Kalau lo benci sekolah, berarti kita sama. kadang tuh gue bukan enggak mau belajar tapi sekolah di indonesia gimana gitu ya kan. pusing lah pokoknya kalo harus gue pikirin wkkwkwk. udah mending jalan - jalan ke pasar minggu, naik becak di ujung jalan. tolong lah lo pada jangan belagu, mana tau besok dapat cuan. - kevriawan, 2020 ( gak papa gaje, yang penting bukan gajein bini orang #peace)
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Bab 10 : Pendidik yang Perlu Didikan Juga
Gue tahu bahwa hidup di dunia yang terkadang suka mirip tokai kerbau yang kena injak kuda bukanlah hal yang mudah. Lo akan dituntut untuk melakukan berbagai macam hal yang mungkin saja sebenarnya enggak lo sukai, enggak lo kehendaki, atau pun enggak lo inginkan sama sekali. Gue juga enggak mengerti sebetulnya, kenapa begitu banyak pemaksaan. Kenapa kita enggak bisa berlaku bebas seperti asas dalam pancasila. Padahal kebebasan adalah hak setiap bangsa, yang mana itu juga berarti setiap warga negaranya harus memiliki kebebasan yang hakiki. Tapi … so sadly, kenyataannya kebebasan yang kita alami ini semu. Ibarat kata cuma bayangan. Kayak orang diabetes yang kagak boleh makan gula, tapi dikibulin sama iklan gula anti diabet yang sebenarnya enggak jauh berbeda fungsinya sama gula biasa.
By the way, gue sering banget pake bahasa sok nyastra buat mengandaikan betapa fananya dunia ini. Just for your information saja, nih, menurut Wikipedia yang barusan gue baca, Fana secara bahasa berarti lenyap, hancur, sirna, atau hilang. Istilah fana' muncul dalam kajian tasawuf di abad III Hijriyah. Sufi yang pertama kali berbicara tentang kefana'an adalah Abu Yazid Al-Bustami. Istilah fana' muncul bukan hanya karena adanya perkataan fana' dalam ucapan Abu Yazid, melainkan juga karena adanya syatahat (ungkapan-ungkapan aneh) yang muncul dari sejumlah sufi, atau karena adanya tingkah laku dan keadaan yang diperlihatkan oleh mereka.
Al-Qusyairi, penulis tasawuf abad lima Hijriyah menjelaskan bahwa kalangan tasawuf mengisyaratakan fana' itu kepada gugur atau hilangnya sifat-sifat tercela dan mengisyaratkan baqa' (kekekalan) kepada munculnya sifat-sifat terpuji. Menurutnya, seorang manusia tidak bisa lepas dari salah satu kategori sifat-sifat tersebut, maka berarti ia jauh dari sifat-sifat tersebut dengan kata lain; sifat-sifat tercela itu telah lenyap dari dirinya. Sufi yang terpesona melihat keindahan Tuhan, dia tidak lagi menyadari apa saja selain Tuhan. Dalam keadaan demikian, sufi tersebut dikatakan fana’ dari segenap alam, termasuk dirinya sendiri. Dirinya dan alam semesta ini tentu saja tetap ada, tetapi sudah fana’ (lenyap) dari kesadaran sufi tadi, yang ada hanyalah kesadaran keberadaan Tuhan.
Oke, itu adalah hasil pencarian dari Wiki, yang mana pada intinya dunia yang fana itu artinya dunia cuma sementara. Enggak kekal, apalagi abadi. Gue terkadang suka muak sampai ke batas maksimalnya kalau bahas soal ini. Karena kebusukan dunia ini ibarat kata tiada akhir, ciye eylah wkwkwk, bahasa gue ampas bener , ya, kan. Untung ampas berlian, Haha.
Gue yakin untuk urusan yang satu ini bukan cuma gue saja yang merasakan hal seperti itu. Kadang gue suka bablas dan malah mempertanyakan alasan keberadaan manusia di dunia. Buat apa, sih, sebenarnya? Toh, enggak ada manusia yang beribadah juga, Tuhan akan tetap menjadi Tuhan. Bukan apa - apa, tapi gue merasa semakin lama dunia ini semakin b****k saja. Buktinya seperti yang sudah gue bahas sebelumnya. Katanya manusia itu adalah makhluk yang bebas, terserah mau ngapain aja bodo amat. Tapi kenyataannya kita enggak bisa seperti itu. Hidup sebagai manusia ini suka ada vangsad- vangsadnya juga.
Biarin dibilang gue kepedean, tapi gue yakin banget, 3000% (dibaca: telung ewu persen ---- bahasa yunani kuno) bahwa lo semua setuju sama gue. Hidup ini kadang ampas - ampas banget. Be like … yaelah, ngapain sih!
Bukan gue enggak bersyukur, atau apa deh namanya … kufur nikmat, ya? Bukan. Cuma gue agak menyayangkan saja. Karena pada kenyataannya kita - kita ini sudah mendapatkan tekanan yang begitu besar dari jaman masih sekolah. Harus gue akui, gue berterima kasih banget pada guru - guru yang membantu mendidik gue sampai secerdas ini. Tapi, gue juga enggak bisa memungkiri bahwa terkadang ada juga ---- bahkan mungkin banyak guru - guru yang kelihatannya itu macam dia yang perlu di didik kembali. Karena, gimana ya … enggak jarang gue lihat bapak dan ibu yang seharusnya mendidik ini malah menjatuhkan mental anak - anak.
“Jono, maju kerjakan tabel nomor sepuluh.”
Waktu itu gue masih kelas dua SMP, seperti yang sebelumnya pernah gue bahas bahwa gue ini enggak pinter MTK, sumpah demi k****t mermaid man yang di curi patrick dan di jemur di atap rumah tuan crab … MTK itu bagai bencana buat gue. Mengalahkan tsunami di Aceh, mungkin.
“Jono, ente dengar, kan, di suruh ngapain?”
Itu Pak XYZ. Guru MTK yang kata anak - anak lain --- yang pastinya lebih pintar dan cerdas --- adalah guru MTK terbaik di SMP. Doi bahkan membuka les - lesan dan gue tahu ada beberapa anak borju di kelas gue ikut bimbel MTK sama Pak XYZ. Tapi, serius, … gue pribadi enggak ada seneng - senengnya sama Pak XYZ. Selain karena gue enggak suka MTK, si bapak juga sebenarnya sering membuat gue merasa minder, karena sering banget secara enggak langsung membuat gue kehilangan minat pada MTK, juga membuat gue merasa jadi manusia paling bodoh di kelas. Seolah gue ini makhluk absurd dari planet lain yang boleh banget dijadikan bahan tertawaan satu kelas. Padahal … self esteem gue udah anjlok, jongkok, bahkan mungkin tiarap atau goleran sambil nonton anime.
Jadi waktu itu Pak XYZ meminta gue untuk maju ke depan, mengerjakan soal yang dia tulis di dalam tabel. Jangan tanya itu jenis materi yang mana, soal apa, cara mengerjakannya gimana. Karena bahkan gue enggak ingat ada bentuk MTK yang cara mengerjakannya harus pakai tabel. Yah, udah lah gue maju aja dulu. Bisa atau enggak masa bodo amat. Tapi memang gue sudah menyadari sejak awal kalau otak gue ini enggak sanggup kalau harus berhadapan sama MTK.
* * * * * to be continued * * * * *
By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!
Bye ....