Alasan Sesungguhnya

1103 Kata
Sani membuka pintu kosnya dengan tubuh lunglai dan mata sembab. Tangis yang ia tahan sepanjang perjalanan pulang tadi tak mampu menyembunyikan bekas luka di wajahnya—mata yang bengkak, langkah yang lesu, dan bahu yang seperti memikul beban dunia. Sani adalah seorang perantau di kota Jakarta ini. Ia berasal dari sebuah desa kecil di ujung pulau. Di desanya, tidak ada sekolah menengah atas, sehingga ia harus melanjutkan pendidikan ke kota ini—tempat di mana paman dan bibinya tinggal. Saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas, Sani tinggal bersama paman dan bibinya. Mereka telah banyak membantunya sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Namun, setelah lulus, Sani memutuskan untuk tinggal sendiri. Ia tidak ingin terus bergantung atau merepotkan keluarga yang selama ini sudah begitu baik padanya. Sebenarnya, Sani memiliki keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi—perguruan tinggi. Tapi apa daya, keterbatasan biaya memaksanya menunda mimpi itu. Ia memilih untuk langsung bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan sering kali mengirim uang ke desa. Kini, Sani bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran mewah berbintang lima. Meski pekerjaannya sering melelahkan, ia menjalaninya dengan penuh tanggung jawab. Setidaknya, ia masih bisa bertahan dan berdiri dengan kakinya sendiri di tengah kerasnya kehidupan kota besar. Sani merebahkan dirinya di atas kasur single bed-nya yang sempit. Tubuhnya terasa berat, seolah semua kesedihan hari ini menguras tenaga dan jiwanya sekaligus. Mata Sani lalu tertuju pada sebuah bingkai foto di atas meja kecil di samping kasur. Foto itu... dirinya dan Reno, tersenyum bahagia saat liburan beberapa bulan lalu. Saat semuanya masih terasa indah. Saat cinta masih terasa utuh. Air mata Sani kembali mengalir. Kali ini tanpa suara, tapi jauh lebih menyakitkan. Ia meraih bingkai foto itu dengan tangan gemetar, lalu memeluknya erat ke d**a—seolah dengan begitu ia bisa memeluk kenangan yang kini telah hancur. Reno Kusuma Jaya adalah orang yang telah mengisi hati Sani selama sepuluh tahun terakhir—dan mungkin, untuk selamanya. Mereka bersekolah di tempat yang sama dan mulai menjalin hubungan sejak duduk di bangku kelas XI. Hubungan itu tumbuh perlahan, dari kedekatan sebagai teman sekelas, menjadi sahabat, lalu berubah menjadi cinta yang tumbuh diam-diam namun kuat. Bagi Sani, Reno bukan sekadar pacar—ia adalah rumah, tempat Sani berbagi cerita, harapan, dan mimpi tentang masa depan. Tapi semua itu kini telah sirna. Cinta yang dulu terasa hangat, kini hanya tinggal bayangan. Dan Sani... kini hanya sendiri—ditemani sepi, kenangan, dan luka yang masih menganga. ***** Ketukan pelan di pintu kosnya membuat Sani terbangun dari tidur yang tidak benar-benar lelap. Ia mengerjapkan mata perlahan, tubuhnya masih dalam posisi memeluk erat bingkai foto yang sejak semalam tak ia lepaskan. Dada Sani terasa sesak ketika menyadari benda yang ia peluk—bukan bantal, bukan selimut—melainkan kenangan yang terus menahannya untuk bangkit. Suara ketukan kembali terdengar, kali ini sedikit lebih keras, membuyarkan lamunannya. Sani meletakkan bingkai foto itu kembali ke tempat semula, di atas meja kecil di samping kasurnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya yang masih berat, lalu beranjak perlahan menuju pintu. Dengan langkah ragu dan mata yang masih sembab, Sani membuka pintu kamar kosnya. Tatapan mata Sani bertemu dengan tatapan mata Lita—sahabatnya, Lita Santi Kirana. Wajah yang begitu familiar itu langsung memunculkan perasaan campur aduk di d**a Sani: lega, haru, dan perih yang nyaris tumpah lagi. Lita dan Sani telah bersahabat sejak masa sekolah menengah atas. Mereka tumbuh bersama, saling menopang dalam jatuh bangun kehidupan remaja hingga dewasa. Dan tentu saja, Lita mengenal Reno. Ia menyaksikan sendiri bagaimana kisah cinta itu dimulai dan tumbuh. Sani berusaha tersenyum, meskipun hanya setipis garis di bibirnya. “Ayo masuk, Lit,” ucapnya pelan sambil membuka pintu lebih lebar. “Tumben kamu nggak ngabarin dulu kalau mau ke sini. Gimana kalau aku lagi nggak di kos?” “San, ada sesuatu yang mau aku tunjukin dan aku kasih tahu ke kamu,” ucap Lita dengan nada serius. “Ini penting... dan aku juga baru tahu soal ini.” Sani menatap Lita dengan alis sedikit berkerut, penasaran. “Kamu mau kasih tahu apa, Lit? Kamu bikin aku penasaran,” ujarnya sambil mencoba tersenyum, meski hatinya masih belum tenang. “Kamu masih ingat Aan, kan?” tanya Lita sambil menatap Sani serius. “Sepupuku itu, yang dulu sering main sama kita. Sekarang dia jadi fotografer.” “Iya, aku masih ingat," jawab Sani sambil mengangguk pelan. “Aan kenapa? Dia sakit atau ada masalah sama kerjaannya?” “Bukan,” jawab Lita lirih, nyaris seperti bisikan. “Tapi... Aan jadi fotografer prewedding-nya Reno sama Putri.” Kalimat itu meluncur pelan dari bibir Lita, namun terasa seperti petir yang menyambar telinga dan hati Sani. Sani menatap Lita dengan mata membelalak, suaranya mulai bergetar. “Kamu bohong, kan, Lit?” ucapnya lirih, berusaha menepis kenyataan yang baru saja ia dengar. “Reno baru mutusin hubungan sama aku tadi malam… masa iya dia foto prewedding sama Putri?” Kepala Sani menggeleng perlahan, menolak untuk percaya. “Pasti Aan salah orang. Aku yakin... Aan pasti salah.” Tanpa berkata apa-apa lagi, Lita merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia membuka galeri, lalu menyerahkan layar itu kepada Sani. Di sana, terpampang jelas foto Reno dan Putri. Mereka tampak serasi mengenakan baju couple berwarna senada—tertawa, saling menatap, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Latar belakangnya sebuah bukit kecil dengan aliran sungai jernih yang membelah keheningan, menambah kesan romantis dalam setiap jepretan. Sani menatap layar itu dengan mata membeku. Tak ada suara, hanya d**a yang terasa sesak dan tangan yang perlahan gemetar. “Awalnya aku juga nggak percaya sama apa yang dibilang Aan,” ujar Lita pelan, matanya ikut menatap layar ponsel yang kini digenggam Sani. “Tapi setelah dia tunjukin foto ini… aku nggak bisa sangkal lagi.” “Jadi selama ini... Reno selingkuh sama Putri?” Suara Sani lirih, nyaris tak terdengar. “Dia bilang ke aku kalau dia udah nggak cocok sama hubungan kita... ternyata alasan sebenarnya ini…” Air mata yang sejak tadi Sani tahan akhirnya pecah juga. Ia kembali menangis—bukan hanya karena kehilangan, tapi karena dikhianati oleh orang yang ia cintai selama bertahun-tahun. Tubuhnya lunglai, seakan beban di dadanya terlalu berat untuk ditahan sendiri. Tanpa berkata apa pun, Lita segera merengkuh Sani dalam pelukannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini—memeluk sahabatnya yang hatinya hancur berantakan. Lita tahu, tak ada kata-kata yang bisa menyembuhkan luka sebesar ini. Seberapa pun ia mencoba menguatkan, kenyataannya Sani sedang remuk. Dan Lita sangat tahu, seberapa dalam cinta Sani pada Reno. Terlalu dalam, mungkin. Pelukan itu erat, hangat, penuh empati—sebuah diam yang berbicara lebih banyak daripada seribu kalimat penghiburan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN