliki anak. Cukup Syakila yang berasal dari kesalahan kita berdua. Jangan sampai ada Syakila yang lainnya." Jihan melepaskan pelukannya. "Jadi kamu menganggap kebersamaan kita sekarang ini suatu kesalahan?" "Kenyataannya begitu, Jihan. Kamu memiliki suami. Dan aku memiliki istri." "Nggak, Senja! Aku menikah dengan Doni hanya untuk menutupi aib kita. Karena tidak mungkin bagiku melahirkan Syakila tanpa seorang ayah. Pernikahanku terjadi juga karena ide bodoh istri kamu itu, Senja! Jikalau bukan karena idenya itu, pasti sekarang kita sudah hidup bahagia. Sedangkan pernikahanmu, terjadi karena Jingga telah berhasil merebut cintamu. Sehingga kalian berdua menikah. Iya, kan?" Buliran bening mulai menggenang di pelupuk mata wanita itu. "Kamu salah, Jihan," Senja kembali meraih Jihan kedalam pelukannya. "Aku tidak mencintainya. Aku menikah dengannya hanya semata-mata untuk membalaskan dendamku padamu. Karena kamu lebih memilih menikah dengan Doni, daripada menungguku pulang. "Aku menunggumu, Eja. Hanya saja, kehamilanku dan kehilangan kontak darimu, membuatku pasrah menerima lamaran Doni. Daripada anak kita terlahir sebagai anak haram. Hiks ,hiks, tolonglah mengerti. Jika kamu mau kembali kepadaku, maka aku akan menceraikan Doni. Begitupun sebaliknya, aku ingin kamu juga menceraikan Jingga. Sebelum kamu tergoda untuk menidurinya. Tentu saja akan lebih sulit bagimu lepas darinya, jika ada anak diantara kalian." Deg. Meniduri Jingga? Anak? Ya, Tuhan. Apa yang telah aku lakukan. Tentu saja akan ada anak di dalam rumah tangga kami, karena aku telah menidurinya. "Eja!" Jihan menepuk pipi Senja, yang terdiam. "Kamu belum sentuh dia kan? Kalau memang kamu tidak mencintainya, tentu saja kamu belum meniduri gadis itu. Karena untuk melakukannya, butuh cinta diantara kalian berdua. Sepertiku. Belum pernah sekalipun Doni meniduriku, bahkan menyentuhku." Senja terkesiap. "A-aku, belum menyentuh Jingga sama sekali. kami baru menikah kemarin siang. Mana mungkin aku melakukannya. Tubuhku begitu lelah mengurus ini dan itu," Senja memaksakan senyumannya. "Syukurlah kalau begitu. Jadi, kita bisa segera menikah, begitu masa Iddah aku selesai. Jadi, setelah dari sini, kita sama-sama mengajukan perceraian, ya. Agar, begitu masa iddah aku selesai, kita bisa langsung menikah." "Aku tidak setuju untuk itu." "Kenapa? Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" "Bukan begitu, Sayang!" Senja menangkup kedua pipi Jihan, "Aku tidak mungkin menceraikannya saat ini. Karena baru kemarin kami menikah. Aku akan menceraikannya, saat masa iddah kamu selesai. Agar dia bisa merasakan apa yang selama ini kita berdua rasakan." "Aku takut kamu menyentuhnya." "Tidak. Aku tidak akan pernah menyentuh gadis itu," Jihan memanfaatkan kedekatannya dengan Senja. Tanpa mampu mengelak, Senja hanya bisa pasrah dan membalas pagutan bibir Jihan. Sehingga mereka berdua terhanyut ke dalam hasrat seperti dulu. "Aku merindukan sentuhanmu, Eja. Sudah berapa tahun berlalu, aku belum pernah merasakannya lagi. Aku mohon …," mata bulat Jihan menatap sayu kepada Senja. Suhu dingin di malam itu, sangat mendukung mereka untuk mencari kehangatan. Meskipun ragu, Senja mengangguk pelan. Membuat Jihan segera membuka pakaian mereka berdua. Sesudah itu, kembali hanyut dalam pagutan panas bibir mereka berdua. Posisi Jihan yang berada di atas pangkuan Senja, memudahkan wanita itu untuk menguasai tubuh Senja. Ia juga meninggalkan sebuah tanda di ceruk leher Senja. Jihan sangatlah yakin, Jingga akan mundur saat melihat tanda itu berada di sana. Dinginnya angin malam yang menusuk ke dalam tulang, tidak bisa membawa Jingga masuk ke dalam kamar. Ia tetap berdiri di balkon rumah mewah Senja. Menatap langit mendung yang telah siap menurunkan hujan. Di mata gadis itu sangat terlihat luka yang begitu dalam. Baru saja, ia melihat story di media sosial Jihan. Kakak perempuannya itu duduk berdua dengan seorang pria. Di sebuah rumah pohon dengan latar pantai yang dihiasi oleh langit senja berwarna jingga. Di foto itu, Jihan tengah merangkul bahu pria, yang wajahnya tertutup oleh stiker berbentuk hati. Dengan caption Malapeh rindu samo nan tacinto (Melepas rindu dengan yang tercinta.) Kak aku tahu itu kamu. Meskipun wajahmu tertutup oleh sebuah stiker. Namun, aku sangatlah hafal dengan pakaian yang kamu gunakan. Pakaian yang tadi pagi aku siapkan lah untukmu. Kenapa kamu datang padanya tanpa memberitahu kepadaku. Buliran bening mengalir begitu saja di pipi Jingga. Seiring dengan turunnya hujan. Mengabaikan air yang membasahi tubuhnya, Jingga tetap bertahan disana. Menikmati setiap tetesan air yang turun membasahi wajah dan tubuhnya. Setidaknya, malam ini ia bisa menangis tanpa di ketahui oleh orang lain. Meratapi nasib buruk yang akan menimpa pernikahan yang baru saja berlangsung selama satu hari. ***** Jihan yang telah polos, semakin tidak sabar untuk mendapatkan kepuasan seperti dulu dari Senja. Terimakasih, Jingga. Kamu sudah mau melayaniku! Kenapa Kakak mengucapkan terima kasih? Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai istri Kakak. Kalau begitu, terima kasih telah menjaga kesucianmu untukku. Itu juga merupakan tanggung jawabku, untuk menjaga ini semua. Agar bisa memberikan yang terbaik untuk suamiku. Berjanjilah kepadaku, Kak. Kakak akan selalu menjaga kesucian pernikahan kita, seperti aku yang menjaga kesucianku untukmu. "Jingga," Senja melepaskan bibirnya dari kuasa Jihan. Mata tajam pria itu melihat ke sekeliling rumah pohon yang ia tempati dengan Jihan. Gema suara lembut Jingga terdengar jelas di telinganya. Jihan tertegun mendengar Senja menyebut nama Jingga. Buliran keringat juga terlihat membasahi dahi Senja. "Maafkan aku, Jihan. Aku tidak bisa!" Senja meraih long dress Jihan yang teronggok di lantai. Lalu menutupi dress tersebut ke tubuh polos Jihan, yang sedang duduk di atas pangkuannya. "Kenapa?" lirih Jihan. "Cukup di masa lalu saja kita berdosa. Jangan lagi menambah dosa, dengan mengkhianati tali suci pernikahan kita masing-masing." "Kamu menghinaku, Senja!" menatap nyalang kepada Senja, yang baru saja mengenakan kembali bajunya. "Aku tidak menghinamu, Sayang. Bersabarlah sedikit lagi, ya." "Ceraikan dia!" "Aku tidak akan menceraikan Jingga, sebelum masa iddah kamu selesai! Cepat lah berpakaian, aku akan menunggumu di bawah. Sambil mencari tiket pesawat untuk pulang." Mengabaikan Jihan, Senja telah turun dari rumah pohon. Pria itu langsung mencari tiket pesawat untuk mereka berdua. Namun, dengan maskapai penerbangan yang berada. Jingga? Lagi-lagi Jingga. Tidak seharusnya dia yang menjadi istri kamu, Eja. Kamu tahu, karena dia aku terluka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN