Suara itu berasal dari Bagas. Langkah kakinya terdengar mantap menyusuri lorong menuju mereka. Seperti biasa, raut wajahnya dipenuhi percaya diri yang nyaris arogan, seolah dunia hanya berputar di sekitarnya. Bagas berhenti tepat di antara mereka bertiga. Tatapannya tertuju pada Sani, lalu membelalak kecil seolah tak percaya pada apa yang dilihatnya. “Sani? Ini benar kamu?” katanya, suaranya terdengar riang dan tanpa beban, lalu menambahkan dengan senyum menggoda, “Kamu cantik sekali.” Sani hanya diam. Tidak tersenyum, tidak mengangguk. Tatapannya tetap tenang, tapi dingin. Tidak ada sedikitpun rasa senang atau tersanjung mendengar pujian itu. Reaksinya jelas menunjukkan satu hal—ia tak ingin terlibat pembicaraan lebih jauh. Putri yang berdiri di samping Reno langsung memutar bola mata

