Mempersiapkan Semedi

1324 Kata
Ros memiliki banyak sekali opsi tempat untuk bersemedi. Namun selama ini, bersemedi di rumah menjadi tempat yang paling aman dan nyaman untuknya. Sebab selalu ada Bapak yang akan menjaga dan melindungi dirinya. Pernah Ros mengikuti Ki Damari bersemedi di gunung, hutan, dan beberapa tempat keramat lainnya. Konsennya tidak, malah Ros sibuk 'meladeni' para arwah seusianya yang malah mengajak bermain. Makanya ia pun akhirnya berpikir untuk melakukan semedi di rumah saja. Selain tak perlu ke mana-mana, jika bersemedi di rumah juga Ros bisa lebih fokus dengan apa yang menjadi tujuannya. Jarang sekali ada hal yang mendistraksi dirinya. "Jadi, menurut lo, gue kudu semedi di mana nih?" tanya Ros lagi ketika disadarinya Taji masih diam saja dengan pertanyaannya. Entah memang sedang sengaja berpikir atau justru sedang mempertimbangkan sesuatu yang penting. "Lo bisa semedi di satu tempat yang mungkin belum pernah lo denger namanya. Meski sebenarnya mungkin lo pernah satu atau dua kali ke sana tanpa lo sadari," jawab Taji pelan. "sebuah tempat di mana lo bisa tahu identitas gue sebenernya dan bisa melihat asal muasal gue. Jadi lo nggak bakal mencurigai gue lagi sebagai arwah jahat yang memang sengaja bergentayangan demi menguras inti energi manusia." Keterangan yang diberikan oleh Taji barusan seolah memberitahukan beberapa informasi dasar yang ingin diketahui oleh Ros sejak awal mengenai siapa diri cowok itu. "Kalau memang tempat itu ada dan bisa jadi tempat gue untuk bersemedi, gue rasa lo bisa bawa gue ke sana," ujar Ros dengan nada mantap. Keraguan yang selama ini ia rasakan, seperti mulai memudar. "Tempat untuk bersemedi itu… ada di mana?" Karena Ros sudah mempercayakan semuanya, maka setelah itu Taji hanya berkata bahwa besok Ros harus meluangkan waktu seharian penuh hingga pukul 2 dini hari untuk bisa berkonsentrasi dan bersemedi. Tidak boleh ada gangguan sama sekali, karena proses semedi yang bakal Ros lakukan akan berhubungan dengan inti energi yang selama ini tidak pernah Ros sadari. Oleh sebab itu, Taji benar-benar menyuruh Ros meluangkan waktu dan mencari alasan yang cocok agar tidak dicari. Karena satu kali saja ada gangguan, maka Ros harus mengawali semedi dari awal. Tentu Ros tak ingin itu terjadi. Makanya ia pun langsung berpikir bagaimana cara memberikan alasan pada Bapak supaya tak mencari atau mengganggu proses bersemedinya nanti. Ros kemudian memperhatikan meja belajarnya dan ide cemerlang pun melintas di pikirannya. Ya, ia akan memakai alasan itu agar bisa melakukan semedi besok malam tanpa distraksi sama sekali. Sebelum itu, ia harus menelepon orang tersebut agar mau berkomplot dengannya dan membantu rencana sepenuhnya. Ros berencana untuk memanfaatkan sedikit cerita yang ia dramatisir agar orang ini tak menaruh curiga. Baru membayangkannya saja, Ros sudah merasa gemas sendiri dan tak sabar lagi untuk merealisasikannya segera. Ia pun lalu bicara lagi pada Taji yang sepertinya masih di sana. Tapi ketika Ros memanggil namanya, Taji tak menjawab lagi. Ah, tapi sudahlah. Yang penting kini ia sudah memiliki cara untuk mengelabui Bapak agar ia bisa mengetahui lebih lanjut tentang seberapa dalam dan jauh kekuatan dalam dirinya. Gadis itu masih memperhatikan buku harian ibunya saat ia sudah ada di atas tempat tidur. Sejak kecil, ia jarang tidur di bawah jam sepuluh. Dalam setahun, Ros bahkan bisa menghitung dengan lima jarinya berapa kali ia bisa masuk kamar, sudah rapi dan dapat tertidur dengan cepat seperti pelajar seusianya. Sementara pada hari-hari biasa, bukan di malam Jumat atau Jumat Kliwon, Ros akan selalu tidur paling cepat pukul tiga atau empat pagi. Di pukul enam ia harus sudah bangun dan menjalani kehidupan manusiawinya dan menjadi seorang siswa di sebuah sekolah bergengsi. Kadang Ros merasa jengah dengan kehidupannya. Ia harus menjalani profesi yang tak lazim untuk anak seusianya sekaligus harus tetap terlihat ‘normal’ dengan menjadi pelajar yang berangkat ke sekolah, belajar, dan harusnya bergaul dengan anak-anak seusianya. Meskipun ternyata ‘keharusan’ tersebut tak dapat juga Ros penuhi dan menjadi standar mutlak kehidupannya. Seaneh-anehnya profesi sambilan yang dijalani anak seusianya paling menjadi makcomblang berbayar dan bergaransi. Tidak ada lagi profesi sambilan paling aneh yang dijalani orang lain yang ia tahu di sekolahnya. Profesi utama yang mereka jalani ya menjadi siswa atau pelajar berprestasi. Bukan seperti dirinya yang harus menjadi seorang dukun muda yang senantiasa berhubungan dengan orang kesurupan, ketempelan, ketindihan, hingga arwah-arwah gentayangan bandel yang enggan dikirim ke alam baka, setiap hari. Setiap hari Ros hampir tak pernah absen harus berjumpa dengan arwah-arwah yang memiliki rupa menyeramkan atau jelas-jelas tak memiliki muka sama sekali. Awalnya Ros tentu tidak terbiasa dan ketakutan sendiri dengan roman para makhluk yang terpaksa harus ia temui. Meskipun sudah jadi ‘akrab’ tetap saja, jika ada makhluk berpenampilan kelewatan seramnya, Ros masih suka sampai terbawa sampai mimpi. Tentu tidak ada yang mau untuk menggantikan posisinya atau jadi dirinya yang harus berhadapan setiap saat dengan arwah-arwah tersebut. Bukan hanya rupanya saja yang menyeramkan, tapi kadang tingkah dan kelakuannya yang memang tidak seperti manusia kerap merepotkan dan membuat Ros pusing hingga kebingungan. Ros tak bisa protes atau mundur. Karena Ros harus tetap profesional dengan pekerjaannya. Bagaimanapun kepuasan klien menjadi yang paling utama dan menjadi prioritasnya. Meski kadang Ros juga kerap merasa takut, merasa jijik, merasa ngeri, merasa mual, merasa marah, merasa geram, dan rasa-rasa lain yang bercampur dalam dirinya mempengaruhi pikirannya, tapi Ros tetap tak dapat mundur. Ada pasien atau klien yang juga pasti berharap bantuannya dapat mengeluarkan mereka dari derita dan rasa sakit. Ros bahkan pernah bertemu klien yang hampir tidak punya uang untuk membayar jasanya. Namun dari kali pertama melihat, Ros sudah bisa merasakan bahwa putri semata wayang klien tersebut sudah lama ditempel oleh arwah yang sengaja menjauhkannya dari jodoh. Entah kiriman atau memang arwah tersebut yang mendekat. Ros pun dengan sukarela datang dan membantu agar putri dari bapak itu bisa lepas dari arwah tersebut. Cukup sulit jug Ros untuk melepaskan anak perempuan itu. Pertama arwah yang menempel ternyata memang sudah menyukai anak perempuan itu juga, dan yang kedua anak perempuan itu sudah mulai terbiasa dengan ‘kehadiran’ arwah yang terus menempel dan mengikuti ke mana dia pergi. Ros jadi seperti memisahkan kedua sahabat atau mungkin kekasih lintas alam yang terpaksa berpisah karena memang tidak seharusnya mereka bersama-sama. Bapak anak perempuan tersebut sampai berterima kasih pada Ros karena akhirnya anak perempuannya bisa kembali normal dan menjalani kehidupan layaknya perempuan dewasa kebanyakan. Meskipun Ros tahu, arwah tersebut tidak sepenuhnya pergi dan melepaskannya. Namun sekarang, karena ancaman Ros, arwah tersebut hanya bisa memantau dari jauh. Sebenarnya Ros merasa tak tega karena mungkin saja arwah itu memang tulus. Tapi bagaimanapun, mereka berasal dari alam yang berbeda. Ros pernah beberapa kali merasakan dengan jelas bahwa arwah tersebut masih berada di sekitaran anak perempuan itu. Namun selama arwah tersebut tidak mengganggu atau melukai pasangannya saat ini, Ros tak akan mengambil tindakan apa-apa. Karena Ros memahami bahwa perasaan makhluk hidup itu unik dan sulit dijelaskan dengan logika. Meskipun kadang manusia bisa menjabarkan dengan retorika dan kepiawaian kata-kata, tetap saja Ros ingin coba memahami hal tersebut dan melihat dari sisi yang berbeda. Kerinduan dan rasa sayangnya pada Ibu meskipun ia tak pernah tahu bagaimana wujud dan rupanya terasa indah dan menyejukkan isi hatinya. Apalagi bagi mereka yang sudah pernah melihat atau tahu sosok yang memang ia suka. Pasti jauh lebih luar biasa rasanya. Berpegang pada pemahaman itulah makanya Ros selalu mencoba mengerti kondisi para arwah yang seperti itu. Apalagi jika disadarinya bahwa dari mereka tidak ada hawa atau indikasi melukai atau sengaja ingin menyedot energi manusia. Maka Ros akan jarang sekali juga turut campur lebih dalam pada urusan mereka. Berbagai pengalamannya menghadapi beberapa arwah dengan banyak latar belakang membuat Ros akhirnya memiliki juga berbagai sudut pandang. Ada banyak arwah-arwah yang memang terjebak, tak punya pilihan hingga akhirnya terhasut oleh arwah jahat yang sengaja mempengaruhinya. Tapi tak sedikit juga arwah yang memang sudah tak tahu harus berbuat apa namun saat mereka tersadar, rupanya mereka sudah jadi arwah. Kebingungan dan keputusasaan tersebut kemudian dimanfaatkan banyak arwah dan jin-jin jahat yang memang sengaja mengumpulkan pasukan. Saat bersemedi itulah, Ros tak jarang berjumpa dengan para arwah atau jin usil dan jahat yang memang sengaja ingin menyesatkan dirinya. Untunglah ia memiliki kalung yang Ibu nya tinggalkan untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN