Suara denting sendok dan garpu yang beradu mengisi satu ruang, seorang pria yang terlihat malas untuk memasukkan makanan. Tatapan datar dan tajam yang ia perlihatkan pada semua orang akan berubah ketika ia berada disatu ruangan bersama Elvrince. “Makanan ini terasa hambar. Apa kau tidak mau bangun untuk memasakkanku lagi.” Ucap Dreyhan memelas dari sofa dekat jendela. Meski rasanya tak seenak buatan Elvrince, ia tetap menelannya. Ia harus tetap menjaga kesehatannya. Setelah menyelesaikan makan malamnya, ia meraih laptop dan membawanya di atas ranjang. Ia duduk menyandar dikepala ranjang dengan memangku laptop. Tidak ada berkas yang perlu ia tanda tangani jadi ia mengerjakan pekerjaannya hanya melalui laptop saja. Jari-jarinya terus menari diatas keyboard hingga waktu telah menunjukkan pu

