“Kamu yakin tidak ingin ke bandung bertemu dengan mamamu? Ameera itu? Padahal tujuan utama kita kesini kan untuk mengunjunginya kan? Mengapa malah berubah pikiran?” perempuan yang sedang di tatap Geral tidak menjawab sama sekali. “Apa yang kamu bilang sama kembaranmu salah kan? Kamu mengatakan padanya terpaksa kemari karena aku ada pekerjaan mendadak padahal ini desakanmu setelah melihat mamamu tidak berdaya kemarin,kenapa?” Herlina mengalihkan tatapannya dari padatnya kota Jakarta siang hari ini. “Aku hanya tidak ingin terlibat terlalu jauh,kami sama-sama tumbuh dalam kesakitan,untuk membujuknya saja aku perlu mencurahkan dan menceritakan semua yang aku alami walaupun aku tau itu sama saja membuka traumaku sendiri,” gumamnya lalu tersenyum miris. Matanya kembali menatap bangunan Jakart

