Masih Belum Kapok

1327 Kata
Ros dan Taji kompak mendongak pada seseorang yang berdiri tepat di depan meja mereka. “Ngapain lo?” tanya Ros bingung pada orang tersebut. “Mau ngajak sarapan apa nyuruh gue dengerin puisi lo?!” Ros menahan senyum saat bertanya lagi. Gagah menggelengkan kepalanya. “Nggak keduanya,” jawabnya pendek. “Gue mau mastiin lo hari ini jadi nggak ikut kita ke tempatnya Ayla apa nggak?” tanya cowok itu. Gadis itu mencoba mengingat-ingat dengan apa maksud Gagah mengenai ke tempat Ayla hari ini. Makanya ia pun menggelengkan kepalanya. “Ng… lo lupa, Ros? Wah, kebangetan, sih.” Gagah berdecak lalu menggelengkan kepalanya saking tak percaya. “Ayla ultah ke-16 hari ini dan dari jauh-jauh hari kita diajak ke rumahnya buat ngerayain karena diundang sama Bapak Ibu nya. Lo lupa?!” Gagah terperangah. Begitu mendengar penuturan Gagah Ros langsung terperanjat. “ASTAGA!” Ros sampai bangun dari bangkunya. “Ampun, Gah, gue lupa banget. Hah, hari ini Ayla ulang tahun. Eh, kenapa gue bisa lupa banget, sih.” Ros langsung kelabakan dan mengambil ponselnya untuk segera menghubungi Ayla. Gadis itu sudah membuka aplikasi chat dan hendak mengirimkan pesan pada sahabatnya itu. Sambil membuka aplikasi perpesanan dan menyusun kata-kata ucapan selamat ulang tahun di kepala, Ros lalu tersadar. “Ah, gue nggak bisa hari ini, Gah,” keluh Ros langsung lesu. “Hah? Kenapa lo? Disuruh balik awal buat nanganin pasien lagi?” Gagah mencoba menebak apa yang membuat Ros tidak bisa menghadiri acara ultah Ayla. Ros menggelengkan kepalanya. “Hmm, bukan karena itu, sih.” Ros lalu menyuruh Gagah mendekat padanya sambil mengancang-ancang hendak berbisik. Gagah lalu menggeser posisi nya dan mendekat ke arah Ros. Cowok itu mendekatkan telinganya. “Gue justru mau melepaskan kekuatan gue ini, Gah. Gue harus ketemu sama sobatnya almarhum nyokap gue buat nyari tahu apakah gue bisa mentransfer kekuatan gue atau nggak. Kalau udah tahu dan bisa, gue mau melepaskan kekuatan yang ada di tubuh gue, Gah.” Mendengar penuturan Ros itu, ekspresi Gagah sempat berubah. “Jadi, gue rada bingung nih gimana caranya ngasih pengertian ke Ayla, ya?!” Gagah seolah tidak fokus mendengarkan Ros karena seperti memikirkan hal lain. Ia kemudian bertanya dengan jelas. “Kenapa harus melepaskan kekuatan lo?” Suara Gagah itu tentu saja terdengar Taji dan membuatnya menoleh ke arah Ros dan Gagah yang masih belum memalingkan wajahnya. Ros yang sudah berusaha memelankan suara agar tidak menarik perhatian malah mendelik kelas pada Gagah. Untuk apa tadi dia sudah diam-diam bicara dengan amat pelan kalau akhirnya cowok ini bicara dengan suara normal. Sebab kemudian bukan hanya Taji yang menoleh. Tapi dua orang yang duduk persis di depan Ros juga menoleh ke bangku belakang. Ros tidak sempat menyemprot Gagah karena bel tanda masuk sudah berbunyi. Gagah lalu pergi meninggalkan Ros tanpa komentar atau bicara apa-apa lagi. Ros pun jadi bingung sendiri dengan sikap Gagah tersebut. Kenapa juga dia harus bicara dengan terbuka seperti itu padahal tahu Ros amat sensi dengan semua yang berhubungan dengan kekuatannya. Gagah sudah tahu hal tersebut tapi masih tidak dapat membantunya menutupi informasi kekuatan maupun identitasnya. Gadis itu kembali duduk lagi dan berusaha fokus pada pelajaran yang sebentar lagi akan dimulai. Ros sama sekali tidak menyadari bahwa cowok di sebelahnya sudah sejak tadi sudah memperhatikan ke arahnya dan nyaris tidak berkedip sama sekali.  Hari ini terasa berlalu dengan begitu cepat, padahal Ros merasa biasanya tidak begini. Mungkin karena ia sudah terfokus pada kesehariannya di sekolah dan berusaha mengabaikan radarnya yang menyala dan menangkap arwah-arwah jahil yang sedang melancarkan aksi di sekitarnya. Ros berusaha menutup mata dan tidak memedulikan hal tersebut. Sebab di pendengarannya, Ros menangkap tidak ada sesuatu yang serius yang sampai membahayakan nyawa atau keselamatan seseorang. Makanya Ros tetap tenang dan berusaha melanjutkan aktivitasnya di sekolah seperti anak-anak yang lain. Ros tetap pergi ke kantin dan makan di tempatnya yang biasa seorang diri. Ia masih tidak menyadari bahwa sudah sejak tadi Taji menatap ke arahnya dan memperhatikannya terus menerus. Entah apa alasan atau tujuan sampai Taji melakukan itu. Namun yang pasti, cowok itu seakan menantikan atau memperhatikan sesuatu yang serius dari Ros. Seseorang lalu datang mendekati Ros dan menumpahkan sesuatu ke atas soto yang ada di hadapannya. Taji langsung beranjak dan berjalan mendekat. Sementara Ros masih terdiam dengan apa yang sedang menimpa dirinya saat ini. Gadis itu mendongak dan mendapati Shinta yang menuangkan kuah basi ke dalam mangkuk sotonya sampai membuat soto yang ada di hadapannya luber ke mana-mana. Apa yang terjadi langsung menarik perhatian. Shinta dan kawan-kawannya terkekeh-kekeh karena wajah shock Ros saat makannya terganggu. “Kalau gue perhatiin lo kayaknya suka banget sama soto. Nih gue tambahin kuah soto nya biar lo kenyang,” ucap Shinta lalu meletakkan botol plastik berisi kuah basi yang dituang begitu saja ke dalam mangkuk soto milik Ros. Jelas itu kuah basi karena aroma yang tercium sudah seperti air dari saluran pembuangan. “Itu peringatan ya karena udah bikin gue malu di kelas. Kalau mau yang lebih keras peringatannya juga bisa, sih. Tapi gue kasih saran mending lo jangan coba-coba. Takutnya lo nyesel banget soalnya,” kata Shinta sambil memandangi Ros yang terdiam. Ros lalu mendongak dan tersenyum. “Kayaknya lo juga pengin tahu siapa gue, ya?!” Gadis itu bicara dengan nada yang sangat tenang dan bangkit dari kursinya. Dengan gerakan yang sangat cepat ia mengambil mangkuk soto nya dan menyiramnya ke tubuh Shinta dan mengenai juga pada beberapa antek-anteknya. Shinta kontan menjerit histeris. Begitu juga dengan teman-teman satu genk yang mengelilinginya. “BERANI-BERANINYA LO NGELAKUIN INI KE GUE HAH?!” pekik Shinta sangat kesal. Wajahnya langsung memerah karena marah. Shita menatap nanar pada Ros. “Kira-kira begitu juga kalimat gue setelah lo mengganggu acara makan siang gue. Tapi lo kan rada-rada congek, ya, makanya gue harus ngasih contoh dulu ke lo biar lo paham dan ngerasain sendiri gimana rasanya kalau diperlakukan begitu.” Kedua rahang Shinta mengeras. “Lo emang iblis, Rosmanah!” pekiknya lagi. Ros mengangguk mengerti. “Itu juga kalimat yang pengin gue teriakin ke lo sekarang, Shinta Prameswari. Semua u*****n yang lo ucapin, bakal gue balikin juga ke lo kok. Muntahin aja semuanya. Gue akan balas dengan setimpal,” balasnya tenang. Shinta amat geram dengan apa yang Ros lakukan. Ucapannya yang tetap tenang dan kalem justru membuatnya semakin emosi dan kesal. Tangan gadis itu lalu hendak melayang ke arah Ros namun Ros seperti sudah mengantisipasi hal tersebut. Kali ini, Ros ingin sekali-kali menunjukkan pada Shinta tentang apa yang ia bisa. Tentang kemampuan yang ia punya. Makanya ia segera melakukan teleportasi dan memindahkan Delta ke posisinya saat ini. Benar saja. Shinta hendak melayangkan tangannya ke arah pipi Ros yang justru mengenai Delta yang berpindah di posisinya. Bukan hanya Shinta yang kaget, namun Delta juga yang menerima tamparan keras dari sahabatnya sendiri. Semuanya ikut kaget. Namun mereka justru bingung kapan Delta dan Ros bertukar posisi. Sepertinya kedipan mata masih terlalu lambat untuk menyadari kapan Ros menggunakan kekuatannya untuk menukar posisi Delta dan dirinya. Shinta yang masih shock lalu kaget karena kini Ros ada di sampingnya. Shinta sudah hendak berbalik namun Ros segera berbisik. “Gue bisa pindahin siapapun dan bahkan bokap lo yang nggak gue tahu juga gimana wujudnya ke posisi gue sekarang biar mereka ikut ngerasain tamparan lo. Gimana? Kayaknya bakal jadi tontonan yang menarik, ya?!” ucap Ros saat berbisik tepat di telinga Shinta. “Gue beneran ogah nyari ribut, tapi kalau lo terus menyerang gue dan sengaja mengganggu gue, gue juga nggak akan tinggal diem aja. Jadi demi kedamaian bersama, mending lo kontrol lagi sikap lo. Karena gue merasa nggak pernah mengganggu lo juga.” Usai mengucapkan kalimat itu Ros menjentikkan jarinya dan membuat kesadaran orang-orang di sekitarnya kembali. Tanpa Shinta sadar dan ketahui, sejak bertukar posisi, Ros juga menghentikan satu putaran waktu untuk membuat konsentrasi Shinta hanya terpusat padanya. Kini setelah ia mengembalikan semua, Shinta baru menyadari dan terlihat ketakutan. Ia lalu buru-buru pergi meninggalkan Ros dengan sorot mata penuh dendam. Meski demikian, untuk sementara sepertinya Shinta tidak akan usil mengganggunya dulu. Paling tidak Ros bisa bernafas agak lega sesaat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN