enam belas

1022 Kata
Om Yogi! Om Yogi! Om Yogi! Ya ampun suara siapa sih ini? pagi-pagi gini teriak-teriak? Kayak suaranya Rama sama Ryan. Yogi membatin dalam hatinya. Ini masih terlalu pagi untuk dia membuka mata dan bangun. Sementara suara bising di kamar itu mengganggu tidurnya malam ini. Tiba-tiba saja dia membuka mata, ketika merasakan sebuah cubitan di pipinya. "Rama?!" Pria itu tersentak kaget ketika menatap anak berusia 7 tahun itu yang kini tepat berada di hadapannya. "Ada aku juga Om." Kini ada lagi yang lebih kecil, dan itu adalah Rian. Mereka berdua adalah anak dari Yuna, kakak kedua dari Yogi. Masih ada yang lainnya berusia 4 tahun, namanya adalah Raka. Tentu saja hal ini membuat dia terkejut Kenapa tiba-tiba saja kedua keponakannya itu berada di dalam kamarnya? "Kok kalian ada di sini sih?" "Iya, kita ke sini sama nenek, sama bunda, sama tante Yura, sama adek Yemi." Itu adalah Rian yang kini duduk di dalam pangkuan Yogi. Dan yang dimaksud dengan Yemi itu adalah anak dari Yura. "Ngapain sih ke sini?" Kesal Yogi kepada para ponakannya itu. Kedua bocah itu tentu tak bisa menjawab apa-apa. mereka berdua hanya mengangkat kedua bahunya bersamaan. Rama kini duduk di samping Yogi. "Kata nenek, suruh bangunin Om. Suruh ngajak sarapan sama-sama. Soalnya pagi-pagi nenek udah masak nasi goreng tuh." Rama memberitahu tujuannya mengapa ia ribut-ribut di dalam kamar itu. "Iya, tadi Om dipanggil-panggil diem aja. Jadi kita teriak-teriak deh." Ryan si bungsu memberitahu Yogi, dengan suara kecil yang imut menggemaskan sekali membuat Yogi dengan cepat mencium pipi ponakannya itu. "Ya udah, tunggu sebentar, Om mau cuci muka sama sikat gigi dulu." Pria itu segera bangkit, dia Ryan di samping Rama, lalu berjalan menuju kamar mandi. Seperti biasa pria itu mencuci muka, menyikat giginya, dia membersihkan diri sebelum berjalan keluar untuk sarapan bersama ibu dan kakak-kakaknya setelah selesai membersihkan diri, dia segera berjalan menuju kamarnya lagi, dia menggendong Ryan sementara tangannya yang lain menggandeng Rama. mereka berjalan ke lantai bawah, menuju ke ruang makan. Sampai di ruang makan, sudah ada Yesi, Yuna, Yura, Yemi dan Raka yang duduk rapi menunggu Yogi untuk sarapan pagi ini. Pria itu berjalan turun kemudian duduk di kursinya. Yogi menatap satu persatu keluarganya. Heran mengapa tiba-tiba mereka datang tanpa pemberitahuan. "Ada apa sih? Kok tumben banget kalian pada datang nggak bilang-bilang?" "Mama mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu. Ini benar-benar penting dan mendesak, jadi kita sengaja datang hari ini nemuin kamu di sini." Yesi membuka pembicaraan. "Mengenai apa? kontrak kerjasama perusahaan papa?"pria itu mencoba menduga masalah apa yang membuat semuanya tiba-tiba saja datang hari ini. "Bukan. Pokoknya nanti mama mau ngomong sama kamu. Sekarang kita makan dulu kalau diomongin sekarang nanti makannya jadi nggak enak." Yuna memotong pembicaraan di antara mereka. Karena ketiga putranya sejak tadi sudah kelaparan. Yogi duduk di samping Yemi, anak perempuan itu berusia 2 tahun. Sang keponakan membuat ia ingat strawberry. Sepertinya hari ini ia akan datang ke rumah Rei. Apalagi ini adalah hari libur. Akan menyenangkan jika ia datang ke sana dan mengajak Rei juga strawberry untuk jalan-jalan bersama. Keluarga itu makan dengan tenang titik karena Yesi memang membiasakan putra dan putrinya untuk makan tanpa membicarakan apapun. Setelah makan baru memulai obrolan. Tapi kali ini sedikit berbeda, setelah makan Yesi segera mengajak Yogi untuk menuju ruang kerja bersama Yuna dan juga Yura. Sementara keempat keponakannya dijaga oleh pelayan. Yesi duduk di kursi utama, kemudian Yogi duduk di kursi yang berhadapan dengan Sang Ibu persis seperti tersangka, lalu kedua kakaknya duduk di sofa. "Sebenarnya mau ngomong apa sih mah?" Yogi semakin penasaran karena ia seperti terdakwa yang melakukan sebuah kesalahan besar. "Mama tahu, mungkin kamu nutupin masalah ini karena selama ini orang-orang mengira kamu adalah gay. Dan kamu dikira pacaran sama Jimmy. Tapi nggak kayak gini juga Yogi," ucapin Yesi ia terdengar begitu sedih. Yogi mencoba membaca situasi, dia menatap sang Ibu, lalu menatap kedua kakaknya yang juga terlihat prihatin atas keadaan dirinya saat ini. Sementara dia sendiri tak mengerti apa yang sedang terjadi. "Tunggu tunggu. Sebenarnya ada apa? mama percaya kalau aku gay dan pacaran sama Jimmy?" Si kulit pucat itu mencoba untuk menerka, Dia mengira kalau sang Ibu percaya tentang gosip yang beredar di kantor bahwa dia adalah seorang penyuka sesama jenis. "Mama tahu kamu bukan gay. Tapi, tolong Kamu jangan pacaran sama anak di bawah umur. Tunggu dia agak dewasa Yogi. Nggak masalah kalau di umur 18, 19, tapi jangan dibawah itu." Yesi mulai mengatakan masalah yang sejak kemarin menjadi beban pikirannya. "Tunggu, gimana maksudnya mah?" Yesi melirik ke arah Yuna. Dia meminta putrinya itu untuk menjelaskan apa yang terjadi. Karena ia tak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya. "Kemarin, waktu Mbak telepon kamu. kamu lagi pacaran sama pacar kamu kan? Dan Mbak tahu pacar kamu itu masih kecil Yogi. Kalian gak seharusnya pacaran suaranya kedengeran banget kalau gitu anak kecil. Kamu harus ingat kamu juga punya ponakan perempuan." Yogi mengerti kini alasan mengapa tiba-tiba saja ia digeruduk oleh keluarganya. Pria itu menepuk kening, tersenyum, lalu menggelengkan kepala. "Ya Tuhan! Dia bukan pacar aku. Dia itu anak dari perempuan yang aku sukai." Mendengar jawaban Yogi semua bernafas lega. Yesi ini bisa tersenyum setelah dalam pesawat tadi ia merasa terganggu oleh pikiran-pikiran yang buruk akan putranya sendiri. Lalu di sofa, Yura memukul Yuna. Tentu saja ia kesal karena kakaknya itu malah membuat gosip buruk tentang adiknya sendiri. Dan karena itu, anak-anak mereka terpaksa ikut ke Jakarta untuk beberapa hari, dan tentu saja terpaksa tidak sekolah. "Oh begitu!" Seru ketiga wanita itu bersamaan. "Jadi dia janda?" Yesi bertanya kepada putranya. "Iya, dia single mom. Anaknya perempuan, umurnya 6 tahun dan sekarang kelas 1 SD. Kemarin itu Aku lagi jemput dia di sekolah. Aku nggak sempat ngejelasin Karena HP aku lowbat." Entah mengapa Yogi begitu lancar menjelaskan tentang strawberry dan Rei. Seolah Ia memang ingin memberitahu kepada sang ibu tentang hubungannya dengan Rei. Meskipun wanita itu belum menyetujui untuk menjalin hubungan dengan dirinya. "Rasanya lega Mbak dengar kamu nggak pacaran sama laki-laki dan juga sama anak kecil. "Yura berkata dan dia benar-benar lega mendengar apa yang dikatakan oleh Yogi. "Kalau gitu, mumpung Mama di sini sampai 3 hari ke depan. Mama mau kamu bawa dia ke sini, sebelum mama kembali ke Bali."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN