Di ruang keluarga yang luas dan mewah, Putri dan Reno duduk berdampingan di atas sofa panjang berbalut beludru abu gelap. Di seberang mereka, duduklah seorang pria paruh baya dengan postur tegap dan wajah serius—Jaya, ayah Putri. Tatapan matanya menembus Reno. “Papa mau kamu ikuti jejak Papa,” ucap Jaya membuka pembicaraan, suaranya terdengar tenang namun mengandung tekanan. “Papa nggak mau kamu terus-terusan jadi pegawai swasta. Kamu harus naik level.” Reno mengangguk pelan. Wajahnya tampak datar, nyaris tak menunjukkan ekspresi. Namun di balik ketenangan itu, dadanya bergelora. Ada senyum licik yang ditahannya agar tidak muncul di wajah. “Reno akan ikut maunya Papa,” jawabnya mantap, sopan, dan terdengar meyakinkan. Dalam hati, Reno tahu—semua ini sesuai rencana. Inilah alasan ia men

