Bab 5.3 : Sesuatu yang Tampak dan Tak Tampak

1157 Kata
Semua orang berebut mau sukses. Seolah bakalan kelaparan dan mati ditengah jalan kalau enggak sukses. sukses itu bukan sejenis merk mie instan duo isi jumbo, kan, ya? - kevriawan 2020 = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Bab 5 : Sesuatu yang Tampak dan Tak Tampak   Memang, gue mengakui bahwa bukunya Kiyosaki ini mantoel pake banget. Akan tetapi gue enggak sepenuhnya setuju. Begini, setiap orang itu diciptakan beda - beda. Semua orang memang ingin jadi pengusaha, pebisnis, investor, dan kawan - kawannya. Siapa juga yang enggak pengin, kan? Tapi masalahnya kita harus memandang kehidupan yang fana ini secara realistis. Enggak semua orang memiliki privilege alias hoki yang haqiqi dalam menjalani hidup ini. Terlebih, kita ini hidup di Indonesia, bukan Amerika tempat di mana Robert Kiyosaki ini tinggal, hidup, menghadapi cobaan lalu sukses. Indonesia dan Amerika punya sangat banyak perbedaan, dari budaya, sistem ekonomi, sistem pemerintahan, dan bukan enggak mungkin Robert Kiyosaki juga hoki karena doi ada di Amerika, bukan di Indonesia.   Pendapat gue kayak gini, bukan berarti gue enggak mendukung lo semua untuk pindah kuadran ke pebisnis atau investor, ya. Tapi gue harus tekankan kalau perjalanan ke sana akan sangat panjang tanpa HOKI.    Loh, hoki gimana? Bukankah semuanya hanya karena usaha? Oh, tidak semudah itu Ferguso, Marimar, Fernando Hose!    Begini, lo anak orang kaya, bisa sekolah di SD Internasional, sementara tetangga lo yang B aja cuma mengandalkan SD Negeri. Nenek - nenek ompong lagi ngunyah sirih juga tahu kalau sekolah di SD Internasional yang biayanya lebih mahal pasti punya kualitas lebih bagus daripada sekadar SD Negeri, kan? Weits! Bukan gue merendahkan, gue juga lulusan SD Negeri, kok, tapi kita bicara realistis. Dari kemampuan berbahasa inggris, nalar, logika, attitude, mana yang lebih bagus? Pasti yang di SD Internasional, kan? Kenapa? Ya jelas dong, bayarannya beda, kurikulum beda. Ketika anak SDN cuma belajar perkalian, mungkin yang SDIT udah pada belajar MTK pake konsep angin, air, api, tanah, udara ---- lalu jadi avatar. Enggak, deng. Bercanda.   Ya, Intinya begitu, gue yakin kalian pasti paham maksud gue. Itu semua bisa tercapai karena ada unsur HOKI-nya juga. Atau bahasa kerennya privilege. Terus yang enggak punya hoki macam itu apa enggak bisa? Ya, bisa dong. Tapi dibayar dengan kerja keras, minimal 10x lipat. Cuma, lagi - lagi harus lihat dulu konteksnya. Jangan kerja - kerja aja tapi in the end ternyata zonk. Selain kerja keras juga harus kerja cerdas.    Lagi pula, menurut gue, menjadi karyawan dan mengabdi bertahun - tahun juga enggak ada salahnya. Banyak juga kok yang sukses dengan cara seperti itu. Orang yang sering dibilang b***k korporasi sama millennials yang ngebet jadi pengusaha itu buktinya banyak yang sanggup menyekolahkan anak - anak mereka sampai ke perguruan tinggi. Percayalah, faktornya banyak, jadi pengusaha enggak segampang yang dibilang motivator, sementara jadi karyawan enggak se-ampas yang dikatakan para ambisius yang ngebet punya bisnis. Semua tetap ada sisi positif dan negatif.    Semua orang punya kolamnya masing - masing.   Membaca buku motivasi bagus, punya keinginan sukses bagus, tapi tolong banget jangan lo telan semua itu mentah - mentah. Bisa jadi bukan sukses, malah gila sendiri mikirin teori yang sebenarnya dikupas hanya setengah - setengah di buku itu. Kenapa gue bilang setengah - setengah? Ya, kalau lengkap enggak bakalan dikasih, lah, entar jadi banyak orang kaya … terus yang kerja dan beli - beli barang siapa? Roda perekonomian enggak berputar dong? Come on, Tuhan sudah menciptakan dunia sedemikian rupa, agar setiap orang puas pada tempatnya, ada porsinya masing - masing. Enggak jadi pebisnis enggak bikin lo mati, suer. Tetap bisa sukses dengan cara lain.   Lagian, kalau lo membaca buku - buku motivasi yang asalnya dari LN itu pasti kebanyakan case yang diceritakan ya yang relate di negara asalnya. Contoh, nih, ya … dari cerita pelayanan dinas sosial Australia di dalam buku, ada benang merah yang menyambungkannya dengan cerita Kiyosaki ini. Keberanian Kiyosaki untuk jatuh-bangun atau bahkan berani enggak punya duit satu sen pun harus dilihat dari konteks Amerika. Ini pastinya beda banget dengan konteks ke-Indonesia-an. Amerika dan kebanyakan negara-negara maju adalah negara yang dibangun dengan konsep welfare state.    Gue nyontek di wiki dan mengutip dari kompasiana, welfare state adalah sebuah konsep di mana negara memiliki peran kunci dalam memberikan proteksi dan menumbuhkan sosial ekonomi masyarakatnya. Hal ini didasarkan pada prinsip kesetaraan kesempatan, pemerataan kekayaan, dan tanggung jawab publik bagi mereka yang tidak mampu memiliki kehidupan yang layak. Welfare state menjalankan pola transfer dana dari negara kepada penyelenggara layanan, misalnya pelayanan kesehatan dan pendidikan, ataupun langsung diberikan kepada individu. Tipikal dari welfare state ini adalah penerapan pajak progresif dan tentu saja tarif pajaknya sangat tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Nantinya, pajak individu inilah akan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran seperti di atas. Pola ini diyakini dapat mengurangi kesenjangan antara si kaya dan si miskin.   Pemerintah Indonesia pun mengalokasikan dana untuk pendidikan dan kesehatan, tapi tidak untuk langsung diberikan ke Individu. Kecuali BLT yang katanya sebagai dampak kenaikan harga BBM. Sayangnya, meski alokasi untuk pendidikan dan kesehatan cukup besar, kualitas sekolah negeri kita masih jauh dari harapan. Belum lagi, beberapa pemerintah daerah belum menggratiskan pendidikan dasar dan menengah.   Artinya, tidak memiliki satu rupiah di Indonesia sangat berbeda konteksnya dengan tidak memiliki satu sen pun di Amerika. Tidak memiliki satu rupiah bisa berarti banyak. Tidak memiliki satu rupiah berarti tidak bisa menyekolahkan anak, apalagi sekolah di tempat yang bagus. Tidak memiliki satu rupiah berarti dilarang sakit. Tidak memiliki rupiah juga berarti tidak makan. Tidak memiliki rupiah juga berarti tidak bisa mengembangkan diri.   Tentu berbeda dengan negara-negara yang mengadopsi konsep welfare state. Sebagaimana dalam grafik yang saya paparkan dalam tulisan saya sebelumnya, Australia menganggarkan sekitar 35% untuk welfare security and welfare, 15% untuk kesehatan dan 7% untuk pendidikan. Artinya, tidak memiliki satu dolar di negara ini tetaplah bisa menyekolahkan anak di public school dengan fasilitas yang memadai karena pendidikan gratis hingga tingkat SMA. Tidak memiliki satu dolar di negara ini tetap bisa makan karena negara memberikan tunjangan bagi para pencari kerja. Tidak memiliki satu dolar di negara ini masih bisa menitipkan anak di child care yang baik karena negara memberikan subsidi pembayaran. Dan banyak tunjangan-tunjangan lainnya yang diberikan oleh pemerintah. Hal ini tak jauh berbeda dengan Amerika. Berdasarkan data yang saya peroleh dari mbahwiki anggaran untuk sosial security mencapai 22%.   Jadi, menjadi Robert Kiyosaki di Amerika lebih mudah daripada di Indonesia. Kalaupun usaha bangkrut dan semua harta benda habis, kita masih bisa menyekolahkan anak. Kita masih bisa makan karena pemerintah siap membantu dengan tunjangan-tunjangan. Kita juga masih bisa mengembangkan diri karena negara menyediakan perpustakaan dengan kualitas bagus di banyak tempat.   So, sampai di sini gue harap bisa memberikan sedikit pencerahan soal kesuksesan.     * * * * *   to be continuded    * * * * *  By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!   Bye ....   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN