Dengan tangan gemetar Bian menerima berkas-berkas yang Andatio berikan padanya,membacanya sebentar lalu menggeleng pelan. Duduk di sofa masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang ini. Mana mungkin ada orang sekejam ini di dunia? Ataukah lingkup tempat tinggalnya yang terlalu sempit? “Hanya itu yang bisa kami berikan pada anda agar bisa menyetuji jalan ini,jika kita tidak menghemtikannya maka dian akan semakin menjadi-jadi.” Bukannya menjawab Bian malah diam. Andatio menghela napasnya entah sekian kalinya,sepanjang ingatannya inilah tangisan keduanya. Tangisan pertamanya adalah saat istrinya meninggal lalu sekarang. Dan yang membuatnya menangis adalah kaum perempuan. “Apa anda pernah menangis karena seorang perempuan?” tanyanya pada Bian, “Saya pernah merasa dunia saya hancur

