~11~ 3 Permintaan

4767 Kata
Layaknya gadis perawan yang tengah dilanda cinta, itulah yang kini dirasakan oleh cowok manis nan ramping yang sedari tadi tersenyum sendiri melihat layar ponselnya. Sesekali wajahnya memerah hingga Ia harus menyembunyikannya di balik bantal, jantungnya juga berdetak kencang kala memandangi foto dirinya dan sang pujaan hati saat kencan pertama mereka kemarin. Daru sangat bahagia, walau perasaannya belum terbalas, namun Ia sudah merasa puas bisa menghabiskan sebagian besar waktunya bersama Raka. Terlebih lagi, perhatian yang diberikan Raka padanya membuat perasaannya semakin hari semakin membuncah. Daru tidak bisa dan tidak ingin menyangkalnya lagi, Dia yang awalnya masih ragu dengan apa itu Cinta, kini bisa sedikit memahami bahwa ketika kita mencintai seseorang , kita akan rela melakukan apapun untuk menjaga orang yang kita sayang, seperti yang dilakukan Daru saat ini ,menjaga perasaannya agar tidak sampai menyakiti Raka. Karena Ia tidak tahu, apakah sang pujaan hati memiliki rasa yang sama dengannya atau tidak. Untuk saat ini, Ia cukup puas dengan hubungan mereka, asal bisa terus berada disamping Raka, melihat senyumnya, dan merasakan kehangatan dari dirinya, Daru sudah sangat bahagia. " Aaaakh...Aku lupa bikin makan siang !!" Seru Daru kalang kabut. Ia terlalu terlena dengan khayalannya pasca ditinggal Raka yang sedang keluar bermain basket di lapangan kompleks bersama Aro dan Ardhan. Padahal Ia sudah berjanji untuk menyiapkan makan siang buat mereka. Tanpa pikir panjang lagi, serta sedikit tergesa-gesa Daru melompat dari kasurnya dan menghambur ke dapur. Ia semakin panik saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul satu. Sebentar lagi Raka akan pulang!! Satu demi satu bahan-bahan masakan dihamparkan Daru di atas counter, list resep lunch yang telah dicatatnya pun ikut terhampar di depannya. Ia memutuskan untuk membuat Gudeg makanan khas Jogja yang sering dibuatnya bersama sang ibu saat di kampung halamannya, sate Klatak, dan gurame asam manis, untuk main dish sedangkan untuk dessertnya Daru mencoba fresh mango pudding with nata de coco. Cowok manis itu pun mulai mengatur bahan-bahan serta alat-alat yang dibutuhkannya di atas meja. Ia mengabsen satu persatu barang di depannya seperti seorang guru yang mengabsen murid-muridnya, tapi dalam kasusnya ini Daru sendirilah yang menjawab ketika Ia memanggil barang-barang itu. " Nah...nah...sepertinya plate untuk guramenya belum ada disini. Dimana yah platenyaa?" Tanya Daru pada dirinya sendiri. Ia mulai membuka laci-laci di sekitar lemari penyimpanan yang berada di belakangnya, namum tak dapat menemukan plate panjang itu. Setelah cukup lama mencari di dalam laci bagian bawah lemari, akhirnya Ia memutuskan untuk mencari di laci bagian atas yang cukup tinggi. Saking tingginya, Daru harus menggeser kursi untuk membantunya memanjat, namun sayangnya kursi itu tidak cukup kuat untuk menahannya sehingga Ia sedikit oleng saat berdiri. " Aakh...ketemu!!" Teriaknya girang. Mata bulat Daru menangkap plate yang sedari tadi dicarinya, terselip diantara tumpukan plate-plate plastik lainnya . Cukup sulit baginya untuk mengambil plate itu karena Ia harus memindahkan beberapa plate di atasnya, sementara posisinya sangat memprihatinkan. Ia harus berjinjit di atas kursi kayu yang sedari tadi terus bergoyang jika Ia bergerak. " Sedikit lagi, kumohon kursi bertahanlah...," gumamnya mencoba bertahan. Akhirnya, Ia berhasil mengambil plate itu, namun nasib sial tak dapat di tolak. Saat Daru hendak turun, telapak kakinya tertekuk, kursinya miring, dan.... " Huwaaaaaaaaah........," PRAAAANG Suara piring pecah memekakkan telinga, bergaung di seluruh penjuru dapur. Daru shock! Yah Ia benar-benar shock. Bukan karena tubuhnya yang terhempas ke lantai, atau kepalanya yang membentur pinggiran counter, melainkan karena sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya. Ia bisa merasakan detak jantung serta nafas orang itu yang memburu. " Baru aja Gue tinggal sebentar, seseorang sudah hampir celaka disini...," Dengus cowok bersuara berat yang dikenali Daru sebagai suara Raka. Raka menggendongnya, layaknya menggendong seorang anak kecil. Kini wajah Daru berada tepat di atas wajah Raka, jaraknya sangat dekat, hingga Daru dapat merasakan nafas hangat cowok itu di wajahnya. " Aku...aku minta maaf Maaas," mata Daru mulai berkaca-kaca. Ia memang pembawa masalah dan Raka selalu datang untuk menolongnya. Lagi. " Hei...tenanglah, tidak papa, kalau menangis gue gak bakal turunin lo nih." Mendegar ancaman Raka, Daru mulai menghapus air mata yang dengan lancang mengalir turun di pipinya. Mengapa Ia bisa menjadi secengeng ini jika bersama Raka. Daru juga sama sekali tidak paham. " Uupss...Kayaknya kami ganggu niih!!" Seru Aro dan Ardhan bersamaan yang kini telah berada di dapur . Mereka buru-buru masuk kesana setelah mendengar suara piring pecah. Untung saja Raka masuk duluan, hingga cowok itu masih sempat menangkap tubuh Daru. " Apa-apaan sih!! Kalian jangan berdiri doang, sini bantu beresin." Aro dan Ardhan masih terkikik melihat Raka yang belum menurunkan Daru. Hingga membuat cowok itu tersadar dan buru-buru mendudukkan Daru di atas counter. " Diam gak Lo!!" Raka kembali menegur duo yang kini membuat cowok yang ditaksirnya merona. Raka melirik ke arah Daru yang menunduk menahan malu. Bukannya diam, duo itu malah semakin geli melihat keduanya salah tingkah. " Yaelah...laki'nya marah, hihihihi...," " Gue lempar mampus Lo!" Raka sudah mengangkat cobekan di sebelah kiri tangannya, melihatnya Aro dan Ardhan langsung ngacir sambil terbahak-bahak. " Udah jangan nunduk terus dong, entar manisnya ilang loh..," yeaaah...Raka mulai berani unjuk gigi. Daru saja sampai kaget mendengar gombalannya. Akhirnya Daru mengangkat wajah lalu tersenyum kecil pada Raka yang menunduk di hadapannya. " Nah..gitukan manis. Gue suka banget liat lesung pipi Lo." Ujar Raka sembari mengelus dua lubang kecil di kanan-kiri pipi Daru. " Mas Raka nda' marah sama Aku? Aku udah pecahin piringnya tante." Tanya Daru, rasa bersalah masih menghinggapi dirinya. Seketika moodnya untuk membuat lunch langsung lenyap. " Gue gak peduli sama piringnya, nanti kita bisa beli yang baru. Tapi yang Gue khawatirin itu Lo, coba kalau gue gak ada, Gue gak tau lagi bakal kayak gimana kalau Lo celaka Ruu...," Jawab Raka frustasi. Kini seluruh dunianya berpusat pada cowok manis di depannya ini, kalau terjadi sesuatu padanya, otomatis dunia Raka akan hancur dalam sekejap. " Iya mas aku bener-benar minta maaf, lain kali aku bakal lebih hati-hati, Janji.." Raka mengacak-ngacak rambut Daru penuh sayang. Ia memberikan senyum terlembutnya agar anak itu berhenti merasa bersalah. " Iya gue maafin. Jadi sekarang kita mau bikin apa nih? Gue bantuin. Mumpung duo kucrut itu masih pada nongkrong diluar." Tiba-tiba semangat Daru yang mulai meluntur tadi kembali menyala seperti kembang api saat mendengar Raka ingin membantunya. Lalu dengan semangat, Ia pun menunjukkan menu-menu yang ingin dibuatnya pada cowok tampan itu. " Oke...Kalau masak Gurame asam manis aja mah gue juga bisa!!" Ujar Raka sombong. Daru tertawa melihat kepedeannya, dan dengan sengaja meninju lengannya pelan. " Mas Raka sok banget deh, waktu pertama kali aku datang aja kamu cuma beliin aku fastfood Mas ." Ujar Daru meragukan kemampuan pria tampan yang masih nyengir bangga di hadapannya. " Lah...Lo gak percaya ama gue? Kalau gue bisa bikin makanan ini dengan enak, Lo harus nurutin 3 permintaan Gue, gimana?" Daru sedikit menimbang-nimbang, jika dilihat dari pengalamannya memasak bareng Raka, cowok itu tidak pernah memperlihatkan kalau dia jago memasak, jadi Daru berani mengambil resiko untuk menerima tantangan Raka. " Oke...Aku bakal nurutin apa yang Mas Raka minta kalau masakan buatan Mas enak!" " Deal?" "DEAL!!" Seru Daru mantaaap. Ia pun turun dari atas counter dan memulai duet masaknya dengan Raka. *** -Daru PoV- Butuh waktu sejam lebih untuk menyelesaikan masakan kami. Untung saja Mas Aro dan Mas Ardhan masih setia menunggu di ruang tengah sambil bermain P.S. Soalnya tantanganku dan Mas Raka baru bisa berjalan kalau ada tim juri yang menilai. " Mas Aro, Mas Ardhan makanannya udah selesai !!" Teriakku dari arah dapur. Kulihat Mas Aro dan Mas Ardhan langsung membuang stik P.S nya dan berlari ke ruang makan. Hahhaa...sepertinya mereka sudah lapar sekali. " Howaaaah...seperti biasa, kalau Daru yang masak mah gak usah di raguin lagi rasanya !!" Seru Mas Ardhan bersemangat sembari menjilat bibir. Di belakangnya Mas Aro ikut menimpali, namun Aku bisa melihat kekagetan di wajah mereka saat Mas Raka datang dari arah dapur dengan mengenakkan apron sambil membawa nampan berisi gurame asam manis-nya. Bau masakannya yang sedap benar-benar menggoda iman. Aku sampai keringat dingin dibuatnya, huwaaah...sepertinya aku akan kalah telak. Mas Raka curang, dia ndak pernah ngomong kalau jago masak. Akunya kan jadi kecele. " Wuiiih...Raka Lo...Lo sejak kapan bisa masak?? Itu ikan, beneran buatan Lo? Jangan-jangan Lo pesen lagi!" Tuduhan Mas Aro membuat satu serbet kotor melayang ke wajahnya. Mas Raka benar-benar doyan banget melempari teman-temannya. " Gue dah lama belajar masak sama nyokap, cuma malas praktekin aja, tapi karena kali ini gue lagi taruhan sama seseorang, jadi yaaah....," mata elang mas Raka melirik sekilas ke arahku, senyum kilat tersungging di wajah tampannya. uuugh... " Ooowh...Kita dilibatkan dalam pertarungan suami-istri nih Dhan." Ujar Mas Aro, Ia menyikut lengan Mas Ardhan yang mengangguk-ngangguk setuju. " Udah gak usah sembarang ngomong, ayo makan !" Aku duduk tepat disamping Mas Raka, sedangkan Mas Aro dan Mas Ardhan duduk di hadapan kami. Jantungku berdetak kencang sekali, saat hendak mencoba masakan Mas Raka. Kalau beneran enak, berarti Aku harus nurutin permintaannya yang entah apa? Mas Raka kan orangnya jahil. " Gak usah deg-degan gitu, gue gak bakal minta macam-macam kok ," Ucap Mas Raka seolah bisa membaca pikiranku. Aku sama sekali nda' percaya dengan apa yang dikatakannya. Lihat saja senyumnya yang mencurigakan itu. " Woooow...Raka gila Lo!! Ini enak banget Sumpah Deh !!" Teriakan heboh kakak-kakak di depanku seketika membuat wajahku pucat. Aku pun segera mencomot daging Gurame asam manis buatan Mas Raka, dan kalian tahu..... ~~Rasaaanya enaaak sekaliiiiii~~ masakan buatan aku jelas nda' ada apa-apanya di bandingin ini. " Nyante aja, lagian masakan cowok disamping gue ini masih jauh lebih enak," Mas Raka melirik ku, sama sekali tidak ada kebohongan di wajahnya. Namun Aku tetap merasa minder walau dia ngomong kayak gitu. " Emang serasi banget yah, kalau kalian nikah nih, anak kalian pasti bakal subur-subur semua." Aku nyaris tersedak mendengar perkataan Mas Aro, meskipun cuma lelucon, tapi cukup membuat imajinasiku melayang kemana-mana. "Lah...emangnya Daru bisa lahirin?" Tanya Mas Ardhan polos. Di sebelahnya, Mas Aro geleng-geleng kepala frustasi, seolah disampingnya itu duduk anak Tk yang sedang bertanya mengapa kendaraan harus diisi bensin alih-alih air. " Kan ada yang namanya adopsi Dhan, banyak kok pasangan gay diluar sana yang punya anak." Papar Mas Aro. " Udah...udah, berhenti bahas hal-hal yang gak jelas di meja makan. Gue pusing dengernya." Mas Raka mencoba melerai, kulihat raut wajahnya berubah. Ia seperti tidak nyaman. Apa mas Raka jijik dengan pasangan gay yah? Tanpa sengaja Aku juga melihat perubahan di wajah Mas Ardhan, ada apa sebenarnya? Apa Mas Ardhan juga merasa jijik? Lalu bagaimana nasib Mas Putra? " Akh...ngomong-ngomong Mas Putra sama Mas Galih kemana Mas? Tumben mereka nda' ikut." Tiba-tiba saja Aku mengingat Mas Putra gara-gara melihat ekspresi Mas Ardhan yang sulit untuk dijelaskan. " Kite-kite juga pada gak ngerti, akhir-akhir ini dia sering kabur-kaburan, curigaan gue sih dia punya pacar." Ujar Mas Aro santai. Lagi-lagi Aku mendapati ekspresi yang berbeda dari wajah Mas Ardhan. Apa dia sudah tahu kalau Mas Putra jatuh cinta padanya? " Gak mungkin ! Cowok ketus, manja, dan gak jelas kayak Putra gak mungkinlah ada yang mau. Palingan kalau ada yang mau cuma bertahan sehari." Kata-kata dingin yang keluar dari mulut Mas Ardhan entah mengapa membuatku merasa sakit. Kenapa Ia tega bilang seperti itu pada pria yang telah memendam cinta padanya selama bertahun-tahun, apa Dia tidak menyadari betapa sakitnya hati Mas Putra saat melihatnya bersama orang lain ! "Ru..Daruu!!" Aku tersadar dari lamunan saat Mas Raka melambaikan tangannya di depan wajahku. " Ah...iyya, kenapa Mas?" Mas Raka mengernyitkan kening seolah mencoba membaca pikiranku. " Jangan melamun kalau lagi makan, entar makanannya di colong wewe." Apa yang di katakan oleh Mas Raka mengingatkanku akan nenek, nenek juga pernah mengatakan hal yang sama padaku waktu kecil dulu. " Maaf Mas ." Tidak beberapa lama kemudian, masakan yang kami masak tadi sudah lenyap tak bersisa dari atas meja. Yang tinggal hanyalah tulang-tulang berserakan dari ikan Gurame buatan Mas Raka. " Mas-Mas duluan aja kedepan, biar Aku yang beresin sisanya." Mata Mas Aro dan Mas Ardhan langsung berbinar bahagia saat mendengar ucapanku. " Ru Lo mau gak jadi istri gue ? Sumpah mantan-mantan Gue gak ada yang seperhatian Lo." Aku tertawa mendengar guyonan Mas Aro, tapi tiba-tiba saja Dia terdiam dan membeku menatap seseorang di sebelahku. Apa yang terjadi? Apa ada setan disampingku? Perlahan Aku melirik ke balik bahuku dan melihat Mas Raka menatap Mas Aro dengan death glare-nya yang menyayat hati. " Sorry...Gue lupa kalau Daru dah punya laki'!" Setelah mengatakan itu, Mas Aro langsung ngacir meninggalkan dapur, sampai-sampai Mas Ardhan harus sedikit mempercepat langkah untuk mengejarnya. Mas Raka membantuku membereskan meja makan. Aku mencuci piring dan gelas, sementara Ia mengelap meja serta menyapu lantai ruang makan yang dinodai ceceran sisa makanan. " Sini Mas biar Aku lanjutin." Aku mengulurkan tangan untuk mengambil sapu yang di pegang Mas Raka, tapi Ia menolak untuk menyerahkannya. Ia malah menyuruhku untuk duduk kembali di kursi makan. Alasannya biar Aku bisa beristirahat sejenak. Mas Raka sangat perhatian, senang sekali wanita yang akan menjadi istrinya nanti. Mas Raka pasti akan menjaganya sepenuh hati, dan tidak akan membiarkannya kelelahan mengurusi rumah tangga. Dia akan menjadi suami yang sempurna, juga ayah yang senantiasa memanjakan anak-anaknya. Terbukti dengan sikapnya yang biasa memanjakanku, sampai membuatku Geer. Setelah Mas Raka membuang sampah di dapur, Ia lalu menghampiri dan duduk disebelahku. Ia menatap wajahku lekat kemudian tersenyum. Senyum yang sukses membuat wajahku merah semerah cherry. " Kurasa seseorang harus menepati janjinya...," Mas Raka kembali tersenyum, namun kali ini Ia menampakkan senyum jahil-nya yang biasa. " Iya...Aku nda' akan lari kok Mas. Jadi apa permintaan Mas Raka yang harus ku penuhi?" Tanyaku pelan. Aku sama sekali tidak bisa menyembunyikan getaran di suaraku. Tapi bukannya merasa iba, Mas Raka malah cekikikan. " Mas Raka...," " Hmm?" " Jadi apa permintaan Mas?" Aku benar-benar penasaran sekarang. " Bangunin gue tiap pagi, karena gue paling sulit bangun pagi..," pinta Mas Raka, nada suaranya kini terdengar serius. " Kalau lo butuh bantuan, Gue mau Lo ngomong ke Gue, jangan disembunyiin dengan alasan gak enak atau apapun ," lanjutnya. " Dan yang ketiga.....Gue baru akan kasih tahu kalau waktunya udah tepat." Mas Raka lalu mencubit hidungku. Aku yang sedari tadi dibuatnya was-was dengan ketiga permintaannya itu langsung merasa lega. Tapi, permintaan yang terakhir, kira-kira apa yah?? *** -Daru POV- Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7.30 a.m, Aku sudah selesai membuat sarapan sejak tadi. Pancake saus caramel dengan taburan fresh strawberry, plus fresh milk chocochip untukku, dan caramel machiato untuk Mas Raka. Setelah kurasa cukup, Aku mengembalikan apron pada gantungan di samping kulkas. Mas Raka beneran belum bangun, mau tidak mau Aku harus menepati permintaannya untuk membangunkannya tiap pagi. Aku sama sekali tidak keberatan melakukannya, malah senang sekali. Hanya Aku jadi terlihat seperti seorang istri yang membangunkan sang suami setelah selesai membuat sarapan pagi. Whaaaa...apa yang kupikirkan!! Kulihat wajahku di pantulan kaca wastafel, dan warnanya merah sekalii. Mas Raka nda' boleh melihatku seperti ini, nanti dia bisa risih. Aku tidak ingin dia menjauhiku jika tahu kalau Aku menyukainyai bukan sebagai kakak tapi lebih dari itu. Aku tidak siap, dan juga tidak mau kehilangannya dulu. Sedikit berjingkat Aku naik ke lantai atas, kuketuk pintu kamar yang di atasnya tergantung sebuah papan bertuliskan 'Raka's Room'. Sampai ketukan ketiga, sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan, apa Aku harus membangunkannya secara langsung? Maksudku apa Aku harus masuk ke dalam dan... Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungku yang mulai tidak karuan. Perlahan kudorong pintu kayu di depanku membuka. Ruangan di hadapanku cukup gelap, hanya sebaris cahaya yang menembus masuk melalui sela-sela gorden yang tertutup di ujung ruangan. Di dalam sana juga sangat dingin, Aku sampai menggigil saat masuk ke dalam dan menutup pintu di belakangku. Suara dengkuran pelan terdengar dari atas tempat tidur king size di tengah ruangan, tampaknya Mas Raka tidur nyenyak sekali. Perlahan kulangkahkan kakiku menuju ke ujung ruangan untuk membuka gorden, Aku sedikit tersandung saat melintasi karpet yang penuh dengan bantal-bantal dan kaset berserakan. SReeeeeet.... Silau mentari seketika menyambut saat gorden yang kusadari berwarna merah marun itu membuka, Aku meyipitkan mata, berusaha beradaptasi dengan cahaya, kini seluruh ruangan bisa tampak dengan sangat jelas. Ini bukan kali pertama Aku memasuki kamar Mas Raka, tapi tetap saja rasanya sangat mendebarkan, apalagi bau Mas Raka memenuhi seluruh ruangan, bau cowok dengan aroma tembakau, sepertinya Dia juga merokok di dalam kamarnya ini. Warna kamar Mas Raka di d******i dengan warna biru tua, tak ada satupun tempelan poster di dindingnya, hanya ada Dart board yang terpasang disamping tiga buah frame foto. Dari tempatku berdiri, Aku tidak bisa melihat foto siapa yang terpajang di frame itu. Aku penasaran, tapi sekarang bukan waktunya untuk itu. Aku harus membangunkan seseorang yang bergelung nyaman di dalam selimut tebal hitamnya. Mas Raka menarik selimutnya sampai menutupi hidung, hanya separuh wajahnya yang tampak, itupun ditutupi beberapa helai rambut hitamnya yang mulai memanjang. Kalau melihatnya tidur dengan damai seperti ini, Ia tidak ada bedanya dengan anak kecil polos di luar sana alih-alih pria berbadan tinggi besar yang menjadi pujaan para wanita. Senang sekali rasanya bisa melihat sisi lain dari dirinya. " Mas Raaakaa !" Seruku sembari menggoyang-goyangkan lengannya yang tertutupi selimut. " Mas...banguuun!!" Ia masih belum bergeming. Astaga Aku tidak menyangka akan sesulit ini membangunkannya. " MAS RAA....Huwaaaaaaaah!!!!" Tubuhku terangkat dari lantai, badanku kini terhempas ke atas kasur tepat disamping Mas Raka. Dia baru saja menggendongku secepat kilat lalu sekarang lengan besarnya memeluk pinggangku erat, Ia merapatkan tubuhku di tubuhnya dengan posisi Ia masih di dalam selimut sementara Aku di atasnya. Apa Mas Raka pikir Aku gulingnya ?? kucoba melepaskan diri dari dekapannya yang sangat erat, tapi sia-sia saja, semakin Aku berusaha melepaskan diri maka semakin erat Ia mendekapku. Hidungku berada tepat di perpotongan lehernya, janggut tipis Mas Raka yang mulai tumbuh membuatku merasa geli. Tidak mungkin Aku mempertahan posisi seperti ini lebih lama lagi, bisa-bisa Aku pingsan. Satu-satunya cara yang bisa kucoba yaitu meniup-niup lehernya, berharap Ia akan sadar karena kegelian. Sekuat tenaga kukumpulkan nafas lalu meniup sekeras mungkin layaknya meniup lilin ulang tahun. 2 sampai 3 kali Aku mencoba hingga akhirnya Ia sedikit bergerak. " Maas...ba..nguun," bisikku di lehernya. " Nggh...." cuma igauan Mas Raka yang terdengar. Sama sekali tidak ada tanda-tanda jika Ia akan bangun. Akupun memutar otak, mencoba mencari cara yang pas untuk membangunkannya dalam posisi tidak menguntungkan ini. Otakku terus mencari-cari sampai akhirnya sebuah ide gila muncul dikepalaku. Kurasa cara seperti ini bisa digunakan. Aku mulai menghitung dalam hati, satu...dua...tigaa! " AAAAAUWHHH!!!" Teriakan Mas Raka membuatku meloncat ke samping secepat yang ku bisa. Ia kini berada dalam posisi duduk, satu tangannya memegang bagian leher yang baru saja kugigit sekuat tenaga. Samar-samar kulihat bekas gigitanku yang tercetak sempurna di sana. Jantungku kembali berdegup kencang saat kusadari Mas Raka hanya mengenakkan kolor pendek di balik selimutnya. Tubuh atletisnya dengan otot-otot keras di lengan dan di perut mencuat menantang, membuat pria manapun akan iri melihatnya, termasuk Aku. Tubuhku bagaikan tiang pancung ketimbang tubuh Mas Raka yang keren itu, apa Aku juga bisa punya tubuh seperti itu yah jika rajin olahraga? Mungkin Aku akan mencoba lebih sering berolahraga nanti. " Apa Lo gak punya cara ngebangunin yang lebih lembut Ru?!" Suara serak dan berat Mas Raka menyadarkanku dari lamunan. Tanpa sadar, mataku terfokus pada daerah sekitar perutnya, astagaaa...apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku tidak pernah memperhatikan seorang pria sampai segitunya. Apa hal itu membuatku menjadi cowok yang kata Alvin 'Pria m***m'? Tidak...tidak, Aku bukan 'Pria m***m', Bu'e nda' pernah ngajarin Aku buat jadi orang seperti itu. Kembali tanpa sadar Aku menggeleng-gelengkan kepala frustasi, tampaknya apa yang kulakukan membuat tangan Mas Raka tergerak untuk menyentuh keningku. " Lo sakit?! Kok geleng-geleng gak jelas gitu?" Tanyanya sembari menaikkan satu alis tebalnya. Kedua mata elang Mas Raka masih bengkak pasca bangun tidur, muka bantalnya pun terlihat sangat parah. " Nda' kok Mas, Aku cuma...-" cuma apa ?" Potong Mas Raka. " Nda' papa !" Jawabku cepat. Kentara sekali kalau Aku salah tingkah, semoga saja Mas Raka tidak mendapati mataku yang terus memandang tubuhnya. Tak lama kemudian Ia bangkit dari kasurnya, Aku hendak pergi meninggalkan kamar saat tiba-tiba Mas Raka berdiri dibelakangku lalu melingkarkan satu tangannya di leherku. Aku bisa merasakan nafasnya yang hangat di tengkukku hingga sebuah bisikan lembut terdengar di telingaku. " Kalau Lo terpesona dengan badan Gue, besok-besok Lo boleh bawa kamera kalau bangunin gue. Gue gak keberatan kok...hehe." bisikan lembut itu spontan membuat wajahku panas, andai di telinga dan kepalaku bisa keluar asap, mungkin kamar Mas Raka sudah dipenuhi kabut asap. Setelah mengatakan hal itu, Mas Raka tertawa terbahak sampai Ia menghilang di balik kamar mandi, dan meninggalkanku yang menutup wajah menahan malu. Ini baru pagi pertama, Ia sudah mengerjaiku. Bagaimana dengan pagi-pagi selanjutnya? Sepertinya Aku harus lebih bersabar. *** Alvin berlari-lari kecil menuju ke arahku di koridor, kulihat Ia menenteng beberapa sketchbook, palette, dan kuas di tangannya. Hari ini kami janjian untuk hang out di sebuah cafe baca dekat kampus sebelum pulang. Rencananya kami akan membahas tentang pameran akbar yang akan berlangsung sebentar lagi. Aku sangat menunggu-nunggu acara itu, berharap untuk bisa melihat karya-karya para Mahasiswa Seni Rupa baik yang senior maupun Maba. Aku juga berharap bisa mengajak Mas Raka untuk hadir dan melihat karyaku dipajang. Rasanya pasti akan senang sekali. " Ru maaf yah Gue telat, tadi ada urusan bentar ma Bakti." Alvin kini berdiri di hadapanku, Ia tengah mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Melihat Ia kesulitan membawa barang-barang ditangannya, Aku segera merebut beberapa sketchbook-nya yang nyaris terjatuh. " Oh God, thanks Ruu!! So...kita pergi sekarang?" " Ok!" Sebelah tangan Alvin menggandeng lenganku, kamipun beranjak meninggalkan kampus, dan naik angkot menuju ke cafe baca favorit Alvin. " Jadi sudah sejauh mana progress lukisan Lo Ru? Gue baru sempet bikin sketsanya...," Ujar Alvin lemas. Kami kini telah duduk di lantai atas bookworm cafe dengan sebucket chiken wings with spicy mayo, green tea latte dan taro milk tea di atas meja. Alvin memain-mainkan sendok di gelasnya, Ia tampak tidak begitu bersemangat dengan pameran nanti, beda sekali denganku. " Kenapa? Bukannya kemarin kamu yang paling semangat? Aku malah kiranya kamu dah finishing loh Vin." " Entahlah...akhir-akhir ini gue sibuk di Bem Ru. Urusan kuliah jadi gak terlalu menarik buat gue." Aku sedikit kaget mendengar ucapan Alvin, dia tidak pernah ngomong kalau bergabung di Bem. " Kok kamu nda' pernah ngomong kalau gabung di Bem?" Tanyaku dengan nada sedikit kecewa. Bukannya Aku sahabatnya? kenapa Alvin nda' pernah cerita apapun, Aku jadi merasa dilupakan. Menyadari perubahan di wajahku, Alvin langsung kalang kabut. " Bukan maksud gue gak mau cerita Ru, tapi ini juga gue tiba-tiba ditarik ma senior terus langsung di kasih kerjaan bejibun makanya gak sempet ngomong. Maafin Gue yaaah ....," Alvin mengeluarkan jurus memelasnya. Aku yang dari sananya memang nda' tegaan, hanya mengangguk pelan, mencoba memahami situasinya. " Tapi kamu nda' boleh menelantarkan kuliah untuk urusan Bem Vin. Aku nda' mau kamu jadi mahasiswa yang malas." " Iya...iya, gue usahain untuk membagi waktu. Oh ya Ruu...gue minjem ponsel dong, pengen liat Dp gue dah berubah atau belom." Tanpa pikir panjang Aku menyerahkan ponsel di saku ku pada Alvin. Aku lupa kalau wallpaper hapeku adalah foto Mas Raka yang mencium keningku saat di museum waktu itu, Alhasil, teriakan histeris Alvin membahana di seluruh ruangan. Untung saja cafe ini masih sepi pengunjung, hanya beberapa pegawai yang menatap kami heran. Buru-buru aku menutup mulut Alvin, takut kalau dia teriak lagi seperti saat penerimaan Mahasiswa baru dulu . "Lo marah karena gue gak cerita soal Bem ke Lo, terus ini apa ?! Lo udah main cium-cium sama Mas Raka terus gak pernah cerita apapun ke gue?!" Wajahku kontan memerah saat Alvin menyudutkanku dengan suara yang lumayan keras. Satu-satunya hal yang dapat kulakukan yaitu menutup wajah menahan malu. "Ru...Daru maafiiin gue." Alvin terdengar takut, Ia kini memelankan suaranya dan berbisik. Aku masih menutup wajah dengan kedua tangan, berharap rasa panas diwajahku segera menghilang. " Maaaafin gueee...gue beneran kaget liat wallpaper Lo ini Ruu, lagian lo kenapa pasang foto mesra kayak gini sih, kalau orang lain yang liat gimana?" Perlahan Aku menurunkan tangan lalu mengambil ponselku dari tangan Alvin dan secepat kilat mengganti gambar wallpaperku. Apa yang dikatakan Alvin ada benarnya, bagaimana kalau orang lain yang melihat? Mereka pasti akan berpikiran aneh, untung saja orang pertama yang melihatnya adalah Alvin. Setidaknya Aku bisa menjelaskan kesalahpahaman ini padanya. " Kamu jangan salah paham yah Vin, foto itu nda' berarti apa-apa, hanya foto biasa." Jelasku. Alvin tampak sama sekali tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Ia menggeleng pelan sembari tersenyum geli. " Mas Raka nyium kening Lo terus dia capture, apa Lo gak ngerasa kalau dia sengaja ngelakuinnya karena ada hati ama Lo Ru? Lo polos banget deh jadi anak." "Aku sama sekali ndak berpikiran seperti itu, jelas-jelas Mas Raka melakukannya untuk menggodaku. Dia kan doyan lihat wajahku merah Vin, Aku nda' mau terlalu berharap." Alvin kembali menggeleng, dari tingkahnya Aku bisa melihat kalau dia gemas sekali denganku. " Terserah Lo deh, tapi kalau dari penglihatan gue nih yah. Mas Raka juga suka sama Lo, Lo tinggal tunggu waktu aja, gak lama lagi dia pasti nembak Lo!" Ucap Alvin yakin. Mendengar omongannya Aku jadi senang sendiri tapi juga takut disaat yang bersamaan. Kami ini sama-sama cowok, tidak semudah itu bisa bersama. Jika Aku seorang wanita, Aku bisa berharap banyak, tapi dengan diriku yang seperti ini, Aku takut semua hanya ilusi. Bukankah ketika kau mencintai seseorang, semua hal akan terasa indah, walaupun itu fana. Semua hal manis yang dilakukan Mas Raka sampai saat ini hanya kuanggap sebagai kasih sayang seorang kakak pada adiknya, Aku belum berani berharap lebih. " Tidak semudah yang kamu katakan Vin, apa kamu lupa kalau Aku ini cowok. Mas Putra bilang Mas Raka mantannya cantik-cantik, Dia itu populer dikalangan wanita, hanya gadis-gadis perfect yang mau di kencaninya. Nah, Aku yang cowok ini bisa apa buat menandingi gadis-gadis itu?" Hatiku sedikit mencelos saat mengatakannya. Suatu saat Mas Raka pasti akan bertemu dengan jodohnya, pastinya wanita yang sangat cantik dan dewasa. Lalu sebagai adiknya, Aku akan berdiri di depannya, melihatnya menikah dengan sang pujaan hati. Sampai saat itu tiba, semoga Aku masih mempunyai banyak waktu untuk berada disampingnya meskipun tidak dapat memiliki hatinya. " Handaru Aruna, ada banyak cowok Straight di dunia ini yang berubah jadi gay, tidak ada yang tidak mungkin jika takdir sudah bermain, apalagi kalau cinta sudah tumbuh dan mengakar di hati kalian, Gue yakin, badai katrina pun bakal kalian hajar." Apa yang dikatakan Alvin benar, Aku berani untuk mempertahankan rasa yang tidak biasa ini pada seorang pria, Aku tahu konsekuensinya, Aku tahu tidak akan mudah menjalaninya tapi Aku mencintainya, Aku mencintai Mas Raka! Maafkan Aku Gusti... " Daru ingat apa yang gue bilang! apapun yang terjadi, gue bakal selalu dukung Lo, Lo sahabat gue, gue sayang banget ama Lo, jadi gue minta Lo jangan pernah ngerendahin diri lo sendiri. Gak sebanding ama mantan-mantan Mas Raka lah, apalah...Daru adalah Daru, dan Lo itu cowok paling baik, manis, polos, dan sabar yang pernah gue kenal. Gue gak akan kaget kalau Mas Raka jatuh cinta ama Lo, soalnya Lo emang pantas buat dicintai, So cheer Up honeeeey!!" Alvin mencubit kedua pipiku, Ia memamerkan senyum 1000 voltnya yang imut. Melihatnya, hatiku menjadi damai. " Matur nuwun atuuh Mbaaah ," Kepalaku langsung digaplek pakai serbet sama Alvin karena memanggilnya Mbah. Setiap waktu yang kuhabiskan bersama sahabatku yang satu ini adalah waktu-waktu yang paling berharga bagiku, Alvin selalu bisa menenangkanku saat Aku mulai merasa down, kuharap Aku juga bisa melakukan hal yang sama jika Alvin mengalami masalah dan butuh seseorang untuk berbagi. I definitely will. Aku kembali ke rumah diantar oleh Alvin dan kakaknya. Kakak Alvin seorang pria mapan yang sangat baik. Kedua adik kakak itu tidak memiliki rupa yang sama, Alvin berwajah imut, kecil, dan kelihatan rapuh sementara kakaknya terlihat seperti...hmmm...tukang pukul, tidak heran kalau dia begitu over protective pada adiknya secara Alvin adalah anak bungsu dari 5 bersaudara yang kesemuanya adalah pria. Mas Regha yang tadi menjemput kami adalah kakak kedua Alvin, dia bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai ahli IT, Dia sangat mencintai Alvin melebihi pacarnya sendiri, bahkan Mas Regha tega meninggalkan pacarnya di tengah kencan mereka saat Alvin tiba-tiba menelpon untuk minta jemput. Pengakuannya dan beberapa hal konyol terkait ke overprotectivan-nya pada Alvin itu membuatku tertawa sepanjang perjalanan pulang. Kasihan sekali Alvin, dia diperlakukan seperti adik perempuan oleh ke-empat kakaknya. Bahkan saat berhubungan dengan wanita pun Ia selalu di pantau, haha....Aku sama sekali tidak bisa membayangkan jika tiba-tiba Alvin membawa seorang pria ke rumahnya, lalu memperkenalkannya sebagai pacar, kakak-kakaknya pasti akan langsung membusur cowok itu. Tidak ada seorangpun di rumah saat Aku pulang, mungkin Mas Raka masih kuliah, untung saja tadi Aku memberitahunya kalau akan pulang bersama Alvin, jika tidak, Dia pasti akan menjemputku dan meninggalkan kuliahnya lagi. Belum sempat membuka pakaian, ponselku bergetar. Ada LINE masuk. GIRAKAMYLES Lo udah pulang? Aku tersenyum membaca Line dari Mas Raka. Secepat kilat Aku mengetik balasan. DARUARUNA Udah mas :) Mas Raka jam berapa pulangnya? Tidak beberapa lama kemudian, ponselku kembali bergetar. GIRAKAMYLES Bentar lagi, bdw jangan lupa masak yah, gue malas makan di luar, pengen makan masakan buatan lo ... Huwaah...Mas Raka cuma mau makan masakan buatan Aku, Daru tenang...tenang...aduuuh..Aku kok jadi kegirangan gini? DARUARUNA Iyya Mas...cepat pulang yah, n hati-hati nyetirnya :) Setelah mengetik line terakhir, Aku meninggalkan ponselku dan kembali sibuk mengganti baju. Dari arah kasur terdengar getaran lagi. Buru-buru Aku menyambar ponselku, dan saat mataku melihat barisan tulisan yang terpampang di layar, jantungku nyaris melompat keluar. GIRAKAMYLES Ok sayang, Mas bakal hati-hati, kamu jaga rumah kita yah ... To be continued ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN