Pria yang baru masuk ke ruangan itu memiliki tinggi yang tidak berbeda dengan Taji. Hanya saja perawakannya agak berisi dan jalannya agak bungkuk. Ros terus memperhatikan pria itu sampai kemudian ia duduk. Sayangnya Ros tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Entah karena posisi Taji berdiri saat ini kurang menguntungkan, atau memang letak pria itu berdiri yang nyaris membelakangi. Meski begitu, Ros dapat melihat bagian samping dari pria tersebut. Ros masih menunggu sampai pria itu bicara. “Anakmu tidak akan kuat menerima semua warisanmu itu. Kenapa kamu masih bersikeras?” Ros mulai mendengar pria itu bicara pada seseorang. Nada bicaranya terdengar meremehkan. “Hidupnya tidak akan bertahan lama jika kau memberikannya terlalu banyak kekuatan. Sekarang saja tubuhnya sudah lemah. Kau hanya

