Tidak Seperti Hawa Manusia

2061 Kata
Ros meringis karena tangannya masih diinjak oleh Shinta yang sepertinya enggan untuk mengangkatnya. Namun cengkeraman tangan Taji juga jadi semakin kuat di pergelangan Shinta yang membuatnya akhirnya mengangkat kakinya dari tangan Ros. Shinta mengaduh karena pergelangan tangan kanannya seperti terbakar. Ia lalu memperhatikan tangannya yang terlihat memerah. Shinta memandang Taji dengan sorot mata jengkel sekaligus bingung. Taji membalas tatapan itu dengan tenang. “Kenapa lo belain dia? Padahal lo masih anak baru dan belum tahu ini cewek manusia macam apa?” sergah Shinta dengan raut wajah yang kesal luar biasa. Taji memandang Shinta dengan ekspresi bingung. “Mungkin bener gue masih anak baru, tapi tindakan lo tadi tentu aja nggak bisa gue abaikan karena udah termasuk k3kerasan dan perundungan. Dan yang gue heran, kenapa di kelas ini nggak ada yang bereaksi kecuali gue.” Cowok itu memandang wajah anak-anak di kelas itu satu per satu. Semuanya hanya diam dan ada juga yang membuang muka ke tempat lain. “Kayaknya hebat banget power yang bokap lo punya sampai-sampai mereka semua diem padahal tindakan bullying lagi ada di depan mata mereka.” Taji berucap dengan nada mengejek. “Mungkin mereka nggak berani nentang lo karena takut bernasib sama dengan Ros. Atau bisa juga memang kualitas mentalnya sama kayak lo. Sama-sama mental orang sakit.” Kalimat terakhir Taji mengundang berbagai macam reaksi. Sadam dan Faris, sebagai ketua dan wakil ketua kelas langsung bangkit dari kursi. Taji memandang kedua cowok itu dengan sorot mata bingung. “Kalian mau ngapain? Ngerasa nggak terima sama omongan gue tadi atau mau bantuin Ros?” Tidak ada jawaban dari Sadam maupun Faris. Taji hanya menggelengkan kepalanya tak percaya pada anak-anak di kelas ini. Ia lalu berjongkok dan membantu Ros membereskan seluruh isi tas yang berserakan di lantai. Tangan kiri Ros yang diinjak oleh sepatu Shinta tad terlihat agak kotor. Taji lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya. Sebuah sapu tangan polos berwarna jingga disodorkan pada Ros. “Bersihin tangan lo, biar ini gue yang beresin,” ucapnya sungguh-sungguh. Dengan agak ragu, Ros mengambil sapu tangan tersebut lalu mengusap punggung tangan kirinya yang kotor bekas sepatu Shinta tadi. Setelah membereskan barang-barang milik Ros dan mengembalikannya ke tempat semula, Taji pun membantu Ros berdiri. Dipandanginya wajah Shinta yang sepertinya terlihat makin kesal. “Ada lagi yang mau disampein?” tanya Taji tenang. Di wajahnya sama sekali tidak ada raut kekhawatiran atau rasa takut sama sekali. “Lo bakal nyesel karena udah ngebantah gue,” balas Shinta berang. “Palingan besok juga lo bakal minta pindah dari sekolah ini.” Shinta lalu menoleh para Ros yang masih mengusap-usap punggung tangannya. “Dan lo dukun, gue bakal bikin perhitungan sama lo juga. Camkan!” ancamnya sambil memandang Ros dengan tajam. “Udah sana minggir, gue mau duduk!” usir Shinta pada Taji dan Ros yang masih berdiri di pinggir meja nya. Namun Taji tidak memberikan jalan sama sekali. “Lo cong3k, ya?!” Taji menggeleng-gelengkan kepalanya bingung. “Kenapa kalau ada orang yang nggak mematuhi perintah lo, lo bisa dengan enteng melabeli mereka dengan sebutan-sebutan yang nggak enak didengar.” Shinta bergeming dan tidak menanggapi ucapan Taji sama sekali. “Lagian tadi lo udah minta duduk di belakang, kan. Ngusir Ros dan gue. Ya, udah kita yang ngalah pindah ke sini. Udah diturutin, eh lo minta pindah lagi. Labil banget sih lo?!” Ucapan Taji tersebut kembali mengundang reaksi kaget dari murid lain di kelas. Bahkan teman-teman Shinta yang berdiri di belakangnya langsung kaget. Shinta terlihat menahan emosinya atas ucapan Taji. Namun cowok ini seperti tidak gentar sama sekali. Ia menundukkan kepalanya agar sejajar dengan wajah Shinta. “Gue jadi penasaran kayak apa tampang kedua orang tua lo. Apa mereka juga sama beracunnya kayak lo? Atau mungkin lo sebenernya nggak dapet perhatian dari mereka, makanya lo suka banget nyari ribut di sekolah biar diperhatiin.” Taji tersenyum kecil. Tangan Shinta mengayun dan siap mendarat ke pipi Taji. Namun dengan sigap Taji langsung menangkap pergelangan tangan Shinta. Semua kaget karena refleks yang Taji lakukan barusan terbilang sangat cepat. Shinta kembali mengaduh karena genggaman Taji di tangannya kembali menimbulkan rasa terbakar dan panas.  “Nggak boleh ada orang yang menyentuh gue, tanpa persetujuan gue, apalagi cuma pengin meny4kiti pipi gue dengan tamparan,” kata Taji dengan santai. “Mumpung gue masih sabar banget, mending berhenti nyari ribut sama gue dan Ros. Karena gue oke-oke aja ngeladenin lo kalau memang lo mau jadi panjang.” Kini, tatapan mata Taji semakin tajam saat bicara pada Shinta. “Gue penganut gender equality, jadi gue nggak bakal memandang lo sebagai perempuan dan nggak bakalan segan-segan.” Shinta lalu berteriak jengkel dan langsung pergi meninggalkan kelas. Semua kaki tangannya sontak menghambur mengikuti Shinta keluar. Taji lalu menoleh pada Ros yang masih melongo sambil memeluk tas nya sendiri. Cowok itu kemudian bertanya. “Nggak apa-apa lo?” tanyanya pada Ros yang masih cengok dengan apa yang barusan terjadi. Taji bingung sendiri melihat Ros yang belum menjawab pertanyaannya. “Lo nggak kesurupan, kan?!” Taji memastikan lagi sambil menyentuh tangan Ros. Akhirnya Ros menoleh pada Taji dan menggelengkan kepala. “Wah, lo keren tadi,” pujinya sambil mengacungkan dua jempol. “Gue juga keren karena akhirnya bisa ngejawab Shinta dengan sadar dan kalem kayak tadi. Wah, rasanya plong bener.” “Mau balik ke kursi belakang apa duduk di sini? Tadi kita dikasih tugas, kan?!”  Ros lalu memandang Taji dan menggelengkan kepala. “Gue nggak terbiasa ada di depan. Gue mau balik ke belakang aja,” balasnya lalu segera berjalan ke kursinya. Taji hanya mengikuti Ros kembali ke deretan kursi belakang tanpa banyak bicara lagi. Karena menyadari sudah ada tugas untuk mengerjakan LKS dari Pak Ifan, Ros pun meminjamkan LKS miliknya agar Taji dapat mengerjakan soal yang ada di sana. Shinta keluar kelas dengan amat berang. Baru kali ini ada yang berani menentangnya dan mengucapkan hal-hal menyebalkan tentang kedua orang tuanya. Karena masih jam pelajaran, alhasil, Shinta pun hanya bisa meluapkan kemarahannya di toilet perempuan kelas X. Delta dan teman-teman yang lain mencoba meredakan amarah Shinta namun percuma saja. Gadis itu sedang dikuasai emosi yang sedang berada di puncak kepala. Makanya mereka menunggu saja sampai Shinta mau bicara. Semua antek-anteknya memasang posisi ketika masuk ke toilet tersebut. Ada dua orang yang tugasnya berjaga di depan pintu toilet. Sementara lainnya hanya turut mengawasi saja Shinta yang berjalan gelisah mondar mandir karena masih kesal. “Gue harus bikin perhitungan sama mereka. Harus! Bagaimanapun caranya!” Shinta mulai mengeluarkan unek-uneknya sambil mondar-mandir. “Gue udah dipermalukan di depan kelas dan mereka pikir itu keren? Cih! Mereka harus tahu dengan siapa mereka bikin masalah.” Kembali Shinta mengeluarkan rasa jengkelnya. “Gue akan bikin mereka nyesel karena udah nyari ribut sama gue. Lihat aja, dua anak anak itu nggak bakalan betah di sekolah ini. Kalau pun mereka bertahan, gue pastikan hidup mereka akan kayak neraka!” Kedua rahang Shinta mengeras ketika bicara. “Lo mau ngapain habis ini, Shin?” tanya Delta dengan nada agak takut-takut. Dibandingkan antek-anteknya yang lain, Delta terbilang lebih dekat dan sudah lebih lama mengenal Shinta. Sebab mereka sudah berteman sejak SD. maka dibandingkan yang lain, Delta jelas orang yang paling tahu dan kenal bagaimana Shinta luar dalam. Shinta melipat tangannya di depan d4da. “Gue masih belum tahu saat ini. Tapi gue bakal cari tahu cara yang paling ampuh buat bikin mereka ngemis-ngemis minta ampun di bawah kaki gue.” Shinta tersenyum licik saat mengucapkan kalimat tersebut. * Jam pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi. Ros segera mengemasi barang-barangnya dan sudah hendak bangun dari kursi. Hanya saja Taji langsung mencegahnya berdiri. Ros menoleh bingung pada apa yang dilakukan cowok itu. “Ada yang mau lo sampein apa gimana?” tanya Ros yang kembali duduk. “Lo mau ke mana habis ini?” tanya cowok itu. Ros belum menjawab, namun Taji sudah melanjutkan kalimat pertanyaan yang membuat Ros ternganga. Gue ikut, ya?!”  Dahi Ros mengeriting saking bingungnya dengan anak lelaki ini. “Meskipun tadi lo bantuin gue dari apa yang udah dilakukan Shinta, tapi bukan berarti kita temenan.” Taji mengulum senyum. “Tapi gue nya pengin temenan sama lo, gimana dong?” Ros memandang Taji dengan tatapan putus asa. “Let’s make this clear.” Diletakkannya tas di atas meja sebab Ros hendak memberikan Taji pengertian. “Untuk jadi temen itu, mesti ada proses yang tentu aja nggak secara… apa namanya, ujug-ujug alias tiba-tiba.” Ros mencoba memberi pengertian pada Taji. “Nah, kita nggak bisa begitu aja langsung deket. Mungkin kita udah ngobrol sedikit dan ada haha-hihi gitu, tapi masih belum bisa dianggep udah bertemen. Jadi, gue harap lo jangan terlalu cair sama gue. Tetep jaga jarak aman aja, ya?!” usai mengucapkan kalimat itu Ros lalu segera bangkit dari kursinya dan berjalan melenggang keluar kelas. Tapi ia sama sekali tak menyangka bahwa Taji masih mengikutinya. Ros pikir Taji memang mau ke arah keluar juga. Makanya ia tak menggubris pada awalnya. Namun lama kelamaan Ros menyadari jika Taji memang mengikutinya. Gadis itu memutuskan berhenti dan menoleh pada cowok itu. “Lo ngintilin gue?” sergahnya dengan wajah bingung. Taji mengangguk. “Kan, tadi udah bilang gue mau ikut,” jawabnya kalem. Mulut Ros langsung ternganga. “Kan, gue udah bilang nggak boleh,” tukasnya. Taji menggeleng. “Lo nggak bilang begitu. Lo cuma bilang kalau kita belum bisa temenan. Ya nggak apa-apa. Tapi gue tetep mau ikut,” jawab Taji lagi. Ros hampir kehilangan kesabarannya namun ia mencoba menahan diri dan kembali bicara dengan sopan pada Taji. “Oke, harusnya gue perjelas dari awal aja ya. Jadi lo nggak boleh ikut sama gue. Karena gue dan lo belum temenan secara resmi.” “Gimana caranya bisa temenan secara resmi kalau buat interaksi aja gue dibatasi? Makanya gue pikir kalau gue ikut kita bisa jadi makin akrab dan akhirnya bisa temenan.” Penuturan Taji kembali membuat Ros memandangnya tak mengerti. “Ya, kenapa lo mau temenan sama gue?” tanya Ros nyaris putus asa. “Ya, kenapa gue nggak boleh temenan sama lo?” Taji lalu balik tanya. “Lo nggak denger kata anak-anak tadi? Di sini gue dapet sebutan dukun. Terus lo nggak sadar sama dandanan gue? Aksesoris gue yang nggak umum ini? Lo nggak risih atau takut apa sama gue?” cerocos Ros panjang lebar yang kemudian membuat Taji akhirnya memperhatikan Ros dengan lebih teliti. Dari atas hingga ujung kaki lalu balik lagi ke atas dan membuat Ros berdecak jengkel. “Dari tadi lo baru sadar?” Taji lalu mengangkat kedua bahunya. “Gue nggak ngeliat ada yang aneh, sih. Mungkin itu memang karena lo orangnya nyentrik aja. Tapi gue nggak berpikir gimana-gimana ke lo,” balas Taji tetap santai.  Ros masih terperangah dengan kebebalan Taji hingga tak menyadari bahwa Gagah sudah menghampirinya. “Lo kok masih di sini? Gue pikir udah di depan.” Ros lalu menoleh dan tersenyum meringis. “Eh, iya, gue masih di sini.” Gagah tersenyum lalu bertanya lagi. “Iya, kenapa lo masih di sini?” pertanyaannya belum sempat dijawab Ros dan ia pun menyadari ada seorang cowok yang berdiri tak jauh dari Ros. Gagah memperhatikan cowok itu dari atas ke bawah. “Sorry, lo siapa, ya?” tanya Gagah kemudian. “Kayaknya gue baru lihat lo. Anak baru?” Taji mengangguk dan langsung mengulurkan tangannya. “Gue Taji, baru masuk hari ini dan kebetulan satu kelas sama Ros,” katanya memperkenalkan diri.  Gagah tidak langsung menerima uluran tangan Taji dan seperti mempertimbangkan dahulu. Namun kemudian ia pun menjabat tangan anak baru di hadapannya ini dan sesuatu yang tak terduga terjadi. Langit mendadak gelap dan Ros merasakan ada aura yang berbeda terpancar dari Taji maupun Gagah. Udara yang ada di sekitarnya mendadak dingin dan membuat bergidik. Ros bingung mengapa reaksi ini bisa terjadi. Ketika ia melihat ke arah Taji maupun Gagah, keduanya seperti sama-sama kaget dan bingung. Ros langsung bermaksud untuk melepaskan tangan Taji dan Gagah yang masih saling berjabat. Namun saat tangan Ros menyentuh kedua tangan dua cowok itu, Ros merasakan hawa berbeda dari mereka. Radar yang ia miliki langsung bekerja secara otomatis dan merasakan energi dari dua cowok yang tangannya masih saling bertaut ini. Ketika mata Ros terpejam dan radarnya mencoba mencari hawa dan aura yang serupa dengan mereka, tiba-tiba Gagah melepaskan tangan Taji dan Ros bersamaan. Hal tersebut membuat konsentrasi Ros buyar dan ia tak bisa meneruskan pencariannya.  Ros menoleh bingung pada Gagah yang terlihat agak panik. Wajah Gagah bahkan mengeluarkan keringat dingin dan air mukanya mendadak pucat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN