“Dia siapa, San?” tanya Ratih cepat, setengah berbisik. Nada suara Ratih terdengar sangat serius. Mata Ratih masih mengikuti punggung Dominic yang kini semakin menjauh, langkahnya tenang, tegap, dan penuh wibawa. Pria itu terlalu… mencolok untuk dilewatkan. Bukan hanya karena penampilannya, tapi juga karena cara dia memperlakukan Sani—lembut, perhatian, dan penuh kepemilikan. Sani terdiam beberapa detik. Pandangannya jatuh ke lantai, seolah mencari jawaban di sela-sela ubin marmer restoran yang mengilap. Ia tahu, saat seperti ini pasti datang. Saat orang-orang mulai bertanya—dan ia tidak punya jawaban yang sederhana. “Namanya Dominic,” ucap Sani akhirnya, pelan. “Calon suami aku.” Ratih membelalakkan mata. Seketika napasnya seperti tersangkut. “Hah? Calon suami? San… kamu serius?” San

