BAGIAN 15

1824 Kata

Alarm berbunyi begitu nyaring dan berisik, pertanda malam telah berganti pagi. Jam setengah lima alarm keduaku terdengar sedangkan alarm pertama setengah tiga dini hari sama sekali tak terdengar telinga. Entah. Mungkin karena aku cukup kecapekan, jadi tidur terlalu lelap sampai bunyi alarm di samping telinga pun terlewat begitu saja. Bersyukur alarm kedua ini aku mulai terjaga. Jadi, masih banyak waktu menjalankan perintahNya. Setelah itu ingin menikmati semilirnya angin pagi di balkon penginapan sembari minum teh hangat. "Sudah subuhan, Mi?" tanyaku saat Arumi keluar kamar lalu ikut duduk di sampingku dengan wajah lesunya. "Sudah, Va. Mimpi buruk aku. Astaghfirullah, horor." Aku menoleh sesaat lalu tersenyum tipis ke arahnya. "Makanya baca doa kalau mau tidur, bukan baca mantra,"

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN