Lexion Pov. Aku tertawa pelan karena sejak kami masuk kedalam bioskop Qeila terus memasang wajah dalam mode kesal,sedang aku terus memegang tangannya hingga film benar-benar selesai. “Kamu memang pembohong yang sangat handal,Lexion.” Suaranya dan aku tertawa mnedengarnya. “Kamu mengatakan tidak akan meemsakn bioskop secara privat llau sekarang apa? Sejak kita masuk tidak ada siapapun yang masuk setelahnya.” Omelnya lagi,berdiri lebih dulu dan mneinggalkanku sendirian didalam bioskop ini. Awalnya aku memang hanya akan mememsan tiket tidak sampai ketahap menyewa bioskopnya juga,tapi papa ingin kami menyewa saja. Katanya ini lebih baik karena keamananya lebih bagus, “KAMU MAU TINGGAL DISANA ATAU TIDAK!” aku tersentak kaget karena teriakan tiba-tibanya,aku menoleh kebelakang menemuinya se

