Cintya berbaring di atas ranjang pasien dengan mata menatap lurus ke arah langit-langit kamar inapnya. Tatapannya terlihat sangat kosong, tak ada gairah hidup. Dan bukan hanya Cintya saja yang terlihat kacau seperti itu. Tapi Gino juga. Gino ada di sana, menemani Cintya yang baru sadar setelah menjalani operasi. Kurang lebih satu jam mereka bersama dalam satu ruangan, namun tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka terlihat sama-sama masih syok dengan keadaan. "Aku tidak tahu sejauh apa hubunganmu dengan laki-laki itu. Aku hanya-" "Dia sudah memiliki istri. Dia akan pindah ke Bogor menyusul istrinya. Aku yang bodoh karena berpikir dia benar-benar peduli padaku. Nyatanya dia hanya memanfaatkan rasa kesepianku." Cintya berucap, memotong perkataan Gino. Gino kaget mendengar pernyataan Cinty

