Bagaimanapun juga, Tuhan menciptakanmu dalam bentuk paling sempurna. Ia berbisik padaku; jaga apa yang telah Kuberikan untukmu, jangan tinggalkan sebelum waktu bagimu berlalu. *** Sore hari Bangkit baru pulang ke rumahnya, saat ia menapaki tangga dan berpapasan dengan Tegar, Bangkit menghentikan langkah sejenak, mengamati Tegar untuk sesaat sambil menghela napas panjang, setelah itu baru melanjutkan langkah tanpa mengatakan apa-apa. Jelas hal itu mencetak kerutan di dahi Tegar, ada apa kembarannya sampai bersikap seperti itu, seolah tak pernah melihat Tegar dalam jangka yang lama. Bangkit melepas sepatu, menjatuhkan tas serta jaketnya di atas selasar lantas merebahkan tubuh yang begitu kelelahan di atas ranjang empuknya, dia menelan saliva kuat-kuat sembari meremas rambutnya dengan frus

