Di Kebun

1150 Kata

Mereka berjalan berdua melewati jalan setapak di belakang rumah. Di kiri-kanan terbentang sawah dan kebun warga yang masih basah oleh embun pagi. Tanah masih lembab, mengeluarkan aroma khas yang menenangkan. Dominic beberapa kali melirik sekeliling, terkagum oleh pemandangan yang begitu hijau dan tenang. Tak ada suara klakson, tak ada deru mesin—hanya gemericik air irigasi dan kicau burung yang bersahutan di kejauhan. “Dulu Sani suka main di sini,” kata Suhadi sambil menunjuk sebuah pohon jambu besar yang berdiri angkuh di pinggir pematang. “Kadang dia memanjat pohon itu buat ambil buah. Nakal, tapi selalu bisa bikin orang tua ketawa.” Dominic tersenyum kecil. Dalam benaknya, ia bisa membayangkan gadis kecil dengan rambut dikepang dua, wajahnya belepotan tanah, tertawa lepas di atas da

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN