Bertemu Lagi

1576 Kata
Hari pertama bekerja setelah satu minggu mengambil cuti. Kirana berjalan menuju meja kerjanya dengan senang. Tenaga yang terkumpul sehabis libur cukup banyak sehingga ia tidak sabar menerima tugas baru. Tidak bisa di pungkiri, sebanyak apa yang bisa menerima ada lebih banyak lagi yang tidak suka atas kemunculan Kirana pagi itu. Mayoritas perempuan yang suka iri. Kirana mendecah sebal, masih pagi ia sudah mendengar bisikan-bisikan yang menyebalkan. "Eh liat tuh, Si Kirana udah masuk lagi, Enak banget ya cuti seminggu." "Dia kan kesayangannya si bos, Makanya dapat izin cuti." "Idiih... Palingan si bos di goda." "Gak banget ya! Cuiihh!! Menarik nafas dalam. Dipikirkan pun tidak berguna jika ia meladeni bisik-bisikan itu. Tidak pas timingnya untuk memberi pelajaran pada mulut comberan mereka untuk sekarang. Kirana menyibukan diri pada meja kerja yang sudah ia tinggal lama. Membersihkan debu dan merapikan lembaran kertas yang tercecer di atas meja. Entah punya siapa. "Kiran, Kamu udah masuk, kangen tau! gimana kabarnya?" Hana teman seperjuangan dan tetangga mejanya, Kirana membalas senyum gadis itu,"Hai, kamu juga baru datang?" "Iya nih, tadi bangun kesiangan aku kira bakalan telat." "Nggak telat kok, masih ada waktu 5 menit " Gadis maniak kaca mata itu bernafas lega di kursinya. Nasibnya tidak begitu berbeda dari Kirana. Dia juga memiliki para haters di kantor ini. Para haters yang iri dengan penampilan Hana yang selalu tampak cantik dengan kaca mata berbeda mode tiap hari. Bedanya Hana lebih berani menghadapi haters itu ketimbang dirinya. "Gimana keadaan orang tua kamu, Ran?" "Alhamdulilah, Mulai ada perubahan setelah menjalani terapi rutin." "Wah Syukurlah, Terus siapa yang jagain Bokap kamu kalau kerja hari ini." "Ada pengasuh buat jaga papa sementara aku kerja, Han." Hana beroh ria,"iya harusnya begitu." Mereka melanjutkan obrolan itu dengan bertukar ide untuk menu makan siang nanti. Tapi suara berat dari arah lain menganggu obrolan kecil itu. "Kiran!" Melihat seorang pria dengan setelan jas tampak berwibawa mendekat kearahnya, Kirana bangun dari kursi untuk beri sambutan. "Ya Pak Radit?" "Saya senang kamu sudah masuk kembali, Ran. Apa kamu sedang sibuk?" "Sama sekali nggak, Pak." Lelaki itu tersenyum senang, "Andi lagi cuti sakit, hari ini kebetulan lagi ada tamu, kamu bisa tolong buatkan dua minuman untuk saya sebentar?" "Oh, Bisa Pak, Saya akan segera mengantar pesanannya keruangan Pak Radit." "Oke, Ran terima kasih ya." "Baik, Pak." Kirana mulai berjalan menuju pantry melewati deretan meja tukang gosip yang masih saja berbisih-bisik tentang dirinya. Sampai kapan coba mereka akan berhenti? Banyak memang yang tidak tau mengenai hubungan antara Kirana dengan Radit. Sampai kedekatan mereka di mata pegawai lain adalah sesuatu yang tak pantas di lihat. Padahal Kirana sudah mengenal Radit sejak duduk di bangku SMA. Dan juga lelaki itu adalah kekasih Intan sahabatnya. Gosip-gosip yang menyebar di kantor memang meresahkan dan nggak ngotak. Padahal baru sekali Kirana nebeng mobil Radit untuk pulang karena mobilnya sedang berada bengkel. Besoknya ia sudah dijuluki sebagai pegawai perempuan penggoda. Pernah Kirana berniat resign dari sana tetapi Radit dan Intan berusaha menahan dengan berbagai alasan. Alasan dari lelaki itu masih membutuhkan pegawai yang profesional seperti dirinya. Dan alasan Intan melarang di keluar karena tidak akan ada lagi yang bisa memata-matai kekasihnya jika saat di kantor. Nyebelin nggak sih dengan alasan itu? Kalau bukan karena Intan yang memohon mungkin dia sudah benar-benar keluar dari kantor ini. Dan membuka usaha katering di rumah. . . Butuh beberapa menit, Kirana sudah berjalan kearah ruangan Radit. Membawa nampan berisi dua cangkir hot chocolate sesuai selera si bos seperti biasanya. Lalu sepiring biskuit dengan selai kacang dan vanila. Radit memang sering minta batuan padanya jika sekretaris pribadinya tidak ada. Padahal banyak karyawan lain yang bisa dia mintai tolong apa lagi OB. Entah kenapa dia seperti anti sekali meminta pada sembarang orang mengenai makanan dan minuman untuk dikonsumsi. Kirana mengetuk pintu berbahan kayu dengan hati-hati. Takut saja memegang nampan dengan satu tangan membuat isinya jadi berantakan. "Masuk! " suara dibalik pintu. Kirana mulai mendorong pintu itu dengan pinggulnya setelah mendapatkan izin. Ia melangkah masuk hingga mendekat di sisi sofa. "Permisi, ini minumannya, Pak." "Taruh di meja aja, Ran." Kirana memindahkan isi nampan ke atas meja kecil di depan sofa. Berniat menawarkan kopi itu pada tamu bosnya dengan ramah. Tapi Kirana malah terkejut tak menduga melihat wajah tamu pria itu. "Kiran?" "Bang, Yovan?" Wajah senang tak bisa ditutupi oleh mereka. "Kamu kerja di sini?" "Iya, Bang." Kirana tak lepas memandang pria di depannya. Meski hanya memakai kemeja putih Yovan selalu saja tampak bening. "Kalian udah saling kenal? sejak kapan?" Pertanyaan Radit dilayangkan untuk mereka berdua, rasa penasaran seolah menuntutnya untuk segera ingin tahu. "Kemaren Kirana ikut menjemput saya bareng Intan ke Bandara," jawab Yovan menoleh sekilas pada Radit sebelum ia kembali memandang gadis cantik di depannya. Dua kali pertemu dengan penampilan yang berbeda. Bagi Yovan Kirana tampak seksi memakai setelan kerja dengan rok selutut terlihat lebih modis. Rambut yang biasa di gerai sekarang di gulung rapi juga lebih fresh. "Ooh. Begitu, Bagus lah jadi saya nggak susah lagi ngenalin kalian," ujarnya. "Mmm, Bang Yovan ada urusan apa di sini?" Ya aneh saja seorang dokter datang ke gedung perkantoran. Seharusnya sibuk di rumah sakit atau klinik. "Lagi ada kesempatan untuk sidang calon ipar, sebelum di restui," jawab Yovan melirik Radit. Yang di lirik malah asik menyeruput minuman yang di bawa Kirana. Gadis itu tersenyum ringan pada Yovan. Memahami maksud perkataannya. Sebagai kakak lelaki wajar Yovan melakukan itu pada Radit berstatus sebagai kekasih adiknya. "Duduk Ran, Ikut ngobrol bareng kita di sini," ajak Yovan menggeser duduknya. "Trimaksi bang Yo, Aku harus balik kerja," tolaknya melirik sekilas pada Radit. "Jangan takut Ran, bos kamu nggak bakal marah kok," saut Yovan memberi tatapan tajam pada Radit oleh gelagat Kirana yang tampak takut. "Kenapa Saya?" beo Radit pada tingkah Yovan. Dia tidak keberatan jika Kirana duduk sebentar tadi sini. Dia juga sudah mendapatkan mandat dari kekasihnya untuk ikut membantu melancarkan perjodohan antara Yovan dan Kirana."iya Ran, di sini dulu saja, Bang Yo juga nggak bakal lama." "Kamu ngusir saya secara halus?" "Bukan Bang, duh jangan sensi gitu napa." Kirana ketawa kecil dengan keakraban dua lelaki itu. "Aku nggak enakan sama pegawai lain, di sangka enak-enakan padahal baru kerja lagi setelah cuti. Lagian Bang Yo pasti ada yang mau diomongin sama Pak Radit kan, mana mungkin aku mau mengganggu acara kalian." Radit menghargai penolakan Kirana, tidak baik juga dipaksa jika dia merasa tak nyaman. Akhir-akhir ini dia juga mendengar gosip tak baik tentang Kirana di kantornya. Berbeda dengan Yovan yang tampak kecewa akan berpisah lagi dengan gadis itu. "Aku tinggal dulu ya Bang Yo," lanjut Kirana pamit. Tak lupa juga izin pada Radit sebagai bosnya. "Tunggu Ran!" Yovan tak sadar jika tangannya sudah berani menyentuh telapak tangan Kirana hanya untuk menahan gadis itu pergi. Genggaman itu terlepas setelah wajah kaget Kirana tampak kaget. "Ah maaf!" "Ya, ada apa Bang?" "Itu...kapan mau bawa papa kamu untuk cekup lagi?" Merek beradu pandangan untuk berada saat. Sampai suara deheman Radit yang tampak sengaja menganggu mereka. "Sabtu, karena aku udah mulai kerja jadi ambil waktu terapinya saat libur." "Gitu ya." Terlihat wajah bingung menguasai Yovan,"Kenapa memangnya Bang?" "Um.. kemaren aku udah periksa hasil Rontgen-nya. Kalo kamu mau jika aku temani ke pengobatan herbal yang cocok sama derita papa kamu, kebetulan aku ada kenalan di sana." Kirana tampak belum memahami perkataan Yovan,"bukan berarti aku minta berhenti terapi, saya ingin menyarankan pengobatan herbal ini juga, kebetulan beliau teman sesama dokter yang saya kenal apa lagi bidang yang dia pelajari mirip sama apa yang di derita papa kamu." "Kata Intan papa kamu gak mau konsumsi obat pil, Bener?" Kirana mangguk" Iya Bang. Papa susah banget untuk minum obat." "Nah, Gimana kita coba dulu cara itu, Nanti digabungin sama pengobatan medis dari dokter tempat biasa kamu cek up," terang Yovan. "Iya boleh." Yovan menghembuskan nafas lega, takut saja Kirana menolak sarannya. Apalagi ini rencana awal baginya untuk mendekati Kirana. Susah susah gampang mendapatkan kepercayaan seorang wanita. Karena nggak semua wanita itu gampangan. Juga tidak akan lancar selancar jalan tol saat dini hari. Yovan butuh strategi dari kecerdasannya mencari momen yang pas untuk menarik hati Kirana. Hanya tindakan nyatalah yang bisa meluluhkan hati wanita. Salah satu bentuk dari perhatian. . . Kesepuluh jari Kirana bergerak dengan lincah di atas keyboard. Matanya juga fokus ke layar komputer memperhatikan huruf dan angka di sana. Namun bibirnya juga ikut menyunggingkan senyum penuh arti. Ditanya kenapa, Kirana juga tidak mengerti kenapa dirinya ingin sekali tersenyum. Untuk sekarang baginya senyum itu cara termanis untuk mengungkapkan rasa senang tanpa bicara. Yovan? Satu nama itu terus terlintas di pikirannya. Ada apa dengan nama itu? Mungkin bukan dengan nama yang jadi permasalahan sekarang. Melainkan pemilik nama itu. Penyebab dirinya menjadi seperti orang gila senyum dan ketawa sendiri. Bahkan Hana yang sejak tadi memperhatikan jadi ikut tertular. "Yang lagi seneng, di samperin cowok ganteng," godanya. Kirana melirik gadis itu dengan wajah memerah. Tidak disangka saja sebelum pergi Yovan mampir ke meja kerjanya hanya untuk berpamitan. Sesaat perhatian seluruh pegawai di sana tertuju pada mereka. "Aku nggak kenapa-kenapa kok, Hana, jangan usil." Dia cikikikan,"dia siapa, Ran?" "Abangnya temen aku." "Lalu hubungan kalian apa?" "Cuma temanan." "Boong, nggak keliatan kalau cuma teman doank." "Beneran, lagian kamu kenapa pula jadi curigaan gitu." "Habisnya muka kamu bahagia banget saat cowok itu datang nyamperin ke sini." Kirana mencoba membatah,"Masa iya kelihatan banget apa?" "Banget!" cicit Hana. Kirana menghentikan kegiatannya untuk mengusap wajah yang masih terasa gerah oleh serangan jantung yang mendadak berdegup. Ia mengambil kaca kecil dari dalam laci dan memandang wajahnya di sana. Berkat Yovan dia bisa membuang sejenak rasa tertekan oleh suasana kantor dan pekerjaan. .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN