“Hei, Lita,” suara Amar menyapa Litani sembari menarik kursinya menempel dengan kursi Litani. “Ada kabar apa pagi ini?” Litani tersenyum hambar sambil menggeleng. Dia merebahkan kepalanya di atas meja seraya memejamkan mata. Litani merasakan tangan Amar mengusap rambutnya pelan lalu menepuk-nepuknya. Di kantor barunya ini Litani memang bersikap lebih terbuka pada karyawan lain. Tidak seperti ketika masih bekerja di NAKA yang diawasi setiap waktu oleh Kaivan. Dia merasa lebih bebas bekerja di sini. Bebas berkreasi dan juga bebas berteman tanpa perlu repot-repot bersikap seolah sedang menjaga perasaan dan hati orang lain, sementara orang yang hati dan perasaannya dia jaga malah sewenang-wenang menghancurkan perasaan Litani. “Ayolah, Lit. Lo boleh cerita apa aja ke gue.” “Nggak ada yang

