Perkataan Tajam 2

1280 Kata
    Tidak membutuhkan waktu lama bagi Darka untuk tiba di kediamannya yang baru, di mana dirinya tinggal bersama Tiara. Di depan gerbang, ia bisa melihat mobil pribadi sang ayah, yang tandanya kedua orang tuanya masih berada di rumahnya. Darka memasrkirkan mobilnya di garasi. Namun, Darka tidak terburu-buru masuk ke dalam rumah. Ia memejamkan matanya berusaha untuk mengendalikan dirinya dengan baik. Ia tidak boleh terlihat panik atau terlihat sudah melakukan kesalahan besar. Itu akan menjadi senjata bagi Puti dan Nazhan untuk menekannya atau bahkan memberikan hukuman kembali padanya. Jelas, Darka tidak mau lagi semua gerakannya terbatasi karena fasilitas yang kembali ditarik oleh kedua orang tuanya.     Setelah menenangkan dirinya, Darka pun turun dari mobil mewah miliknya dan meangkah untuk memasuki rumahnya. Mungkin, karena terbiasa, Darka tidak mengucapkan salam saat memasuki rumah. Saat itulah, Puti yang masih berada di ruang tamu dengan tajam berkomentar, “Sepertinya, Mama tidak membesarkan seekor ayam.”     Darka berdeham, dan mengucapkan salam. Ia tentu mengerti jika sebelumnya Puti mengatakan hal itu untuk mengkritik sikapnya yang tidak tahu adab dengan masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam. Darka lalu beranjak mencium tangan ibu dan ayahnya sebelum duduk di samping Tiara. Tentu saja, Tiara juga mencium punggung tangan Darka dengan hormat, meskipun raut wajah Darka tampak tegang saat bibir lembut Tiara menyentuh permukaan punggung tangannya. Butuh beberapa detik bagi Darka untuk mengendalikan dirinya dan mengalihkan pikirannya dari kelembutan bibir Tiara yang sudah dipastikan belum ada yang pernah mencobanya. Rasanya, Darka ingin sekali mencicipi kelembutan itu. Namun, Darka tidak mungkin membuang harga dirinya untuk menyentuh wanita yang ia anggap tidak selevel dengannya itu.     Puti pun menatap tajam pada Darka dan bertanya, “Dari mana?”     Darka pun dengan lancar menjawab, “Habis bertemu dengan Jarvis.”     Tentu saja, sebelumnya Darka sudah menghubungi Jarvis dan meminta sahabatnya itu membantunya dalam masalah meyakinkan ibunya. Sudah dipastikan jika nanti Puti dan Nazhan akan memeriksa jawaban yang sudah diberikan oleh Darka. Jika sampai Puti bertanya pada Jarvis dan sahabatnya itu tidak menjawab sama dengan apa yang dikatakan oleh Darka, maka sudah dipastikan jika Darka akan mendapatkan hukuman yang lebih mengerikan daripada hukuman yang ia terima sebelumnya. Hukuman yang sudah dipastikan akan membuatnya hidup dengan begitu menderita.     “Benarkah? Bagaimana kalau Mama menghubungi Jarvis dan mendapatkan jawaban yang tidak sama dengan jawaban yang kamu berikan?” tanya Puti.     “Jawabannya pasti sama. Kami menghabiskan waktu di apartemennya dengan bermain games dan makan. Aku tidak melanggar apa yang sudah kita sepakati, Ma,” jawab Darka dengan penuh percaya diri.     Nazhan sendiri mengamati ekspresi putranya. Sebenarnya, Nazhan agak menyesal karena sudah memberikan ilmu untuk mengendalikan ekspresi agar semua emosi serta apa yang ia katakan sebenarnya tersembunyi dengan apik dalam ekspresi yang ia pasang. Karena ilmu itu, Nazhan saat ini bahkan tidak bisa membaca apa putranya ini berbohong atau tidak. Sementara itu, Puti masih menatap tajam pada putranya, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Darka. Tentu saja, Darka yang merasa agak terdesak segera berkata, “Jika Mama masih tidak percaya. Mama bisa menelepon Jarvis dan bertanya padanya. Tolong jangan menatap Darka dengan penuh kecurigaan seperti itu. Darka benar-benar tidak nyaman dengan tatapan itu.”     “Untuk apa Mama menghubungi Jarvis. Sebelumnya, kamu pasti sudah menghubunginya agar memberikan jawaban yang sesuai dengan apa yang kamu katakan sebelumnya. Sekarang kita lewatkan masalah itu, dan anggaplah kamu memang menghabiskan waktu dengan Jarvis,” ucap Puti. Darka diam-diam menghela napas dalam hatinya. Ibunya ini memang sangat cerdas, bisa dengan mudah membaca apa yang ia rencanakan. Namun, setidaknya saat ini Darka bisa bernapas lega karena dirinya tidak perlu lagi mencemaskan Puti yang akan mendesaknya menjawab dengan jujur ke mana dirinya sudah pergi. Jika sampai itu terjadi, maka Darka akan berada dalam masalah besar.     “Jangan merasa lega terlebih dahulu,” ucap Puti saat melihat jika Darka lebih rileks daripada sebelumnya.     Darka hampir mengeluh saat mendengar apa yang sudah dikatakan oleh sang mama. Namun, Darka tentu saja tidak mungkin mengatakan keluhannya tersebut dengan leluasa pada ibunya yang sudah pasti akan memberikan sebuah pukulan pada punggungnya saat mengatakan omong kosong padanya. Darka hanya bisa diam dan menunggu kelanjutan dalam pembicaraan ini. Namun, ternyata, Nazhan yang melanjutkan pembicaraan tersebut. “Papa dan Mama memberikan cuti padamu bukan untuk membuatmu bersenang-senang di luar seorang diri seperti ini, Darka. Apalagi, kau ke luar dari rumah dari pagi hingga malam seperti ini. Kau bahkan tidak memberitahu Puti kau akan pergi ke mana. Apa kau tidak berpikir bagaimana perasaan Puti?” tanya Nazhan dengan nada serius.     Darka saat itu melirik pada Tiara yang tampak gelisah di sampingnya. Itu artinya, Tiara tidak mengatakan apa pun mengenai apa yang sudah dikatakan Darka sebelum ia pergi menemui Vanesa. Kenapa Tiara menyembunyikan masalah itu? Apa karena Tiara takut padanya? Atau mungkin Tiara tengah melindungi harga dirinya sebagai seorang istri? Apa Tiara pikir, dengan menyembunyikan fakta bahwa Darka pergi menemui wanita lain, Darka bisa melihat Tiara sebagai wanita yang pantas untuk menjadi istrinya? Memikirkan hal itu, Darka malah merasa semakin kesal pada Tiara.     “Apa mungkin kau lupa dengan apa yang sudah Mama katakan padamu?” tanya Puti.     “Perkataan Mama yang mana?” tanya balik Darka. Karena apa yang dikatakan oleh Puti tentu saja tidak hanya satu dua hal saja.     “Tentang kamu yang harus menjaga sikap. Jangan membuat Mama dan Papa kecewa, Darka. Ini adalah kesempatan terakhirmu. Jika kamu tetap mengulangi kesalahan yang sama seperti kesalahan yang sudah pernah kamu lakukan sebelumnya, maka Mama dan Papa tidak akan lagi memberikan toleransi padamu,” ucap Puti.     Apa yang dikatakan oleh Puti ini sama sekali bukan omong kosong. Puti dan Nazhan sudah menyepakati hal ini bersama. Jika sampai Darka mengulangi kesalahan yang sama, maka keduanya tidak akan segan-segan melakukan apa yang sudah mereka ancamkan pada Darka. Selama ini, Puti dan Nazhan memang mengancam Darka untuk mencoret nama putra mereka itu sebagai pemegang hak waris dan mencoretnya dari kartu keluarga. Itu artinya, Darka secara resmi tidak bisa lagi menyandang nama Al Kharafi di belakang namanya. Di sisi lain, artinya Darka jatuh miskin seketika. Karena dengan mudah, Puti dan Nazhan bisa menyita semua harta yang sudah susah payah Darka kumpulkan atas nama dirinya pribadi.     Puti dan Nazhan bangkit. Nazhan pun berkata, “Kami sebenarnya datang untuk berkunjung dan makan malam bersama kalian. Tapi, melihat situasi yang tidak memungkinkan, rencana akan kami batalkan. Sekarang istirahatlah. Kami pulang dulu.”     Keduanya pergi setelah mengucapkan salam, dan meninggalkan Tiara yang mengantarkan mereka hingga depan pintu. Saat berbalik akan memasuki rumah, Tiara ditarik dengan kasar oleh Darka agar melangkah dengan cepat hingga tiba di dalam ruang tamu. Darka mencengkram rahang Tiara dan bertanya, “Apa kau sekarang bahagia karena sudah membuatku kembali mendapatkan peringatan dari kedua orang tuaku?”     “Da, Darka, lepas dulu. Ini sakit,” ucap Puti sembari mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Darka.     Darka mendesis marah dan melepaskan cengkraman itu dan hampir membuat Puti terhempas. “Apa kau pikir, dengan bungkam dan tidak mengatapan apa pun pada Papa dan Mama bisa membuat penilaianku padamu menjadi lebih baik?” tanya Darka dengan tajam.     Tentu saja, itu bukanlah jawaban yang membutuhkan pertanyaan. Tiara sadar, jawaban apa pun yang ia berikan pada Darka sama sekali tidak akan membuat perasaan pria yang tengah marah di hadapannya ini membaik. Jadi, Tiara memilih untuk diam. Tindakah Tiara itu membuat Darka marah. Tentu saja, Darka bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Tiara, dan merasa jengkel karena Tiara ternyata bisa menempatkan dirinya dengan baik dalam situasi seperti ini. Ia bisa membaca situasi dengan baik, dan itu terasa menjengkelkan bagi Darka. Pria itu memberikan tatapan tajam sebelum berkata, “Jangan pernah bermimpi.”     Darka mengulurkan tangannya dan mendorong bahu ringkih Tiara dengan telunjuknya. “Jangan pernah bermimpi untuk berperan sebagai istri yang sesungguhnya. Karena sampai kapan pun, kau hanya akan mendapatkan status istri, tanpa mendapatkan hak sebagai seorang istri. Kau sama sekali tidak pantas untukku. Kita tidak akan pernah berada di level yang sama. Bagaimana bisa seorang putra dari keluarga konglomerat disamakan dengan gadis yang tumbuh besar di panti asuhan. Ditambah dengan kelahirannya yang tidak jelas. Ingat, orang tuamu saja membuangmu, Tiara. Itu sudah lebih dari cukup mengonfirmasi betapa tidak berharganya dirimu sebagai manusia.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN