Elvan tidak menanggapi ucapan Jihan dan memilih memejamkan mata. Jihan hanya mampu menghela nafas untuk meredamkan emosinya. Dirinya bangkit keluar kamar, di dapur Jihan mulai berkutat membuatkan makanan bagi Elvan. Lima belas menit, Jihan sudah kembali mendekati Elvan. Harum bubur ayam buatan Jihan menyeruak ke hidung Elvan akan tetapi lelaki itu tetap mempertahankan kebisuan dengan mata terpejam. "Bangunlah, sekarang makan dulu meski sedikit," pinta Jihan halus. "Jika kamu memang membenciku, setidaknya jangan benci dirimu sendiri, menghukum tubuhmu agar terserang rasa sakit seperti ini bukanlah hal baik. Bangunlah, anggap saja bukan aku yang menyiapkan makananmu." Kembali Jihan bicara walau tetap keheningan dia dapat. Sedikit pun tiada niatan Elvan menjawab atau menuruti perkataan J

