“Aku merindukanmu,sangat.” Ucap Agride pelan. Kalimat yang Elvrince dengar seperti belati tajam menusuk rongga dadà. Memori dua tahun lalu melintas dikepala Elvrince. Nafasnya seperti tercekat, menahan berbagai gejolak jiwa yang tiba-tiba menghantam diri. Elvrince mengumpulkan kesadaran dan menarik dirinya dari genangan luka. Ia menghirup oksigen dalam dan menghembuskan perlahan hingga berulang kali. Buggh ELvrince menyikut perut Agride agar melepas pelukan, lalu ia berbalik dan menendang Agride hingga membuat Agridee tersungkur kebelakang dengan posisi terduduk. Tidak cukup dengan itu, Elvrince mendekati Agride dan memukul tulang rahangnya membabi buta. “Kau! Pria brèngsèk yang tidak seharusnya muncul dihadapanku.” Ucap Elvrince sambil terus memukuli Agride sampai babak belur. Mem

