Mobil mewah berjenis Rolls Royce Phantom berwarna silver yang tumpangi oleh Damar dan sang ibu, Rima akhirnya tiba juga di halaman rumah keluarga Ghassani pada Purimas Regency. Sengaja Damar membawa serta ibunya dengan mobil super mewah yang harganya sekitar 20 miliar rupiah itu demi mendapat empati dari keluarga wanita yang hendak dinikahi akibat sudah dihamili secara paksa tersebut.
Tak ayal kedatangan Damar dan sang ibu langsung menarik perhatian beberapa orang yang ada di sana, termasuk tetangga yang kebetulan sedang berada di depan rumah meskipun hanya segelintir saja karena hari sudah menginjak malam. Sementara itu di kediaman Keluarga Ghassani, sepasang netra cokelat gelap milik Violetta menangkap kedatangan mobil berharga fantastis itu tercengang. Ia menyaksikan mobil tersebut terparkir di halaman rumahnya, langsung curiga dan bergegas menghampiri sang ibunda, Hilda Fitria yang sibuk di dapur guna menyiapkan makan malam.
“MAMA! MAMA!” pekik Violetta heboh.
Hilda yang tengah menuangkan sop buntut ke dalam mangkok keramik besar, langsung bersuara.
“Vio, ada apa sih? Kamu kayak orang habis ketemu hantu atau penjahat saja. Ada apa, Sayang?” tanya Hilda.
Violetta menghela napas lalu menjawab pertanyaan ibunya.
“Ma, di luar itu aku lihat ada mobil super mewah yang parkir di halaman rumah kita. Ya ampun, Ma, siapa itu? Siapa orang kaya raya yang mau datang ke rumah kita?” cecar Violetta berapi-api.
Hilda dengan santai menjawab. “Ya mungkin Aga yang datang. Siapa lagi keluarga kaya yang mendatangi rumah kita jika bukan Aga atau atasan Papa Abdullah. Tapi kalo atasan Papa mustahil kayaknya.”
“Plat nomor mobil itu W, Ma. Berarti kan orang Gresik atau Sidoarjo. Siapa ya?” tanya Violetta penasaran.
“Oh ya? Nggak tahu Mama. Lebih baik sekarang kau siap-siap ke ruang tamu untuk menyambut kehadiran orang itu jika ternyata memang mereka hendak berkunjung ke sini,” saran Hilda yang hendak menghidangkan sop buntut buatannya ke meja makan beserta lauk pauk yang lain juga.
Violetta mendengkus lalu menyetujui saran ibunya untuk bersiap-siap menyambut tamu di depan rumah. Ternyata benar, saat Violetta baru saja melangkah menuju ruang tamu, pintu rumah diketuk oleh seseorang.
Tok! Tok! Tok!
“Assalamu’alaikum ...” sapa suara bariton dari seorang pria dari luar rumah.
Violetta yang mendengar salam terucap dari mulut orang lain itu bergegas menambah kecepatan berjalannya sambil membalas salam itu.
“Wa'alaikumussalam,” balas Violetta yang kemudian segera membukakan pintu utama rumah.
Pintu kediaman milik Keluarga Ghassani itu pun terbuka dan tampak seorang pria berpenampilan rapi dengan setelan jas semi formal yang datang bersama seorang wanita paruh baya. Wanita itu berpenampilan layaknya ibu-ibu muslimah yang mengenakan gamis mewah serta penutup kepala berupa hijab. Violetta tersentak kaget. Ia bertanya-tanya siapakah mereka berdua.
“Selamat malam, maaf sudah datang malam-malam seperti ini,” celetuk Damar.
“Iya, malam. Oh tak apa-apa, mari silakan masuk,” balas Violetta yang mempersilakan Damar dan Rima untuk masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa ruang tamu.
Setelah mereka semua duduk di sofa, Violetta melanjutkan obrolan mereka lagi.
“Maaf, saya masih belum familiar dengan Anda berdua. Kalau boleh tahu, ada keperluan apa ya?” tanya Violetta penasaran.
Damar langsung menjawab. “Begini, apa Lashira dan kedua orang tuanya ada di sini?” tanya pria itu tanpa berbasa-basi lagi.
Deg. Kata ‘Lashira' yang terlontar dari mulut pria itu membuat Violetta tersentak kaget. Ia membatin.
Sialan! Lashira lagi Lashira lagi. Siapa mereka? Kenapa harus mencari saudari tiriku yang selalu dikelilingi oleh pria-pria kaya. Aku jadi penasaran.
“Oh, Shira? Ada di kamarnya. Kalau Papa Abdullah ada di ruang kerja,” jawab Violetta.
“Apa bisa dipanggilkan sekarang?” tanya Damar yang sudah sabar untuk mengemukakan rencananya untuk meminang sang wanita pujaan hati yang berstatus sebagai calon istri dari pria lain itu.
Violetta mengangguk. “Bisa, mohon tunggu sebentar ya. Tapi sebelum saya panggil, bisa disebutkan nama Anda? Kalau boleh tahu Anda ini siapa?”
Damar langsung menjawab seraya mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Violetta.
“Perkenalkan, saya Damar Pranata bersama Mama saya Rima Pranata yang malam ini hadir ke sini untuk mengutarakan keinginan dalam melamar Lashira Ghassani sebagai calon istri saya. Saya Dokter Damar yang selama enam tahun ini menjadi teman kuliah saya di kampus,” ujar Damar panjang lebar yang saat mengatakan tentang itu, tiba-tiba muncul Hilda Fitria yang sudah selesai menghidangkan menu makan malam di ruang makan.
Hilda yang mendengar kalimat yang diucapkan oleh Damar seketika terperanjat dan membuka mulut lebar-lebar. Serasa mimpi mendengar ucapan Damar itu mengingat sang anak tirinya, Lashira sudah memiliki calon pendamping hidup yakni Aga Daneswara.
“Apa? Maaf, apa saya tidak salah dengar? Lashira sudah---“ Belum sempat menyelesaikan kalimat, sudah dipotong oleh Damar.
Damar langsung bersuara lagi. “Begini, mungkin kalian kaget dengan kehadiran saya dan Mama saya yang terkesan mendadak ini. Nanti akan dijelaskan lebih rinci tentang ini. Yang penting sekarang saya mau bertemu dengan Lashira dan kedua orang tuanya.”
Violetta dan Hilda meneguk ludah bersamaan. Lantas Hilda berucap kembali.
“Saya adalah Mama tiri dari Lashira. Sebentar saya panggilkan suami saya Abdullah dan Shira untuk ikut serta di sini. Mohon tunggu sebentar,” ucap Hilda yang langsung beranjak pergi dari ruang tamu menuju ruang kerja untuk memanggil sang suami, sedangkan Violetta yang mengusulkan untuk memanggil Lashira.
“Ma, Mama temui Papa saja dulu, mengenai Shira biar Vio yang panggil dia,” bisik Violetta yang diangguki oleh ibunya, Hilda.
“Iya. Cepatlah,” sahut Hilda singkat.
Kedua wanita itu pun pergi meninggalkan Damar dan Rima sejenak untuk memanggil Abdullah dan Lashira. Mereka berdua dilanda rasa penasaran sekali akibat kehadiran mendadak dua orang itu. Apalagi saat Damar secara terang-terangan berkata ingin meminang Lashira. Sungguh aneh dan ajaib bagi mereka berdua karena yang mereka tahu jika Lashira merupakan calon istri dari Aga Daneswara selama ini menjadi kekasihnya. Mereka berdua jadi curiga ada yang terjadi di antara Lashira dan Damar.
Tak lama kemudian, Hilda bergerak menuju ruang kerja sang suami. Karena kebetulan ruangannya tak terkunci, jadi wanita paruh baya itu langsung masuk ke dalam.
“Papa ... Papa ... ada hal penting yang mau Mama katakan,” ucap Hilda menggebu-gebu.
Abdullah yang telah sibuk menggoreskan pena di beberapa lembar berkas kerjanya, langsung menghentikan aktivitasnya itu.
“Mama, kenapa? Ada apa???” tanya pria itu sambil mengerutkan kening.
Hilda mencoba mengatur napas lalu angkat bicara lagi.
“Begini, Pa. Kita kedatangan dua tamu istimewa sekarang. Papa masih ingat teman kuliah Lashira yang anak bupati itu kan? Yang sempat kita lihat waktu mengantarkan Shira berangkat ujian?” tanya Hilda.
Abdullah mengangguk. “Iya, ingat. Kenapa?”
“Dia dan ibunya datang ke rumah kita sekarang. Mereka berdua mau bertemu Shira dan kita berdua sebagai orang tua untuk hal yang membuat kita terkejut setengah mati,” jawab Hilda yang memancing rasa penasaran sang suami.
“Hah? Apa sih maksudmu, Hilda???” tanya Abdullah cemas.
“Bayangkan saja, Pa. Masa' mereka berdua datang karena mau melamar Shira, putri kita untuk menuju jenjang pernikahan,” sahut Hilda mulai frustasi.
Spontan Abdullah syok saat mendengar ucapan istrinya itu.
“APAAA? Yang benar saja kau bicara! Shira itu milik Aga. Mereka berdua itu mau melangsungkan pernikahan. Nggak mungkin itu. Kok bisa sampai begini???” tanya Abdullah kebingungan.
Hilda mengangkat bahu tak paham. “Mama juga nggak tahu, Pa. Lebih baik sekarang kita temui mereka berdua. Kita cari tahu kenapa bisa sampai seperti ini jadinya.”
Abdullah berdecak lalu bergerak keluar dari ruang kerjanya untuk menemui Damar dan Rima. Sementara itu Violetta langsung menggedor-gedor pintu kamar Lashira. Wanita itu yang tengah berbaring di atas tempat tidur itu langsung bangkit saat mendengar suara Violetta.
“Shira! Shira! Buka pintunya! Cepat!” seru Violetta tidak sabar.
“Iya-iya, Vio. Tunggu sebentar,” sahut Lashira yang lekas membukakan pintu.
Pintu kamar pun terbuka dan Violetta langsung menyelonong masuk ke dalam kamar saudara tirinya.
“Hei Shira, ada pria yang mencarimu di depan. Pria kaya raya dan mamanya datang dengan mobil super mewah di halaman rumah kita,” ujar Violetta yang membuat Lashira tercengang.
“Apa??? Pria kaya raya? Siapa? Aga dan mamanya?” tebak Lashira.
Violetta menggeleng sambil berdecak. “Bukan. Pria lain. Malah dia bilang mau melamarmu sebentar lagi. Memang kau punya selingkuhan??? Nggak nyangka ya jika targetmu adalah pria-pria kaya untuk dinikahi. Ck ... ck ... ck ...”
Lashira mengerutkan kening dan tak terima ucapan wanita yang jadi saudara tirinya itu.
“Vio, jaga ucapanmu! Jaga bilang begitu! Aku ganti baju dulu, sebentar lagi aku temui mereka. Tak mungkin kan aku bertemu dalam keadaan memakai daster seperti ini,” sahut Lashira yang segera dibalas oleh Violetta.
“Iya, cepatlah! Mereka berdua sudah menunggumu,” pinta Violetta yang tetap terkesan sinis pada wanita yang seusia dengannya itu.
Selalu sinis apalagi terkait pasangan. Lashira yang mendapatkan hati Aga itu membuatnya iri karena selama ia memiliki kekasih tak ada yang nyaris sempurna seperti Aga Daneswara. Aga yang tampan rupawan ditambah dengan berasal dari keluarga berada selalu membuat wanita yang berprofesi sebagai customer service staff sebuah bank itu sebal dan cemburu.
Lashira bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih layak dan sopan untuk menemui tamu. Jantungnya berdegup kencang terutama memikirkan sosok yang hendak menemuinya merupakan Damar yang berniat mau bertanggungjawab pada janin yang dikandung Lashira lalu menikahinya.
Ya Tuhan, jika yang datang adalah Damar dan orang tuanya, saya hanya bisa memasrahkan hal ini pada Engkau. Terasa berat untuk mengatakan bahwa Hamba sudah diperkosa oleh Damar. Terlalu sakit untuk mengatakan hal itu. Sangat sakit rasanya harus dinodai oleh pria yang bukan sebagai kekasih sendiri. Hamba hanya bisa berserah diri pada-Mu Ya Tuhan.
Lashira berceloteh panjang lebar di dalam hati. Setelah siap berganti pakaian, ia bergegas keluar kamar untuk beranjak menemui tamu yang tak disangka-sangka itu. Ketika Lashira menunjukkan batang hidung, seketika Abdullah menarik tangan putri kandungnya itu untuk semacam hendak diadili di ruang tamu.
“Shira, akhirnya kau muncul juga!” tegas Abdullah yang langsung mendudukkan putrinya di sofa.
Hilda selaku ibu tirinya ikut menimpali. “Iya, kita sudah menunggumu agak lama di sini. Kau tak boleh membiarkan Damar dan istri Pak Bupati terlalu lama di sini.”
Deg. Lashira dilanda rasa cemas sekarang. Mencoba untuk tetap tenang jika apa yang ditakutkan oleh wanita itu benar adanya yakni Damar datang beserta sang ibu untuk hendak melamarnya secara mendadak. Sungguh kenyataan pahit yang sebenarnya tak diinginkan terjadi oleh Lashira yang sampai detik ini masih mencintai sang kekasih, Aga Daneswara.
Rima ikut bersuara. “Wah, Shira ini cantik ya. Tak salah memang putraku, Damar memilih calon pendamping. Maafkan aku dan Damar yang sudah tiba-tiba datang ke sini. Damar sudah menceritakan semuanya padaku tentang kalian berdua. Maafkan apa yang sudah dilakukan Damar padamu ya, Shira. Dia begitu mencintaimu dan ingin bertanggungjawab sepenuhnya padamu serta calon anak kalian berdua nantinya.”
Abdullah dan Hilda tersentak kaget mendengar ucapan dari Rima.
“Apa, Bu? Anak? Maksudnya bagaimana? Shira ini kan calon istri---“ Belum sempat menyelesaikan kalimat, Damar lekas memotong ucapan Abdullah.
“Maaf, ini akan sangat mengagetkan Om Abdullah dan Tante Hilda karena memang kita paham jika Shira sudah berhubungan serius dengan Aga. Tapi takdir memutuskan kami berdua yang akan menjadi pasangan suami istri nanti karena Shira tengah mengandung anak saya, Om. Keturunan Keluarga Gamal Pranata ada di rahim Lashira Ghassani,” ungkap Damar mantap.
Kalimat yang terlontar dari mulut Damar seketika membuat orang-orang yang ada di sana syok, terutama Abdullah, Hilda, dan Violetta. Sedangkan Lashira meneteskan air mata perihal tentang kehamilannya yang diungkap oleh Damar ini.
“APAAA???” pekik Hilda yang paling heboh di antara semuanya, sedangkan Abdullah mendadak sakit kepala usai mendengarnya. Berusaha memegangi kepalanya akibat pusing dan syok atas ucapan Damar.
Violetta mengernyit lalu ikut angkat bicara. “Jadi ini alasannya, mengapa kau pernah pulang dini hari, Shira. Ternyata kau tidur dengan Damar lalu hamil anaknya. Oh My God, bagaimana jika Aga sampai tahu tentang ini. Ya ampun.”
Damar menyela. “Tolong semuanya tenang. Saya datang ke sini mau tanggung jawab pada Shira. Ini semua murni kesalahan saya dan bukan Shira. Saya terlalu mencintai Shira dan takkan pernah rela dia menjadi istri pria lain. Melalui pertemuan kita semua hari ini, saya Damar Pranata mau melamar Lashira Ghassani untuk dijadikan istri saya. Saya mohon untuk diberi restu menikahi Shira.”
Abdullah menghela napas berat. Ia tak pernah menyangka jika hal ini harus terjadi. Padahal selama 6 tahun ini, Lashira menjalani hubungan serius dengan Aga. Namun takdir tak mengizinkan mereka berdua untuk bersatu. Itu semua akibat obsesi Damar pada kekasih orang tersebut.
Hilda bersuara. “Pa, bagaimana ini? Shira ganti calon suami ini ceritanya. Bagaimana dengan Aga? Bilang apa kita nanti pada Aga dan keluarganya?” tanya wanita paruh baya itu mulai panik.
Abdullah terdiam sejenak untuk berpikir, sedangkan Rima kembali berkata di depan mereka semua.
“Sekali lagi, saya mohon maaf atas yang telah terjadi. Maafkan Damar, tapi takdir sudah menggariskan seperti ini. Tolong izinkan Damar untuk menikahi Shira secepatnya. Shira akan melahirkan keturunan keluarga Pranata dan akan menjadi menantu kesayangan kami. Saya pastikan itu,” pinta Rima yang membuat Abdullah dan Hilda jadi merasa tak enak hati untuk menolak lamaran dari Damar.
Hilda sempat berbisik di telinga sang suami. “Pa, kita restui saja Shira dan Damar. Dengan begitu kita semua aman dan bukan seperti aib dua keluarga. Apalagi keluarga Pranata itu keluarga pejabat, Pa. Memang sama kayanya dengan keluarga Daneswara. Tapi lebih berkuasa dalam pemerintahan yang ada dalam negara ini. Kita terima saja ya,” bujuk wanita itu.
Abdullah berdeham dan Violetta memasang raut gembira tentang ini. Keinginannya agar Lashira dan Aga tak jadi menikah pun terwujud. Ia pun angkat suara lagi.
“Sudahlah, Pa. Terima saja. Tak mungkin kan Shira tetap menikah dengan Aga tapi di rahimnya mengandung anak pria lain. Apa kata dunia? Kita ikhlaskan saja rencana pernikahan Shira dan Aga yang harus batal secara mendadak,” ujar Violetta yang dalam hati bersorak girang mengenai hal ini. Pembatalan rencana pernikahan Aga dan Lashira bisa membuatnya lega sekaligus menyusun rencana untuk bisa menggantikan posisi Lashira di hati Aga Daneswara.
“Ya sudah, kami setuju. Lashira akan menikah dengan Damar secepatnya. Mengenai rencana pernikahan Shira dan Damar, akan dibahas pada pertemuan selanjutnya. Malam ini saya mau berbicara serius dengan putri saya, Shira,” tukas Abdullah sebagai kepala keluarga yang mengambil keputusan bagi anaknya sendiri.
Ketika mendengarkan keputusan yang diambil oleh Abdullah, senyum mengembang di wajah Damar dan Rima. Mereka mendesah lega. Lalu bagaimana dengan Lashira?
Lashira yang syok, tiba-tiba berkata, “Maaf, saya ke kamar mandi dulu.”
Wanita cantik itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk melampiaskan kesedihannya yang mendalam di sana. Tangisan Lashira pecah seketika. Impian untuk menjadi istri pria yang dicintainya kandas sudah dan berganti dengan derita seorang pria egois yang sudah menghalalkan segala cara untuk bisa memiliki dirinya itu dengan cara yang keji. Sungguh miris.
Bagaimana kisah Lashira selanjutnya? Bagaimana reaksi Aga jika tahu rencana pernikahannya terpaksa dibatalkan?