Bab 14.2 : Keluarlah Dari Zona Nyamanmu, Yakin Mau?

1484 Kata
Ketika semuanya menjadi 'salah' dalam hidup Anda - Bekerja lebih keras. Jatuh Lebih Keras. Bekerja lebih keras lagi. Jatuh lebih keras lagi. Dalam proses ini - Anda akan menyadari bahwa fase 'salah' dalam hidup Anda sebenarnya adalah 'benar'. "Ketika semuanya menjadi 'salah' dalam hidup Anda - Anda hanya memiliki satu opsi - bertumbuh. Untuk menjadi lebih kuat dari orang lain di luar sana. Tidak ada pilihan selain berhasil. Berdoalah agar Anda jatuh sedalam itu."- kevriawan, 2020    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =    Bab 14 : Keluarlah Dari Zona Nyamanmu, Yakin Mau?   Jadi, hal apapun yang membuat kita nyaman dan enggan beranjak karena takut terjadi sesuatu jika meninggalkannya adalah merupakan Zona Nyaman. Takut mencoba sesuatu yang baru adalah definisi paling sederhana dari kalimat 'terjebak di zona nyaman'.   Skripsi, diet, olahraga, traveling, memulai sebuah bisnis, mencari pekerjaan, hal tersebut adalah sekian dari banyak hal yang ingin disukseskan oleh banyak orang namun selalu gagal untuk dilaksanakan. Kita gagal melaksanakan hal-hal itu bahkan sebelum memulainya karena takut akan kemungkinan-kemungkinan 'buruk' yang mengikutinya. MIsal, kita ingin kurus maka kita harus mengorbankan makanan favorit, jika ingin memulai sebuah usaha maka langsung terbayang kegagalan dan penderitaanya, saat ingin memulai mengerjakan skripsi, langsung terbayang wajah garang sang dosen.   Kita selalu menghindar dengan berbagai macam alasan dan kekhawatiran, alhasil kita akan terus terjebak dalam zona nyaman dan tidak bisa berkembang.   Guys, pendapat ini beredar dengan sangat kuat. Ini adalah kata - kata motivasional yang menurut gue pasti akan lo temui di berbagai channel motivasi yang menawarkan kesuksesan instan. Misalnya ya kayak MLM ini, si Ampasway. Banyak yang bilang, kalau kita akan langsung sukses kalau mau keluar dari zona nyaman.   Ha ha ha. Ketawa dulu gih.   Iya, memang bisa. Tapi nggak gitu konsepnya. Contoh, ini ada cerita lo pada baca dulu: Budi adalah anak yang pandai, tetapi dia pemalas. Kerjaannya hanya membaca buku. Dia kerja serabutan sebagai kuli bangunan. Terkadang pula ia menjadi web designer online dengan sistem bebas. Dia sangat ingin sukses, tetapi dia takut melangkah keluar dan mencoba hal yang baru.   Coba tebak, apakah begitu si Budi ini keluar dari zona nyamannya, dia langsung berubah jadi Power Rangers gitu?   Kita semua tahu bahwa sebagian faktor yang menyebabkan orang tidak mau keluar dari zona nyamannya adalah karena ketakutan. Takut akan tidak sukses, takut nggak ada yang menerima dia, takut salah, dan takut gagal. Lantas apakah seseorang yang takut mencoba hal baru, akan langsung dapat mengatasi rasa takutnya ini, dan kemudian boom! dia menjadi seorang Presiden Direktur perusahaan?   Nggak bisa begitu. Berjalan dengan rasa takut yang membayangi seseorang saat keluar dari zona nyamannya itu mempunyai dua kemungkinan. Satu, dia cepat beradaptasi dan nyaman dengan hal barunya, dan kedua, dia sulit beradaptasi dan tidak nyaman hingga gagal berada di lingkungan barunya. Semua itu membutuhkan yang namanya proses dan kemauan.   Kalau lo nggak ada kemauan buat sukses di zona lain, mana bisa lo bersungguh-sungguh? Proses yang nantinya akan lo jalani pun pasti lebih sulit. Sesuatu yang nggak membuat kita nyaman dan menyulitkan diri cenderung susah diterima. Kita nggak bisa berproses dengan mudah di ranah yang tidak kita sukai. Meski dipaksa pun, memangnya jalan yang lo lewati akan mulus banget gitu? Apalagi kalau tanpa amunisi. Wah, bisa macet di tengah jalan dong.   Kagak perlu insecure karena kamu belum keluar dari zona nyaman lo. Coba kembangkan diri lo terlebih dahulu di bagian yang benar - benar lo sukai. Perspektif seperti ini memang ingin membuat manusia berusaha lebih produktif, inovatif, dan berani lagi. Tetapi yang namanya jalan kesuksesan orang itu berbeda-beda. Begitu pun dengan titik keberhasilan dan pencapaian kita. Enggak usah terlalu minder sama pencapaian orang lain. Rumput tetangga emang selalu kelihatan lebih hijau ya.   Back to the topic.   Persentase kesuksesannya nggak bisa diukur kalau enggak ada perbandingan yang relevan. Jawaban gue ini lebih berkaitan dengan karakter ya. Kalau lo pekerja keras dan berani mencoba, itu lebih memungkinkan untuk sukses dibandingkan dengan orang bermental inhaler yang langsung keluar dari zona nyamannya. ORang bermental inhaler ini adalah orang yang menganggap bahwa dirinya (pribumi) ampas dari yang terampas dibanding orang lain yang misalnya bangsa amerika, arab, jepang, china, dll. Nanti akan gue bahas dalam section khusus, ciye eylah, wkwk.   Nah, sekarang mari bayangkan saja, kalau Si Inhaler ini dipaksa keluar dari zona nyamannya dengan dalih mencari kesuksesan, apa yang kira-kira bisa dia lakukan? Setidaknya kita persiapkan dulu mental dan pengetahuan terkait dengan dunia baru yang ingin kita jelajahi itu. 'Keluar dari zona nyaman' nggak serta merta langsung loncat dari satu zona ke zona lain lho ya. We need to prepare. Kalau mendadak loncat gitu mah sama saja kita jalan dengan mata tertutup, nggak akan sampai.   Sekali lagi, out of the comfort zone bukan berarti nggak ada proses. Semua butuh proses dan persiapan. Setidaknya lo siap untuk memasuki dunia baru itu dan memahami sebagian konsepnya. Jangan buta arah. Serius, lo enggak akan sukses kalau hanya mengandalkan kalimat ini. Setiap jalan ada banyak kemungkinan. Cara ini nggak mesti bikin lo langsung sukses. Sekali lagi, ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk mengukur kesuksesan kita dari cara tersebut.   Sebenarnya kalau sekarang ini lo bisa sukses ketika berada di zona nyaman, berarti pekerjaan yang lo lakukan selama ini sudah cocok dan membawa kebaikan bagi hidup lo. Ngapain, mau pindah zona kalau memang begitu kenyataannya?   Di sini, gue akan coba jelaskan. Memang kalau sudah menikmati zona nyaman, kita akan enggan dan berat keluar meninggalkannya. Zona nyaman di sini bisa mencakup bekerja sebagai karyawan atau bekerja sebagai usahawan. Ada karyawan yang kelimpungan ketika pensiun, atau ada juga pengusaha yang bingung ketika usahanya harus tutup atau bangkrut tiba-tiba.   Bekerja sendiri ataukah bekerja dengan orang lain? Itu choice, itu pilihan hidup lo. Di dunia ini, ada orang yang cocok jadi pegawai, ada yang cocok jadi pebisnis. Masing-masing punya konsekuensinya sendiri. Akan tetapi semua kesuksesan itu, apapun jalannya, memerlukan proses belajar, proses beradaptasi, dan harus melewati jalannya sendiri …. Dengan bekerja sendiri, berarti kita akan punya kebebasan dan kemerdekaan. Walaupun berat di awalnya, tetapi ringan dan tenang di akhirnya. Terutama apabila usaha kita sudah lancar jaya….   Sebaliknya bekerja dengan orang lain, dibatasi oleh banyak hal. Tak seleluasa bekerja sendiri. Mulai dari batasan usia, masa produktivitas kita, harus ikut kemauan orang, dan yang paling menonjol adalah hidup kita tidak merdeka. Namun tentu saja—enaknya—kita tak perlu pusing memikirkan, bagaimana caranya agar usaha ini tetap survive …. Biar bos saja sendiri yang pusing memikirkannya. Akan tetapi kedua-duanya punya kesamaan yang harus kita perhatikan, yakni zona nyaman. Jangan sampai zona nyaman itu membuat kita terlena! Karena kalau sudah terlena, maka itu berarti akhir masa hidup kita juga.   Kalau profesional itu bisa bekerja sebagai kedua-duanya. Baik sebagai pegawai ataupun menjadi pebisnis, wiraswasta. Sekalipun tentu saja, tetap ada konsekuensinya masing-masing. Maksudnya tak ada jalan hidup yang sempurna. Maksud motivator - motivator di luar sana adalah ... jangan sampai lo baru menyadari karena kelamaan hidup di zona nyaman. Ketika semua sudah terlambat. Lalu saat itu sudah tak sempat membuat contingency plan lagi, ketika ada perubahan musim. Kita tak punya waktu lagi untuk belajar beradaptasi dan menyesuaikan diri.   Ketika roda pedati kehidupan bergilir berputar di bawah. Ketika suhu dalam panci tempat zona nyaman si katak, berubah semakin panas dan mendidih. Ketika keju enak dan nikmat yang dimakan setiap hari oleh si tikus tiba-tiba menghilang. Kita tak bisa lagi menyesuaikan diri kita beradaptasi dengan alam kehidupan kita yang baru yang tak senikmat sebelumnya. Ketika kapal besar hidup kita karam kandas di lautan, dan pelan-pelan tenggelam ke dasar lautan, sementara tak ada lagi sekoci kecil di sekitar atau benda lain yang bisa kita raih untuk menyelamatkan diri kita. Kita akan mati begitu saja, dilindas jaman. Tubuh kita terlalu gendut dan tambun untuk bergerak lincah menyelamatkan diri.   Di sinilah fungsi motivator itu sebenarnya. Mengingatkan kita agar selalu waspada dan siap sedia menghadapi berbagai kemungkinan hidup yang tak menyenangkan. Kalau lo kelamaan hidup di zona nyaman—ketika zona itu menghilang karena suatu sebab—dan lo enggak bisa beradaptasi dan belajar tentang hal yang baru ini, maka hidup lo kemungkinan akan hancur. Makanya motivator selalu mengingatkan, jangan sampai telat. Agar kita tetap bisa survive, apapun tantangan hidup kita. Untuk tetap belajar, beradaptasi, menyesuaikan diri dengan perubahan.   Memang tak ada salahnya kita menikmati zona nyaman. Akan tetapi kita juga harus tahu time line-nya dan sampai di mana ujung jalannya …. Agar kita masih punya waktu untuk mempersiapkan diri. Sedia payung sebelum hujan, bukan sedia payung karena hujan ….   * * * * *   to be continued * * * * *   By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!   Bye ....     
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN