Seandainya tidak ada Senja yang menopang tubuhnya, belum tentu Jingga bisa berdiri di hadapan sang ayah. Sama-sama menanti kedatangan dokter yang akan mengantarkan hasil tes DNA antara ia dan Ryadi. Pertama kali bertemu dengan Ryadi, Jingga sangatlah terkejut. Tidak ada lagi tubuh kekar dan tegap. Kini hanya kulit pembalut tulang. Begitu kurus karena penyakit dan pikirannya yang selalu tertuju kepada Jihan. Memikirkan di mana keberadaan putri sulungnya itu. Semenjak sadar dari koma, Ryadi belum pernah dikunjungi oleh Jihan. Yang ada hanya Vera, yang setia mendampinginya. Melihat Vera yang tidak tahu apa yang terjadi dan di mana keberadaan Jihan, membuat Ryadi yakin putrinya berada dalam bahaya. "Selamat sore," sapa seorang wanita paruh baya. Didampingi dengan dua orang perawat di sisi

