Tak Buka Praktik

1484 Kata
Ros pulang ke rumah dengan pikiran dan perasaan yang berkecamuk. Dia merasa asing dengan dirinya sendiri karena seperti tak mengenal apa yang ada di sekitarnya. Ros mengingat lagi momen-momen awal ia berjumpa dengan Gagah. Teringat jelas wajah cowok itu yang terlihat tengil dari kali pertama mereka bertemu. Namun entah mengapa hari ini ia mencurigai semua orang. Dimulai dari terbongkarnya identitas Taji dan menginformasikan segala sesuatu yang menurutnya tak masuk akal. Kemudian ia merasakan sendiri dengan radarnya bahwa ada hawa dan energi makhluk astral yang cukup tinggi tertinggal di tubuh motor ayahnya Ayla yang kecelakaan. Jika ingin ditarik mundur, sebelumnya Ros sudah berpikiran untuk melepaskan sepenuhnya kekuatan yang ia punya pada Bapaknya karena ingin menjalani kehidupan yang normal seperti orang-orang. Kecelakaan Ayah Ayla pasti bukan kebetulan. Perasaannya seolah kuat mengatakan bahwa kecelakaan tersebut merupakan sebuah peringatan, sama seperti yang diucapkan Gagah. Tapi… bagaimana dia tahu kalau ini adalah peringatan? Sementara yang bisa merasakan dan tahu aroma dan hawa yang tak sengaja tertinggal itu hanya dirinya seorang. Kecuali… “Gagah juga punya kekuatan yang sama?!” gumam Ros masih tak yakin. Tidak. Sepertinya tidak demikian. Karena jika memang Gagah punya kekuatan, pasti ada sedikit energi dari tubuhnya yang bisa ia rasakan. Nyatanya tidak ada. Jadi bisa dipastikan Gagah tidak memiliki kekuatan supernatural seperti kemampuannya. Mobil yang ditungganginya berhenti tepat di halaman rumahnya yang luas. Ros bergegas turun dari mobil sambil mengucapkan terima kasih pada Pak Udin sambil lalu. Begitu masuk ke dalam rumah, Ros sudah melihat Bapak duduk di ruang tengah sambil membaca surat kabar. Ros menghampirinya Bapak. “Aku pulang, Pak.” Bapak menoleh pada Ros. “Istirahat dulu. Kamu pasti capek habis membantu teman kamu yang kena musibah kan, Nduk?!” sahut Bapak. Pandangannya kembali pada surat kabar yang ada di tangannya, seolah ada berita yang amat menarik di sana. Ros memperhatikan wajah Bapak sesaat lalu bicara lagi. “Apa yang aku ucapkan di telepon, tetap akan aku lakukan, Pak. Sementara ini aku akan mempertahankan kekuatan ini dan tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Bapak nggak perlu khawatir.” Bapak mendongakkan lagi kepalanya dan mengangguk. “Iya, itu hak kamu, Nduk. Bapak percaya sama kamu kok. Pasti kamu sudah mempertimbangkannya.” Karena sudah merasa menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan, Ros pun permisi. “Aku ke atas dulu untuk bersiap kalau begitu, Pak. Semoga ini belum terlalu kemalaman untuk menerima pasien, ya?!” sahut Ros lalu hendak pergi ke kamarnya. “Malam ini kamu nggak perlu buka praktik, Nduk,” ucap Bapak langsung menghentikan langkah Ros. Gadis itu memandang tak mengerti. Bapak lalu meletakkan surat kabarnya, bangun dari kursi dan berjalan menghampiri Ros. “Kamu istirahat saja malam ini. Bapak tahu kamu cukup lelah. Mulai besok lagi saja praktiknya. Tidak apa.” Tentu saja hal ini di luar kebiasaan Bapak. Karena secapek apapun Ros, biasanya jika menyangkut jam praktik, maka Bapak akan tetap mengharuskannya menangani pasien-pasien yang sudah telanjur datang. Meski Ros belum melihat ada pasien yang datang berobat, namun tak biasanya Bapak membiarkan satu hari libur tanpa alasan yang jelas. Karena merasa penasaran, Ros pun akhirnya bertanya juga. “Kenapa nggak buka praktik malam ini, Pak? Ros udah tinggal siap-siap sebentar aja kok,” katanya dengan nada siap. “Kita nggak perlu libur hari ini.” Bapak menggeleng. “Tapi kamu pasti capek dan perlu memulihkan tenaga kamu setelah seharian beraktivitas di sekolah. Apalagi setelah itu kamu harus menemui teman kamu yang habis kena musibah. Pasti lelah. Nggak apa-apa, Nduk. Besok saja buka lagi praktik kita. Kamu istirahat dulu saja malam ini.” Bapak maju dan menepuk satu kali bahu Ros. “Tidur yang enak. Kamu sudah lama tidak merasakan tidur awal.” Perasaan Ros justru mengatakan sebaliknya. Sepertinya bukan itu yang dimaksud oleh Bapak. Hanya saja Ros tak tahu sama sekali mengapa feelingnya terasa kuat berkata bahwa ada yang sedang Bapak sembunyikan. Ros jadi ingin tahu lebih banyak mengapa Bapak bisa berubah jadi lebih kalem pada dirinya, padahal biasanya ia amat streng. Semua peraturan bapak mutlak dan tak dapat diganggu gugat. Ros akhirnya tersenyum. “Ya, udah kalau memang hari ini nggak perlu buka praktik. Terima kasih ya, Pak, udah biarin Ros buat istirahat lebih awal,” ucapnya. Bapak hanya mengangguk dan membiarkan Ros kembali ke kamar dengan ekspresi yang sudah berubah tidak seceria tadi. Wajahnya jelas menyimpan banyak sekali kecurigaan dan rasa ingin tahu tentang apa yang sedang Bapak sembunyikan. Saat Ros sudah ada di dalam kamarnya, ia teringat lagi ucapan Taji dan apa yang sudah ia alami hari ini. Hidupnya jadi terasa lebih misterius dari yang ia pikir. Padahal sebelum-sebelumnya, Ros merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari dirinya ataupun hidupnya. Meskipun Ayla kadang aneh, Gagah juga terlalu percaya diri, namun mereka berdua jadi penyemarak dan pewarna alami di hidupnya yang semula hanya ada hitam dan putih. Hadirnya Taji membuat Ros juga nyaris tak mengenal dirinya. Karena untuk pertama kalinya semenjak dirisak oleh Shinta, Delta dan teman-temannya, Ros berani melawan mereka dan membela dirinya sendiri. Akhirnya. Padahal sejak awal, Ros selalu merencanakan untuk sekali-kali memberi mereka pelajaran. Hanya saja Ros seakan tak mampu melakukannya. Ia justru berbalik dan menyalahkan dirinya sendiri karena memang tak sempurna dan tak umum juga seperti mereka. Makanya Ros membiarkan saja meski hatinya sakit dan merasa malu atas hinaan dan ejekan yang diterima hampir setiap hari. Namun kedatangan Taji di hari itu, tiba-tiba memberi dorongan dan keberanian dalam hatinya. Ros malah jadi semakin punya nyali dan mantap melakukan perlawanan yang seharusnya sejak dulu ia lakukan. Ros masih mematung di depan pintu dan teringat akan buku harian ibu nya yang sempat ia ambil dan selipkan ke dalam kopor ketika mereka pindah ke ini. Ros sama sekali tidak dapat membaca buku harian tersebut karena seluruh isinya ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa. Sedangkan Ros sama sekali belum pernah belajar dan hampir tak punya waktu untuk mempelajari aksara tersebut. Mungkin saja dalam buku harian tersebut, ia bisa menemukan sedikit petunjuk yang memberinya pencerahan. Segera dikuncinya pintu dengan memutar hingga dua kali. Namun ia tahu mengunci dengan cara manusiawi saja tidak akan cukup melindunginya. Ros memberikan beberapa mantra pada pintu kamar dan seluruh area kamarnya agar tidak menarik perhatian manusia lain di rumah itu ataupun makhluk lainnya. Usai memberikan mantra, Ros pun bergegas menuju kotak penyimpanan rahasianya di bawah tempat tidurnya. Kotak tersebut juga sudah ia beri mantra sehingga meski Bik Imah bolak balik ke kamar untuk membersihkannya, tapi Bik Imah tak pernah melihat kotak tersebut. Entah mengapa Ros merasa perlu saja berjaga-jaga dan waspada. Setelah ia tarik kotak penyimpanan berukuran empat puluh sentimeter tersebut, Ros membukanya perlahan. Di dalamnya, bukan hanya buku harian ibu saja yang ia simpan. Tapi buku mantra, kalung, lukisan, dan gelungan milik Ibu nya yang berhasil Ros temukan di rumah lamanya yang sama sekali tidak pernah disinggung Ayahnya. Ros merasa Bapak agak kelewatan jika sampai barang-barang ibu pun tak bisa ia rawat karena akan mengingatkannya lagi. Namun mengapa setiap kali Ros menunjuk satu benda yang dia rasa milik ibunya, Bapak bahkan tak mampu menjawab dengan jelas. Seperti gelungan ini saja. Bapak dulu bilang bahwa itu adalah milik tamu atau pasien Ibu yang tertinggal. Padahal dari lukisan yang ia punya dan lukisan yang ada di rumah Ki Damari, ibu terlihat memakai gelungan yang persis dengan gelungan ini. Jadi agak membingungkan memang jika Bapak nyaris tak mengenali dan bingung dengan gelungan rambut yang notabene selalu digunakan Ibu setiap hari. Seolah-olah, Bapak tidak begitu mengenal Ibu nya yang tak lain tak bukan adalah istrinya sendiri. Ros meletakan gelungan rambut Ibu kembali ke tempatnya, dan mengambil buku harian yang sampulnya sudah mengelupas berwarna cokelat tersebut. Setiap kali memegangnya, Ros merasa bahwa ia sedang menggenggam tangan Ibu yang sedang berusaha mengajaknya bicara. Hanya saja ia tak mampu memahami apa yang ibu coba beritahukan padanya. Ros benar-benar bingung. Sementara untuk melepaskan buku harian ini begitu saja, Ros pun tak bisa. Karena perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tertinggal dan tak dapat Ibu nya katakan secara langsung. Oleh sebab itu Ros pun memutuskan untuk tetap menyimpan buku harian ini hingga menemukan cara untuk membongkar satu per satu informasi apa yang coba dikatakan ibu dalam buku harian. “Oke, sebaiknya gue ganti kostum dulu biar bisa lebih fokus. Karena ini adalah bagian dari misi dan pekerjaan gue.” Usai memutuskan itu, Ros pun segera ke bilik pakaiannya dan berganti dengan pakaian praktiknya yang biasa. Memang bukan pakaian serba hitam ala dukun indonesia kebanyakan. Namun pakaian yang lebih mirip jubah ini selalu menemani dan melindunginya sejak ia berusia tujuh tahun. Makanya Ros merasa untuk mencari tahu lebih dalam mengenai tulisan ibunya, ia pun perlu fokus yang serius agar tidak terdistraksi hal-hal keduniawian lain. Meskipun ia akan memakai salah satu teknologi untuk bisa membantunya memahami tulisan Jawa ini. Ros mulai membuka laptopnya dengan logo apel yang sudah digigit. Ia langsung meluncur pada peramban dan mengetikkan kata kunci. “Aksara Jawa hanacaraka lengkap!” Usai mengetik tulisan tersebut di mesin pencari, Ros mendapatkan beberapa hasil. Gadis itu pun langsung membuka satu per satu hasil pencarian kata kunci tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN