Kalau lo benci sekolah, berarti kita sama. kadang tuh gue bukan enggak mau belajar tapi sekolah di indonesia gimana gitu ya kan. pusing lah pokoknya kalo harus gue pikirin wkkwkwk. udah mending jalan - jalan ke pasar minggu, naik becak di ujung jalan. tolong lah lo pada jangan belagu, mana tau besok dapat cuan. - kevriawan, 2020 ( gak papa gaje, yang penting bukan gajein bini orang #peace)
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Bab 11 : Just Don’t Be Yourself
Pokoknya apapun dan gimana pun konteksnya, ketika jadi diri sendiri itu artinya lo sudah menunjukkan bagaimana sebenarnya sifat asli lo. Bahkan, menurut google, banyak banget tips and trick yang mengarahkan seseorang agar menjadi dirinya sendiri. Yah, untuk sekilas may be sounds good. Kalian bisa cek sendiri di bawah ini:
#1. Paham Mana Yang Mesti Diprioritaskan. Kita lebih galau memilih merek sepatu dibanding dengan pasangan hidup. Kita lebih pusing memikirkan haircut atau potongan rambut untuk tahun baru, dibanding dengan membuat daftar resolusi untuk diwujudkan. Atau kita lebih njelimet memikirkan kehidupan artis tersayang, daripada nasib keluarga sendiri. Kalau keadaan kita masih seperti ini, sebaiknya berubah jadi orang yang lebih bisa memilih mana yang lebih prioritas.
#2. Tidak Lagi Mengandalkan Orang Lain untuk Menggapai Impian Diri Sendiri. Memang, kita tidak bisa hidup sendirian. Kita butuh orang lain. Namun ketika memiliki mimpi atau cita-cita, kita tak bisa duduk terdiam saja dan menunggu orang lain yang mewujudkannya. Kita pun perlu bertanggung-jawab dengan usaha dan doa semaksimal mungkin. Saat kita terlalu mengandalkan gerak orang tua, bantuan teman, kekuatan posisi sanak famili, dsb, saat itu juga kita mesti sedikit mengubah haluan.
#3. Tahu Kapasitas Diri Bagi Orang Lain. Kita menganggap seseorang sebagai ‘belahan hati’ dan sangat mengistimewakannya. Sosok dia bisa menjadi ‘percik semangat’, tapi di lain waktu bisa menjadi batu besar yang menghadang semangat. Di tangannya, kita begitu mudah menjadi kuat. Namun di tangannya juga, kita jadi cepat rapuh bahkan hancur berkeping-keping. Semuanya tak akan menjadi masalah serius, kecuali kalau dia sendiri memperlakukan kita secara biasa saja. Dia tidak memandang kita, layaknya kita memandang dia. Inilah salah-satu keadaan, di mana kita tidak belum tahu posisi diri sendiri bagi orang lain. Orang itu bahkan sudah bisa menjadi ‘racun’ dalam kehidupan. Karena itu, alangkah baiknya untuk berubah. Kita mesti berusaha untuk lebih tahu diri, dan memberikan yang terbaik pada mereka yang lebih bisa mengapresiasi dengan baik juga.
#4. Tahu Perspektif yang Baik. Perspektif atau pola pandang menjadi sesuatu yang penting. Ada momen-momen yang sangat menguji perspektif kita, apa sudah benar atau masih keliru. Misalnya ketika terjebak macet di angkutan umum. Pola pikir kita bisa terbagi dua. Pertama, kita akan menganggap apa yang terjadi adalah sesuatu yang bikin frustasi. Kedua, kita akan menganggap kalau kemacetan itu menjadi perpanjangan waktu untuk kita istirahat, melamun, mengecek ponsel atau mungkin bercengkerama dengan teman sesama penumpang. Perspektif pertama akan membuat darah meninggi dan mood jadi anjlok. Jika kita kerap terjebak dengan perspektif negatif seperti ini, sebaiknya pertimbangkan untuk berubah menjadi lebih bijak dan bisa menyaring hikmah di tiap keadaan.
#5. Tidak Lagi Menyalahkan Masa-Lalu. Banyak hal yang terjadi di luar kendali. Berbagai kejadian kurang baik di masa-lalu mungkin terkesan kejam, menyedihkan atau tidak adil untuk dialami. Namun bagaimanapun, masa-lalu sudah berlalu. Sekuat apapun kepalan tangan, gemeretak gigi atau pukulan kita pada tembok, sesuatu yang sudah terjadi tak akan tiba-tiba berubah. Jika kita masih menyudutkan apa yang sudah terjadi, sebaiknya segera edit bahkan hapus. Kita masih memiliki masa depan dan berkompromi dengan masa kini untuk hari yang lebih baik esok hari.
#6. Tahu Apa Yang Sebenarnya Menjadi Masalah dan Tujuan Utama. Yang menjadi masalah itu; merek mobilnya atau fungsi transportasinya?, yang menjadi masalah itu; resepsi super mewah atau keluarga yang sakinah-mawaddah-warahmah?, yang menjadi masalah itu; lulusan sarjana atau moralnya sebagai manusia? dsb. Kadang kita tahu apa yang sebenarnya menjadi target, tapi sering juga kita tak sungguh- sungguh menggapainya.
#7. Mencintai dan Menaruh Kepercayaan Pada Diri Sendiri. Kita terlalu fokus menebar cinta pada orang lain. Hal itu membuat kita berusaha sekeras mungkin agar tampil mengesankan di depan orang tersayang. Kita menjadi orang lain agar bisa dicintai balik. Kita memaksakan diri dan tak lepas, karena takut kelemahan diri akan ketahuan dan orang yang sedang diincar pun akan menghindar. Jika begitu, mungkin ini saatnya kita belajar menaruh cinta dan rasa percaya juga pada diri sendiri. Dengan tampil dan bersikap selayaknya kita, barulah kita tahu mana cinta yang tulus dan bisa menerima.
#8. Menerima Kelemahan dan Kekurangan Diri. Kita masih tidak percaya diri, masih membandingkan diri dengan orang lain bahkan berharap menggantikan posisi seseorang. Sesuatu yang pasti sangat menyiksa. Jangan menjadi ‘diri sendiri’ yang seperti demikian. Sebab selain kelemahan, kita juga punya kekuatan.
#10. Bisa Belajar Dari Orang Lain dan Move on Pada Waktunya. Kita pasti pernah mendengar kata-kata mutiara kalau “ada orang-orang yang didatangkan padamu sebagai anugerah dan ada juga mereka yang datang sebagai pelajaran”. Tak ada yang datang sebagai ujian atau siksaan. Tak ada kejadian yang terjadi tanpa alasan. Jika belum bisa mengampuni orang yang sudah mencabik hati, sebaiknya direnungi dulu. Betapa orang itu sudah mengajarkan banyak pelajaran.
#11. Jujur dengan Hubungan yang Sedang Dijalani. Jika sudah menikah dan tidak bahagia, selingkuh bukan opsi yang tepat untuk menyelesaikannya. Sebaliknya jika sudah merasa bahagia, maka pengorbanan yang kita berikan jangan dianggap sebagai beban. Pengorbanan demi mengembangkan senyum orang tersayang justeru bisa menjadi nikmat luar-biasa.
#12. Belajar Nyaman di Tengah Ketidaknyamanan. Begitu lulus sekolah, kita seperti dibukakan mata kalau mendapatkan uang itu tidak sesederhana meminta pada orang tua. Kita sudah keluar dari zona nyaman. Hidup jadi tidak menyenangkan. Kita terus belajar lebih dewasa, belajar menelan kepahitan, belajar dikejutkan oleh kejadian tak tak terduga dalam kehidupan, dsb. Kalau kita masih tak nyaman hidup seperti itu, coba mulai berpikir untuk berubah.
#13. Berhenti Menjadi “Boneka” dan Belajar Menjadi Sosok yang Seharusnya. Diri kita masih menjadi ‘orang lain’. Kita masih berjalan, namun di atas sepatu orang. Mestinya kita melangkah dengan alas kaki sendiri. Artinya, kita seringkali tidak menuruti kata hati dan pikiran sendiri. Masih jadi boneka. Sehingga segala sesuatunya masih didikte. Sudah saatnya hengkang. Harus lebih mendengar bisikan nurani serta logika sendiri.
#14. Tidak Lagi Pasrah Menyerah. Ada jurang pembeda antara pasrah dengan sabar. Dengan berpasrah diri, kita seperti menutup kepercayaan pada kekuatan diri sendiri. Entah kekuatan untuk memulai sesuatu demi mencapai target, atau kekuatan untuk mempertahankan hasil dari perjuangan. Jika masih enggan berurusan dengan usaha, doa dan tawakal, ada baiknya untuk mempertimbangkan perubahan.
#15. Terus Tahu Diri di Hadapan-Nya. Tak peduli seluhur apapun status sosial kita, atau sebungkuk apapun orang menghormati kita, posisi sejati kita tetaplah hanya seorang hamba. Kalau masih sombong dan menganggap Tuhan tak terlibat apapun dengan urusan hidup, maka segera pikirkan ulang. Bisa kita rasakan betapa hampanya hidup apabila tidak melibatkan agama atau pencipta dalam kehidupan. Kita butuh tempat bernaung, tempat bersimpuh, tempat mengadu dan tempat… untuk pulang. Pada siapa lagi kalau bukan pada Tuhan?
Jadi, sebenarnya JADI DIRI SENDIRI itu ngapain, sih?
Ada pendapat lain dari Hidayathul Mardhiah, yang juga mengatakan begini: Just be yourself ini kata-kata motivasi yang bagus. Pernyataan tersebut menginspirasi kita untuk tidak ikut-ikutan menjadi orang lain. Jadi diri sendiri dan lakukan segala sesuatu dengan cara kita sendiri.
Ketidaksetujuan gue atas pernyataan tersebut dikarenakan penerapannya yang membuat susah diri sendiri. Memaksakan menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang memiliki nilai-nilai yang dijunjung tinggi seperti nilai kesopanan dan nilai kesusilaan itu sulit. Yah, kecuali diri lo yang sebenarnya adalah contoh hidup nilai-nilai yang ada.
Gue pribadi menganggap menjadi diri sendiri membuat seseorang menjadi keras pada dirinya dan orang lain serta membuat kemampuan beradaptasi seseorang menjadi kurang baik. Apalagi faktanya lo enggak hidup sendiri. Menjadi diri sendiri dapat membuat orang-orang yang lo sayangi mungkin kecewa, bahkan menciptakan konflik sengit.
Apakah sekarang lo udah cukup bingung? Nah, mari kita ulas jawaban di chapter selanjutnya!
* * * * * to be continued * * * * *
By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!
Bye ....