Kirana menghela nafas panjang setelah berhasil mematikan siaran televisi yang membosankan. Semenit kemudian TV itu kembali dinyalakan. Sumpah, sendirian di ruang rawat begini pikirannya rada parno. Meski Yovan selalu membuat kamar yang dia tempati terlihat nyaman, seperti memajang bunga hias di setiap sudut ruangan, sampai mempersiapkan aroma terapi yang katanya ampuh menghilangkan stres. Tetap saja sendirian itu terlalu sepi bagi Kirana. Kemudian Kirana teringat ponselnya yang sudah lama sekali dianggurin. Dia menyalakan layar sekalian melihat waktu. "Masih pukul 8? Kok lama banget sih ini hari!" keluhnya. Lima belas menit lalu Yovan izin keluar padanya tanpa alasan. Memang nggak ada niat buat menahan pria itu untuk selalu bersamanya. Yovan mau pergi ya terserah, mau ngapain jug

