Lima hari liburan di Bandung membuat otakku sedikit segar. Tak lagi kusut seperti sebelumnya. Mas Amran pun sudah pulang sejak kemarin. Dia mengirimiku pesan berulang kali, jika dia akan pulang bakda isya ke rumah sebab sudah seminggu dia di rumah mama. Dua hari sebelum menikah ditambah lima hari pasca menikah. Kini, ada waktu seminggu dia bersamaku. Entah mengapa tiap membahas waktu, rasa nyeri itu kembali melesak dalam d**a. Sakitnya tak terkira karena kembali disadarkan bahwa Mas Amran tak sepenuhnya milikku. Ada dua cinta di hatinya. Ada dua hati yang harus dia jaga. Ada dua istri yang harus mendapatkan nafkah yang sama. Sakit, iya begitu, tapi lagi-lagi aku belum menyerah. Ada banyak waktu dan rencana yang ingin kulakukan. Bukan untuk mencari kejelekan perempuan itu, tapi untuk me

