~19~ Aruna's B'day (part 1)

3072 Kata
-3 days later- Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat, hari yang ditunggu-tunggu oleh 3 orang anak adam yang tengah bersiap untuk menjemput cinta-nya pun sudah berada di depan mata. Daru bangun pagi-pagi sekali, hari minggu yang ceria ini Ia sudah resmi berumur 19 tahun. Ia tidak percaya kalau sudah hampir menginjak kepala dua, padahal Ia merasa baru kemarin merengek-rengek minta di belikan layang-layang berbentuk burung Garuda oleh Ibunya, dibikinkan permen dari gula Jawa berbentuk kupu-kupu oleh sang nenek dan dibuatkan wayang kulit oleh kakeknya. Masa kecil yang begitu dirindukan Daru, masa kecil penuh limpahan kasih sayang dari keluarga tercintanya di Jogja sana. Daru duduk di atas kasur sambil menyandarkan punggung pada kepala tempat tidur, Ia melepas ponselnya yang sejak semalam di charge-nya di atas nakas kemudian mengecek berpuluh-puluh pemberitahuan yang mengotori layar ponsel pintarnya. Seulas senyum menghiasi bibir Daru saat Ia membaca satu persatu ucapan selamat dari keluarga serta teman-teman sanggarnya di Jogja dulu. Asih mengucapkan selamat ulang tahun tepat pada jam 00.00 untuk kakaknya, gadis manis itu percaya, jika kita mengucapkan happy birthday and make a wish pada jam itu, maka segala doa dan harapan kita untuk orang yang bersangkutan akan terkabul. Asih mendoakan agar Daru selalu sehat, cita-citanya tercapai, dan yang terpenting Ia bisa segera bertemu jodohnya dan langgeng sampai tua dengan orang itu. Daru mengamini doa Asih, Ia juga berharap semoga saja jodohnya adalah orang yang telah menyandera hati-nya saat ini, orang yang sudah membuat perasaannya tidak karuan, yang telah mengajarkan berbagai emosi dan memberi warna dalam hidupnya. Bukan cuma Asih yang mengiriminya pesan tepat jam 12 malam, tapi juga sahabatnya, Alvin. Daru tertawa membaca ucapan serta doa Alvin yang terdiri dari 3 part pesan saking panjangnya. Seperti biasa, sahabatnya itu selalu mengingatkannya untuk berhati-hati dengan para pria, zaman sekarang banyak p****************g yang berkeliaran, jangan sampai Daru menjadi mangsa-nya. ' Aku kan juga laki' Vin, kamu ada-ada aja' gumam Daru sembari menggeleng-gelengkan kepala. Tak henti-hentinya Daru memeriksa tiap pesan yang di terimanya, Ia bahkan mengulangnya hingga beberapa kali seolah mencari pesan dari seseorang. Tapi sayang, tak ada satupun pesan dari orang bernama Raka yang sedari tadi dicarinya. Daru menghela nafas pelan. Ia mencoba menenangkan hatinya, dan terus me-refill otaknya dengan pikiran positive. 'Mas Raka pasti pulang, Ia pasti akan pulang hari ini, Aku percaya...Aku percaya padanya. Seperti waktu pameran dulu, meski terlambat Ia tetap datang. Aku tidak boleh menyerah menunggunya! Batin Daru. Cowok manis itu terus memberikan semangat pada dirinya hingga mendengar suara dering ponselnya berbunyi. Buru-buru Daru mengalihkan pandangan pada layar ponsel yang menampilkan nama Ibunya, lalu secepat kilat menggeser slide di layar untuk mengangkat telpon . " Haloo Bu'e...Aku kangen," mendengar suara lembut khas wanita Jawa di seberang telepon, Daru seketika melupakan angka 19 tahun yang kini disandangnya. Cowok bertubuh ramping itu seolah kembali menjadi anak-anak yang rindu akan belaian kasih sayang sang Ibunda. " Bu'e juga, sayang. Oh iya, selamat ulang tahun anak manis Bu'e, ini pertama kalinya Kamu merayakan ulang tahun jauh dari Kami. Padahal dulu Bu'e sudah sibuk di dapur buatin Tumpeng sama bubur merah malam sebelum ulang tahun-mu Nak." Mata Daru berkaca-kaca mendengar omongan Ibunya. Jika sekarang dia berada di Jogja, maka Ia tidak akan merasa se-sepi ini di hari spesialnya. Dulu Ia akan di bangunkan oleh bau harum Nasi tumpeng yang baru di masak, juga suara ribut-ribut Asih dan neneknya yang sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama untuk membuat surprise. Daru rindu kehangatan itu, Ia rindu sekali pada keluarganya. " Matur Nuwun Bu'e.., Bu'e doain Aku yah semoga sukses kuliahnya dan bisa cepat-cepat kembali ke Jogja buat meneruskan sanggar Kakek." Di seberang saluran sana, Ibu Daru tak henti-hentinya menghanturkan doa pada Tuhan agar anaknya selalu di berikan perlindungan, dan dikabulkan segala permintaannya. Daru adalah satu-satunya Putra yang Ia miliki, satu-satunya anak yang Ia harapkan bisa melanjutkan tongkat estafet Usaha keluarganya. Setelah puas melepas rindu pada sang Ibunda, dengan berat hati Daru memutus sambungan telponnya. Kedua mata bulatnya masih berkaca-kaca, rasanya Ia tidak rela kembali pada kesendirian di kamarnya yang besar, dingin, dan sunyi. Hanya suara detik jam di dinding yang menemaninya, dan sesekali suara nyanyian burung yang kebetulan lewat di depan jendela kamarnya. Baru saja Daru hendak menaruh ponselnya kembali di atas nakas, benda berbentuk persegi panjang tipis itu kembali berbunyi. Kali ini nama Alvin yang berkedip-kedip dilayar. Tampaknya pesan sepanjang 3 part tak cukup bagi marmut kecil itu untuk mengucapkan selamat serta menyampaikan segala wejangannya pada Daru. Jelas Ibu pria yang memiliki dua lesung pipi memikat itu sudah kalah telak dari sahabat anaknya yang kelewat Hyperactive. " Morniiin Daruu~~~~Selamaat yah udah 19 tahun, waah...Aku ketinggalan nihh, Daru jadi lebih tua sekarang!!" Seru Alvin di seberang telepon. Dari apa yang di dengar oleh telinga Daru, tampaknya anak itu sedang melompat-lompat di kasurnya, entahlah mungkin Daru hanya salah dengar. " Makasih banyak yah Vin! Oh iyya hari ini kamu mau main kesini ndak? Aku kayaknya mau masak-masak." Tawaran Daru tentu saja disambut Alvin dengan senang hati, tapi sayang sebelum Ia sempat mengiyakan ajakan itu, tiba-tiba saja Ibunya masuk ke dalam kamar dan menyuruhnya siap-siap karena Mereka sekeluarga akan pergi ke Bandung pagi ini. Alvin sudah mencoba meminta izin untuk tidak pergi bersama keluarganya, namun lagi-lagi, alasan anak bungsu membuatnya tidak bisa bebas untuk menentukan pilihan. Ia kesal sekali pada kakak-nya yang sudah memanas-manasi Ibu-nya agar tidak mengizinkan Alvin mangkir dari acara keluarga, jadinya Ia tidak bisa menikmati masakan super lezat Daru di hari spesial sahabatnya itu. " Ya wees kalau kamu ndak bisa Vin. Lagian itu acara keluarga, ndak baek kalau ndak dihadiri." bibir Alvin semakin mengerucut, padahal Ia berharap Daru akan memaksanya untuk mangkir dari acara itu agar Alvin bisa datang ke rumahnya, tapi ini, Dia malah menyuruhnya untuk pergi juga. " Gue mauu makan masakan Lo Ruuuu...," rajuk sang marmut kecil yang kini sudah duduk tenang di atas kasurnya. Tiba-tiba keceriaan yang sejak tadi melingkupi-nya lenyap entah kemana. " Kamu tenang aja, nanti Aku bikin kue terus ta' bawa ke kampus besok. Kita makan sama-sama yah." Syukurlah bujukan Daru berpengaruh pada sahabatnya, sekarang Alvin tidak merajuk lagi, Ia bahkan berjanji akan membelikan kado buat Daru kalau sudah tiba Bandung nanti. Mereka berbicara cukup lama di telepon hingga jam dinding menunjukkan pukul 08.00 a.m, menyadari jika waktunya sudah terlewat banyak, Daru buru-buru berpamitan pada Alvin, meminta izin karena ingin membersihkan rumah, dan pergi berbelanja bahan-bahan masakan. Daru menghambur ke kamar mandi setelah Ia membereskan seisi kamarnya, cowok manis itu merasa lega sekali melihat singgasananya yang kini sudah bersih, rapi, dan juga harum. Setidaknya, meski terkesan hampa dan dingin, kamarnya tampak lebih hidup sekarang. Tak butuh waktu lama bagi cowok manis bertubuh ramping itu untuk menyelesaikan mandinya. Semangatnya untuk kembali bekerja bakti membersihkan rumah dan berbelanja membuatnya enggan membuang-buang waktu lebih lama di dalam kamar mandi, lagipula Ia sudah baikan sekarang, tak perlu lagi bantuan air hangat untuk menenangkan pikirannya seperti kemarin. " Rumah harus sudah bersih dan rapi saat Mas Raka pulang nanti, pokoknya hari ini Aku bakal kerja bakti." Ujar Daru menyemangati dirinya yang kini mulai mondar-mandir kayak setrikaan di lantai dasar. Satu tangannya memegang lap, sementara yang satunya lagi memegang semprotan. Sebenarnya Daru tidak terlalu perlu untuk bekerja bakti, mengingat beberapa hari yang lalu Ia sudah membersihkan rumah gedong itu mati-matian seorang diri, Tetapi, sifat keras kepala-nya memerintahkan diri-nya untuk total jika ingin menyambut sang pujaan hati yang hendak pulang. Ia ingin Raka melihat kesungguhannya, betapa Ia sangat menanti kehadiran cowok itu, bukan orang lain. Jika saat bekerja bakti membersihkan rumah dulu Daru tidak menyentuh kamar Raka, kali ini, dengan segenap keberanian yang Ia punya, cowok manis itu menginjakkan kakinya disana, di kamar besar yang gelap, dan penuh oleh bau lelaki yang dicintainya. " Untung saja bau mu tidak hilang dari kamar ini Mas..." Indra penciuman Daru menghirup dalam-dalam bau aqua bercampur tembakau favoritnya, tapi kali ini bau itu bercampur dengan bau apek akibat pendingin ruangan yang memang tak pernah dinyalakan juga gorden yang tak pernah di buka selama Raka tak ada. Perlahan Daru menyusuri ruangan, lalu membuka lebar-lebar gorden berwarna merah marun yang membuat ruangan tampak gelap. Seketika, terik mentari di luar sana menerangi seluruh kamar, memberikan kesan hangat dan kehidupan dalam ruangan tak ber-penghuni itu. Pertama-tama Daru mengganti seprai tempat tidur Raka yang sepertinya sudah lama tak diganti. Ia memilih seprai berwarna merah gelap yang tadi di ambilnya di gudang saat membersihkan lantai dasar. Setelah urusan ganti-mengganti seprai selesai, juga telah mengatur buku-buku serta pakaian Raka yang tergeletak sembarangan, Daru melanjutkan aktivitasnya yakni membersihkan debu yang menempel di hampir semua benda yang berada di ruangan, termasuk pada bingkai-bingkai foto yang terpajang di dinding. Ngomong-ngomong soal bingkai foto, dulu Daru pernah penasaran ingin melihat foto-foto yang terpajang pada bingkai-bingkai itu, namun sayang, Ia tak pernah sempat melihatnya. Kali ini, tak ada alasan tidak sempat lagi baginya, karena saat ini Ia sudah memiliki banyak waktu untuk berlama-lama berada di kamar sang pencuri hatinya tersebut. Jari-jari jenjang Daru menyentuh bingkai pertama dari barisan memanjang bingkai-bingkai lain yang berjejer rapi di dinding, matanya kemudian menangkap sosok bayi bertubuh tambun tengah tertawa lebar memamerkan gusi-nya yang tidak di tumbuhi gigi. Dari sorot mata bayi itu, Daru bisa mengenali kesan jahil yang biasa Ia temui saat Raka menggodanya. " Astaga...ini Mas Raka?? Imuutnya!!!" Tubuh Raka yang bulat serta kedua pipinya yang terlihat seperti bakpao membuat Daru terpingkal. Ia tidak menyangka bayi bulat itu kini menjadi seorang pria yang tubuhnya penuh otot serta pack-pack yang menggairahkan, tak ada lagi pipi bulat dan leher yang tak kelihatan, kini semuanya sudah berubah, Wajah Raka yang sekarang tampak seperti pahatan, rahangnya kokoh, hidungnya menjulang, garis-garis ketampanan juga memenuhi seluruh wajahnya. Ia sempurna. Puas memandangi foto bayi Raka, Daru berpindah ke bingkai di sebelahnya. Dalam bingkai itu terdapat foto sebuah keluarga yang dikenali Daru sebagai keluarga Raka, terdiri dari wanita cantik berkulit sawo matang dengan rambut hitam panjang yang di biarkan tergerai di pundaknya yang kecil, senyum serta sorot mata wanita itu mengingatkan Daru akan senyum serta sorot mata jahil Raka, sekarang cowok manis itu tahu darimana Raka memperoleh sifat jahil-nya. Disebelah wanita tadi, berdiri menjulang seorang pria bule, rahangnya kokoh, hidungnya mancung, dan mata elang-nya menatap tajam ke arah kamera, wajahnya benar-benar mirip Raka saat sedang diam atau marah. Di tengah-tengah pasangan suami istri itu, tampak dua buah kereta bayi yang berdiri bersisian dimana si kembar tertidur pulas di dalamnya. Tapi ada yang aneh dari foto itu, Raka tak ada di dalamnya. Daru berpikir mungkin saja Raka yang mengambil foto keluarganya, atau dia sedang tidak bersama mereka kala itu. Tidak cuma dua bingkai foto itu saja yang menarik perhatian Daru, namun ada sebuah bingkai lagi, bingkai berbentuk segi empat besar yang di dalamnya tediri dari lima kolom foto. Melihat isi bingkai itu, Daru merasa dirinya nyaris terbang ke angkasa. " Ini....," gumam Daru takjub saat matanya menangkap sosok dirinya dan Raka yang tengah berpose berbagai gaya pada saat berkunjung ke museum beberapa bulan yang lalu. Ia tidak menyangka kalau Raka mencuci dan memajangnya bersama dengan foto-foto keluarganya, terlebih lagi di tengah-tengah kolom bingkai, Raka sengaja meletakkan foto mereka yang paling romantis, foto yang selalu di pandangi Daru sebelum tidur, foto saat dimana Raka mencium mesra keningnya. Bagaimana Daru bisa mematikan harapannya setelah Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Raka menganggapnya berarti. Jika Daru tidak memiliki arti apapun bagi Raka, tidak mungkin pria Ia mau repot-repot mencuci foto mereka berdua lalu memajangnya di sana, di tempat foto-foto Raka dan keluarganya berada, bahkan foto para sahabat Raka-pun tak tampak disana, padahal mereka yang notabene adalah orang terdekat Raka mestinya ikut mewarnai deretan bingkai kenangan pujaan hatinya. " Makasih...makasih sudah menyandingkan fotoku di tengah-tengah keluargamu Mas, kuharap Aku lebih dari sekedar keluarga untukmu." Gumam Daru sembari memandangi wajah tampan Raka yang tengah mengecupnya. Saat Daru merasa kerja baktinya sudah cukup, Ia pun beranjak meninggalkan kamar Raka, lalu masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengganti baju dan bersiap-siap berangkat ke Swalayan membeli semua bahan yang diperlukannya untuk memasak. *** Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 di layar ponsel Satya, namun Cowok tampan berdarah asli Sunda itu masih sibuk membungkus boneka-boneka puppet yang ingin di hadiahkannya untuk Daru. Satya berharap boneka-boneka hasil karyanya bisa menemani sang pujaan hati saat Ia sedang kesepian dan membuat hari-harinya penuh kebahagiaan sama seperti ketika mereka bersenda gurau di bangku taman tempo hari. Pagi itu Satya senang sekali, bukan karena bisa menghabiskan waktu berdua dengan Daru saja tapi juga karena sudah berhasil membuat cowok manis itu tertawa terpingkal-pingkal. Tak apalah Ia di bilang cocok menjadi seorang pelawak, Satya bahkan rela mengubah cita-citanya dari seorang aktor layar lebar menjadi pelawak seperti bang Sule agar bisa selalu melihat senyum manis Daru, juga tawa lebarnya. Dunia Satya sukses di buat jungkir balik oleh junior manisnya yang satu itu, persetan dengan wibawa sebagai ketua Bem, Ia tidak peduli lagi dengan  status yang disandangnya saat Daru berada di sisinya, yang diinginkan Satya hanya-lah membahagiakan Daru, semoga saja harapannya untuk selalu berada di samping pujaan hatinya terwujud malam ini. " Okee...beres!!!" Satya berjoget kegirangan di dalam kamar Kos-nya yang besar sembari mengangkat tinggi-tinggi kotak berwarna biru berisi hadiahnya untuk Daru. Senyum lebar menghiasi wajahnya yang tampan, tapi tak berlangsung lama karena Ia segera sadar kalau belum mandi, sementara hari semakin sore saja. Sebenarnya Satya bukan tipe pria yang terlalu peduli akan penampilan, Ia adalah cowok sederhana yang kerap tampil santai dimanapun berada, bersyukur Ia mewarisi wajah tampan Ayahnya sehingga kesan 'cowok biasa-biasa' saja tidak berpengaruh padanya akibat paras wajahnya yang rupawan. Tapi, khusus untuk hari bersejarah ini, Satya benar-benar total dalam mendandani dirinya. Ia menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi hanya untuk membuat badannya wangi di seluruh bagian tanpa terlewat. Pemuda yang tengah dilanda cinta itu juga sengaja membeli pakaian baru akibat krisis pakaian bagus di lemarinya, tidak mungkin kan Ia bertandang ke rumah sang calon pacar hanya dengan mengenakkan kemeja lusuh plus kaos oblong yang biasa dikenakkannya ke kampus. Satya tidak sepayah itu. Sudah hampir satu jam Satya berkutat di depan cermin, kini Ia sudah tampan dengan setelan kemeja berwarna biru dongker plus bawahan celana khaki berwarna hitam, Satya juga membeli sepatu merek Adidas berwarna biru agar senada dengan kemejanya. Ia benar-benar total dalam mempersiapkan diri, Ia tidak ingin terlihat biasa saja di depan Daru, setidaknya bukan untuk hari ini. Cukup puas akan penampilannya yang terlihat seperti artis yang hendak pergi konser, Satya lalu menyambar parfum di atas meja sebagai satu-satunya pelengkap terakhir sebelum Ia benar-benar menginjakkan kaki dari kosan-nya. Tubuhnya yang sudah harum kini semakin harum akibat aroma parfum yang menyengat, semoga saja Daru tidak pingsan mencium baunya. Doa Satya dalam hati, karena jujur, bau parfum itu sudah membuat kepalanya pusing. " Oke...Gua udah ganteng! Kado udah beres! Sekarang waktunya - Tok...Tok...Tok...Tok... Suara ketukan berulang kali di pintu kamar Kos-nya refleks membuat Satya terdiam, Ia sedang tidak mengharapkan tamu satupun saat ini. Tok...Tok...Tok...Tok... "Sial!! Siapa sih itu?? Orang udah mau pergi juga!" Mulai risih akibat ketukan di luar yang tak kunjung berhenti, terpaksa Satya berjalan cepat-cepat menuju ke arah pintu dan membukanya. " Ngapain Lo disini??!" Melihat Zaldhy berdiri menjulang di ambang pintu kamar Kos-nya mau tidak mau membuat Satya sebal, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan urusan Bem, dan kedatangan Zaldhy itu pastilah tidak jauh-jauh dari urusan kampus, sebab mereka memang tak pernah membicarakan hal lain di tempat Satya selain masalah seputar perkuliahan . " Gue gak ada waktu buat ngebahas urusan Bem Zal, gue buru-buru nih!" Tanpa mendengar alasan kedatangan Zaldhy, Satya langsung saja nyerocos, Ia bahkan tak memperhatikan jika wajah wakil-nya kini tampak gelap. Tak mau berlama-lama meladeni Zaldhy, Satya kembali masuk ke kamarnya, Ia menyambar kado serta kunci motor yang tergeletak di karpet, lalu buru-buru berbalik menuju ke arah pintu keluar. Di sana, di ambang pintu, Zaldhy sama sekali belum beranjak, Ia hanya berdiri seperti patung hingga Satya kembali ke hadapannya. " Kok Lo masih di sini? Gue kan tadi bilang kalau- " Jangan pergi...." suara berat serta terkesan mengintimidasi keluar dari mulut Zaldhy, matanya yang tajam dan berkilat kini menatap lurus ke arah Satya. " Ap...apa maksud Lo? Gue mau pergi! Gue kan dah bilang sama Lo kalau gue bakal nembak Daru hari ini." Ujar Satya gusar. Ia sama sekali tidak suka dengan cara Zaldhy menatapnya, seolah pria itu mencoba mengurungnya agar tidak kemana-mana hanya dengan tatapan saja. " Apa Lo gak denger! Gue bilang jangan pergi! Gue gak bakal ngebiarin Lo pergi ke tempat anak itu!" Satya kaget sekali, Zaldhy membentaknya, cowok itu baru saja membentaknya!! " Kenapa sih Lo Zal? Gue gak ngerti ama sikap Lo! Minggir!!" Sekuat tenaga Satya berusaha mendorong tubuh tinggi besar Zaldy, tapi sayang, tenaganya tidak cukup untuk menyingkirkannya, yang ada tangan Satya malah di tarik dengan kasar agar masuk kembali ke dalam kamar. " Lepasin Gue! b******k!!" Satya meronta-ronta ketika satu tangannya di tarik kuat oleh genggaman Zaldhy, dengan mudah pria jangkung itu menghempaskan tubuh Satya di atas kasur. Mata sang ketua Bem membelalak ketika Ia melihat Zaldhy mendendang pintu di belakangnya hingga menutup, kemudian menguncinya. " Gue gak bakal biarin Lo pergi. Gue bakal ngurung Lo disini bersama Gue!" *** Berbagai macam masakan lezat sudah terhidang di atas meja, mulai dari beef steak with mashed potato, spaghetti blackpepper, ayam goreng balado, I fu mie Seafood, sampai nasi goreng saus tiram sudah di masak Daru khusus untuk Raka, Yup, semua makanan itu adalah favorit sang pujaan hati. Meskipun yang ber-ulang tahun hari ini adalah dirinya, tapi Daru menjadikannya sebagai acara 'welcome home party' untuk Raka. Tapi, tenang saja, Ia tidak lupa membuat kue tart untuk nanti santapnya bersama cowok tampan itu setelah Ia meniup lilin ulang tahunnya nanti. Daru melirik ke arah jam yang terpasang di dinding. Jarum pendek jam di atas sudah berada di angka tujuh, seketika cowok manis itu mulai merasa tegang. Sudah jam segini, pria yang di tunggu-tunggunya tak kunjung muncul, 'Apa dia akan datang?' Batin Daru penuh ragu. Di ruang tamu, Daru sudah menunggu dengan sabar, tak henti-hentinya Ia berjalan mondar-mandir sambil melirik ke arah jam. Sesekali Daru juga mengintip ke balik jendela, berharap mobil Raka segera muncul. Hanya detik jam yang dengan setia menemani Daru hingga pada akhirnya suara raungan mobil yang sedari tadi di nantinya terdengar, raungan mobil besar Raka yang familiar di telinganya. Refleks Daru berlari ke belakang pintu, Ia ingin segera membukanya tapi karena tak ingin terkesan terlalu menanti, cowok manis itu pun menunggu ketukan. Tak cukup dua menit Daru menunggu dengan tidak sabar, ketukan-pun terdengar di pintu. Jantung Daru berdebar gila-gilaan, Ia rindu sekali pada Raka, Ia takut tak bisa mengontrol diri dan langsung menghambur ke pelukan pria tampannya. ' Tenang Daru, Kau harus tenang!' Batinnya dalam hati. Akhirnya, setelah mengumpulkan segenap keberanian, Daru menarik nafas panjang lalu membuka pintu. " Selamat datang Mas !! Aku sudah menunggumu ...!" To be Continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN