~8~ Truth

2315 Kata
"Toloong...tolooong!!" Teriakan histeris Daru membangunkan Raka yang tengah tertidur di sebelahnya. Sejak semalam cowok itu sama sekali tidak beranjak dari sisinya, hingga akhirnya Ia ketiduran akibat kelelahan. "Heii...tenanglah, tenang." Raka kembali memeluk tubuh ramping Daru, tubuhnya terasa begitu pas dalam dekapan badan kekar Raka. Ia mengelus lembut punggung cowok yang di dekapnya sampai cowok itu berhenti memberontak. "Mas...Rakaaa....," suara Daru terdengar sangat lemah ditelinga Raka, tampaknya anak itu masih sedikit shock hingga mengalami mimpi buruk. " Iyaa...tenanglah, Gue ada disini. Lo gak sendirian." Raka mengecup lembut puncak kepala Daru, Ia tidak tahu apa yang dilakukannya, tubuhnya hanya bergerak sendiri . Daru masih mendekam nyaman merasakan hangat dari tubuh pria yang akhir-akhir ini membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Hal itu juga dirasakannya sekarang, tapi yang membuatnya sedikit kaget, ternyata jantung Raka juga berdegup kencang sama seperti dirinya. " Lo udah tenang ?" Tanya Raka pelan lalu melepaskan dekapannya secara perlahan. Ia merapikan rambut Daru yang jatuh berantakan di depan wajah manisnya. Mata cokelat cowok itu kontan menatap wajah Raka lekat yang jaraknya hanya beberapa senti dari wajahnya. Tidak tahu setan apa yang merasuki, tiba-tiba saja Daru menyentuh kedua pipi Raka dengan jari-jari jenjangnya. Ia begitu mengagumi wajah tampan pria di hadapannya, selain tampan, kehangatan yang diberikan Raka telah membuatnya lupa diri. "Makasiih...makasih sudah menjagaku." Ucap Daru lirih dengan mata sendu dan senyum mempesona. Raka diam membatu di tempatnya, nafasnya memburu berusaha menahan godaan untuk tidak mencium Daru. Suasana serta keadaan mereka sekarang sangat mendukung untuk terjadinya hal-hal khilaf berbahaya. "Yah...sama-sama." Suara berat Raka nyaris seperti bisikan akibat wajah Daru yang semakin mendekat ke arahnya. Sepertinya anak ini sedang tidak sadar dengan apa yang dilakukannya, Raka dapat melihat mata Daru tidak fokus. Sesenti lagi bibir mereka akan bersentuhan, Raka mulai menelan ludah, jantungnya seperti akan meledak. Daru kini memejamkan mata, tangannya masih mengelus pipi Raka. "Makasiih...," Satu kata terakhir ketika akhirnya bibir Daru sukses menyentuh bibir penuh Raka. Pertahanan diri yang sedari tadi berusaha dijaga cowok blasteran itu seketika runtuh, hancur berkeping-keping menciptakan debu-debu yang disebut gairah. Raka tidak membiarkan bibir Daru hanya menyentuh bibirnya, Ia mulai melumat bibir tipis pria manis dalam dekapannya itu, satu tangannya memeluk pinggang Daru, sementara satunya lagi menarik tengkuknya agar ciuman mereka semakin dalam. Raka terus melumat, menghisap sembari membaringkan tubuh Daru perlahan di tempat tidur. "Nnnh...nghhhh...uunnh," desahan demi desahan lolos dari mulut Daru saat Raka memberinya kesempatan untuk mengambil nafas. Tapi cowok itu tidak memberinya kesempatan yang cukup lama karena Ia kembali menjilat dan menghisap bibir Daru dengan penuh gairah. Raka baru berhenti saat Daru mulai tidak merespon, Ia mengangkat wajah dan mendapati pria yang tengah diciumnya kembali tertidur pulas. Goood...Daru benar-benar menggantungnya! Sesuatu sudah menegang di belahan pahanya dan Ia harus menahan gejolak gairah agar tidak menyakiti Daru. Raka pun meninggalkan cowok manis yang sudah kembali tertidur pulas di atas ranjangnya itu, menuju ke kamar mandi dan menyelesaikan apa yang harus Ia selesaikan. Dia benar-benar sudah gila! *** Setelah kejadian tadi malam, Raka meyakinkan diri bahwa hal itu terjadi bukan hanya karena khilaf, melainkan karena Ia memang menginginkannya. Ia menginginkan Daru seperti Ia menginginkan kehadiran sosok kekasih di dalam hidupnya, Ia telah jatuh dalam pesona cowok manis satu itu dan mulai menyayanginya. Namun, betapa kecewanya Raka saat mendapati Daru bangun di pagi hari dan sama sekali tidak mengingat kejadian semalam. Satu-satunya kejadian yang Daru ingat yaitu saat dimana para seniornya mengurung dirinya dalam gudang gelap. "Apa yang sudah kulakukan pada Mas Raka? Apa aku menyakitimu ?" Tanya Daru mulai khawatir dengan kemungkinan buruk yang Ia lakukan saat tidak sadarkan diri kemarin. "Tenang aja, Lo gak nyakitin gue, cuma Lo sempat mimpi buruk aja tadi malam." Raka menjawab setenang mungkin walau tak bisa dipungkiri ada sedikit kekecewaan hinggap di hatinya. Ia juga tidak berniat untuk jujur pada Daru, takut jika anak itu canggung padanya bahkan lebih parah jika dia menghindarinya. Raka hanya ingin menjaga Daru saja untuk saat ini, membuatnya tetap nyaman disisinya dan menyayanginya dalam diam. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi saat Raka membawakan sarapan ke kamar Daru. Ia melarang anak itu untuk beraktivitas dulu, Pihak kampus juga telah mengizinkan Daru untuk stay di rumah akibat insiden kemarin. Dari info yang diberitahukan pada Raka oleh ketua panitia pengkaderan Daru, senior-senior yang mengurungnya kemarin di skors selama 3 bulan, juga dipecat dari jabatan mereka sebagai anggota BEM. Raka cukup puas dengan hukuman yang diberikan pada mereka walau sebenarnya Ia lebih ingin agar b*****t-b*****t itu dikeluarkan saja. "Maaf sudah merepotkanmu.." Ujar Daru penuh penyesalan. Ia merasa selama berada di Jakarta, kerjanya hanya merepotkan Raka saja. Mulai dari mencari kacang, menghitungnya hingga larut malam, merawatnya saat sakit, bahkan yang paling parah menciumnya ketika mati lampu beberapa hari yang lalu. Semoga saja Mas Raka tidak merasa terbebani oleh kehadiranku. Batin Daru. "Kenapa sarapannya gak di makan? Lo mau gue suapin?" Pertanyaan Raka membuat Daru terlonjak kaget, buru-buru cowok manis itu menyuapkan bubur ayam yang sedari tadi hanya di pandanginya. "Naah ... pinter," Raka mengacak-ngacak rambut Daru gemas, untuk ukuran cowok, rambut Daru sangat halus dan harum, kentara sekali kalau Ia tidak pernah menodainya dengan Gel rambut. Jantung Raka kembali berdesir menyebalkan saat tiba-tiba saja matanya bertemu dengan mata coklat Daru, kenangan semalam berkelebat di dalam ingatannya. Apakah yang terjadi semalam hanya mimpi? Apakah ciuman itu hanya ilusi? Tidak...Itu nyata! Kami berdua menginginkannya ! atau cuma Aku?. Satu-persatu pertanyaan muncul dalam benak Raka, jika Daru adalah seorang wanita semuanya tidak akan serumit ini, tapi lain halnya karena dia Pria. Raka belum siap secara batin untuk menjadi Gay meski tubuhnya sudah memberikan respon positive. "Mas...Mas Raka..!" Seru Daru membuyarkan lamunan Raka. "Aah...Sorry, Lo udahan makannya?" Daru mengangguk sembari menyerahkan mangkuk buburnya yang sudah kosong ke tangan pria di hadapannya. Ting...Tong... Ting...Tong...Ting...Tong Suara bel rumah yang dibunyikan sembarangan membuat Raka mendengus kesal. Mereka sudah datang! Siapa lagi kalau bukan Geng-nya. "Lo minum obatnya yah, gue bukain pintu cecunguk-cecunguk itu dulu." Istilah yang diberikan Raka pada para sahabatnya membuat Daru terkikik, Mereka memang sering berantem tapi sangat kompak dan kocak, memiliki Raka dan sahabat-sahabatnya, Daru merasa hari-harinya menjadi semakin berwarna, juga penuh kejutan. "PAGIII GANTEEENG!!!" Teriakan kompak Ardhan dan Aro membuat Raka hampir memuntahkan sarapannya tepat di depan pintu rumah, jika tidak mengingat pembantunya sedang cuti, cowok itu mungkin sudah mengotori lantai teras. "Jijik banget sih lo pagi-lagi!" Dengus Raka kesal namun tetap membukakan pintu rumah lebar-lebar agar keempat temannya bisa masuk. "Yaelah serius banget sih Lo Bro...kite-kite kan pada berusaha ngehibur Lo." Pembelaan datang dari mulut Ardhan. Pagi ini, cowok itu mengenakkan pakaian yang cukup tidak biasa, Ia memakai kemeja coklat rapi dengan kancing-kancing lengkap tanpa T-shirt lusuh yang biasanya dipamerkan Ardhan dibalik kemejanya, jeans yang tidak robek, sepatu merek Ori Adidas warna hitam yang kentara sekali baru saja di cuci dan di gosok hingga mengkilap. Gayanya sangat 'Tidak Ardhan' pagi ini. "Kesambet ape Lo?" Raka mengerutkan kening ketika menyadari penampilan Ardhan yang memukau. Seumur-umur, Ia hanya melihat sahabatnya itu berpakaian rapi hanya saat pergi ke kondangan, itupun cuma bertahan beberapa menit karena Ardhan tipe orang yang cepat sekali gerah. Melihat badan besar dan berotot layaknya model L-Men, tidak heran jika membuatnya merasa tidak nyaman mengenakkan pakaian formal. "Paling dia ada kencan Bro! Kayaknya sih cewek cakep!!" Kali ini Aro ikut menimpali gaya Ardhan. Duo satu ini tidak ada bedanya dalam hal penampilan, kata Mereka, "Bukan anak teknik namanya kalau klimis". Putra seringkali menentang slogan Duo itu, diantara mereka berlima memang Putra yang memiliki gaya paling necis. Dia suka rewel hanya karena tak ada pakaian yang cocok untuk di kenakkan ke kampus, padahal lemarinya saja sudah seperti toko baju. "Ooh, kalau karena itu mah Gue gak heran.." Ujar Raka tanpa antusias. Bukan hanya Ardhan yang aneh pagi itu, tapi Putra juga. Sedari dibukakan pintu hingga kini sudah duduk manis di sofa, tidak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya. Wajahnya tertekuk sempurna layaknya anak kecil yang tidak diberi uang jajan, aura di sekitarnyapun terlihat spooky. "Kenapa lagi tuh anak? PMS-nya kambuh?" Kali ini Raka bertanya pada Galih yang berdiri disampingnya. Cowok tampan dengan kacamata bertengger di wajahnya itu pun hanya mengedikkan bahu pertanda Ia tidak tahu apa-apa. "Eh...gimana keadaaan Daru? Dia udah baikan ?" Tanya Galih kemudian. Mereka berempat ke rumah Raka memang berniat untuk menjenguk Daru, dapat dilihat dari berkantong-kantong plastik buah-buahan, kue, bahkan bahan-bahan makanan terhampar di atas meja. Raka tidak habis pikir apa yang ada di kepala para sahabatnya, Mereka mau menjenguk atau habis belanja bulanan? "Gue tau apa yang ada di kepala Lo, Kita sengaja bawa bahan-bahan masakan, supaya Daru gak perlu belanja di luar kalau mau masak." Papar Galih dibalas dengan anggukan paham Raka. "Ia dia udah baikan kok, baru aja selesai sarapan dan minum obat ." Jawab Raka sembari menghempaskan b****g di sofa. "Gue mau liat Daru di atas, panggil gue kalau dah pada mau cabut ." Putra bangkit dari duduknya, masih dengan wajah di tekuk Ia meninggalkan ke empat sahabatnya yang hanya bisa terbengong-bengong menatap punggungnya. "Lo apain lagi sih tuh anak? Pasti gara-gara Lo deh ?" Aro menuduh Ardhan secara sepihak. Cowok kekar itupun langsung mengangkat tangan dan menggeleng mantap tanda tidak tahu apa-apa. "Gak mungkin, pasti Lo ada salah-salah ngomong deh... " Raka juga merasa hanya Ardhan satu-satunya penyebab Putra kerap Bete' seharian. Raka adalah tipe cowok cuek yang tidak terlalu mempedulikan sekitar, tapi entah mengapa untuk dua sahabatnya yang satu itu, Ardhan dan Putra, Ia merasa sesuatu terjadi di antara mereka. Ardhan memang terlihat baik-baik saja, tapi Putra tidak pernah terlihat baik-baik saja saat menghadapi Ardhan, apalagi jika Ardhan mulai membahas soal wanita dan bergenit-genit ria bersama Aro. Wajah Putra akan menjadi sekusut tali layangan . "Emang apa yang salah sih sama Gue guys? Kok Putra kayaknya selalu sensi deh ma gue?" Ardhan mulai bertanya pada para sahabatnya, berharap mereka bisa memberi jawaban karena Dia sendiri sudah lelah untuk mencari tahu. "Kalau menurut Gue nih yah...Putra kan pecinta kebersihan dan Rapi banget, lah dia sahabatan ma Lo jadi tertular kuman kan tuh. Makanya dia benci banget ama Lo ," Sumpah ingin sekali Ardhan melempar Aro dengan guci saat cowok yang tidak kalah jorok dari dirinya itu angkat suara. Kayak Dia paling bersih dan rapi aja sampai dengan pedenya ngomong seperti itu. Batin Ardhan jengkel. "Kalau Gue sih..kayaknya si Putra itu naksir ma Lo Dhan, soalnya tiap Lo ngomongin cewek, muka dia kusut banget..." satu lagi jawaban paling tidak masuk akal yang di dengar Ardhan dan anehnya jawaban itu datang dari mulut Raka. "Jangan bercanda dong lo Ka', nanti gue malah mikir macam-macam tentang si Putra !" Cetus Ardhan sedikit takut jika apa yang diucapkan Raka benar adanya. Sebenarnya sudah lama Ia menyadari jika Putra manjadi kesal secara tiba-tiba saat Ia membicarakan atau meet up dengan wanita. Awalnya Ardhan berpikir bahwa Putra cemburu karena Ia lebih mudah mendapatkan pacar daripada dirinya, tapi setahu Ardhan, banyak sekali gadis-gadis cantik yang mengantri untuk jadi pacar Putra, bahkan salah satu dari gadis-gadis itu ada yang pernah menjadi incaran Ardhan selama berbulan-bulan. "Intinya...Ada sesuatu dalam kelakuan, sikap, atau gaya Ardhan yang mungkin kurang berkenan bagi Putra, tapi anak itu tidak mau mengatakannya. Sekarang tergantung dari Lo Dhan, Lo mau mencari tahu 'Sesuatu' itu?" Omongan Galih yang membahas sesuatu-sesuatu membuat Ardhan teringat lagu Syahrini, apa gerangan sesuatu itu? Memikirkannya saja sudah membuat kepala Ardhan puyeng. *** Daru baru saja meletakkan ponselnya ke nakas samping tempat tidur saat pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. "Masuuk saja...," jawabnya lembut. Dari balik pintu, mengintip wajah tampan Putra. Seperti biasa, Daru selalu takjub melihat penampilan sahabat Raka satu itu yang tampak bak model catwalk alih-alih mahasiswa Teknik. "Hei...gimana keadaan Lo?" Tanya Putra sembari berjalan mendekat dan duduk di sisi tempat tidur King Size Daru. Tak lupa Ia menaruh keranjang berisi berbagai macam buah di atas nakas. "Sudah agak mendingan Mas, makasih sudah dijenguk ." Daru tersenyum manis menatap Putra. Cowok itu balas tersenyum, namum ada yang aneh dari raut wajahnya. Sedih? Kenapa Mas Putra sedih? Apa terjadi sesuatu padanya? Tanya Daru dalam hati. "Mas Putra kenapa? Kok wajahnya murung begitu?" Mendengar pertanyaan Daru, Putra merasa semakin kalut, Ia tidak kuat lagi menahan rasa sesak di dadanya. Dia butuh seseorang untuk mendengarkan curahan hatinya, Ia tahu Daru sedang sakit dan tak mungkin membuatnya menjadi pendengar, namun Ia sudah tidak tahan lagi. "Ru...Lo mau kan dengerin cerita gue. Cuma Lo satu-satunya yang bisa gue harapin, walaupun kita baru kenal, tapi gue dah anggap Lo adek gue sendiri." merasa tersentuh dan sedikit terkejut karena Putra begitu mempercayainya, Daru kontan memeluk cowok tampan yang tidak kalah ramping dari dirinya itu untuk menenangkannya. Hal itu biasa Ia lakukan saat adiknya Asih mengadu kepadanya pasca dimarahi mbah Putri atau Bu'e nya. " Mas Putra cerita aja, Aku janji bakalan dengerin semuanya sampai Mas Putra tenang dan gak sedih lagi." Daru mengusap-ngusap punggung Putra. Ternyata di balik kecerian yang kerap ditunjukkan Putra di depan banyak orang, Ia juga bisa tampak begitu tidak berdaya di kala sedih. Putra sempat menghela nafas panjang sebelum akhirnya Ia menceritakan tentang rasa cinta yang dipendamnya pada Ardhan selama dua tahun terakhir, juga bagaimana Ia mati-matian menahan rasa cemburu di hatinya saat pria yang dicintainya itu membicarakan wanita lain di depannya. Putra takut kehilangan Ardhan, karena itu Ia menolak untuk jujur, tapi tingkahnya sama sekali tak dapat menyembunyikan perasaannya. Semakin hari Putra semakin sering menunjukkan rasa cemburu, kesal, dan terkadang marah hanya karena Ardhan ingin berkenalan dengan gadis cantik adik tingkat mereka. Daru tidak tahu harus berkata apa setelah Putra mencurahkan segala isi hatinya, Ia bingung ingin memberi masukan seperti apa. Pertama, Ia baru sekali menyukai seseorang, itupun hanya cinta monyet belaka, kedua, the other party is a Guy, Daru sama sekali awam dengan percintaan sesama jenis, meskipun Ia mulai merasakan getaran-getaran aneh di dirinya saat bersama Raka. "Lo gak harus nanggepin apa yang gue omongin kok, Gue cuma butuh pendengar, sekarang gue udah lega. Makasih ya Ruu ." Ujar Putra kemudian memeluk Daru erat. Akhirnya, beban di hatinya bisa sedikit terangkat. Thanks God. Beban di hati Putra memang bisa sedikit terangkat, namun tanpa sepengetahuannya, seseorang yang sedari tadi berdiri mendengarkan di balik pintu mendapat beban segunung di pundaknya. Siapa lagi kalau bukan, Ardhan. To Be Continued 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN