Kuperiksa penampilanku sekali lagi, Setelah merasa cantik dan perfect kudorong pintu didepanku bertemu pandang dengan beberapa orang, tak lupa kupasang senyum semanis mungkin berjalan anggun untuk duduk di samping kak Langit. "Kenapa cantik banget?" bisiknya padaku setelah aku duduk di sampingnya, sayangnya tidak kupedulikan sama sekali. "Halo Syakila, masih ingat dengan kak Herlena?" sapaku pada anak kecil yang sejak Pertama aku masuk kemari arah matanya terus mengarah padaku. "Kak Herlena?" Aku mengangguk. "Beneran kak Herlena?" tanyanya Lagi. Aku tertawa pelan, menyimpan tasku dimeja terlebih dahulu barulah berpindah duduk disampingnya. Memeluknya untungnya tidak di tolak, kurasakan tangannya mendekapku erat. "Beneran kak Herlena?" ulangnya sekali lagi, "Masa kakak sudah d

