"Lo jual? Gue beli!"
- Panca Nugraha -
©©©
Dirga berlari kecil mengejar seorang gadis berjilbab di lorong kampus yang cukup ramai. Dia berusaha untuk menyamai langkah gadis itu dengan berjalan di sampingnya. Setelah langkahnya sama, dia tersenyum pada gadis itu yang menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. Mereka berhenti sejenak dan gadis itu menyerong menghadap dirinya.
"Hai!" sapa Dirga.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam, maaf." jawab Dirga tersenyum canggung.
"Lain kali dibiasain ucap salam Kak. Ada apa ngikutin Ais?"
"Oh iya, soal kemarin itu gue minta maaf yah? Gara-gara gue, lo sama Panca jadi berantem. Gue beneran deh gak maksud ngerusak hubungan lo berdua."
"Kami gak punya hubungan apa-apa."
"Hah? Masa sih? Bukannya kemarin Panca bilang..."
"Gak perlu di dengerin omongannya Kak Panca. Dia bukan siapa-siapa Aisa." jawab Aisa tanpa ekspresi.
"Wah berarti si Panca bohong dong. Eh dia juga cium lo kan kemarin? Benar-benar kurang ajar dia! Gue pikir kalian ada hubungan makanya gue diem aja waktu dia cium lo. Dasar b******n!"
"Ais gak mau bahas soal itu lagi. Assalamu'alaikum." ujar Aisa ingin berlalu dari sana.
"Eh bentar dulu, Ais. Lo gak marah kan sama gue? Kemarin bukan kesalahan gue tapi si Panca. Gue gak ikut campur."
"Ais ngerti, Kak."
"Beneran? Waktu itu si Panca tiba-tiba tuh marah sama gue. Mungkin karena gue jalan sama pacarnya si Anes, tapi jujur gue itu sama Anes gak ada apa-apa. Kemarin tuh gue sama dia gak sengaja ketemu gitu terus akhirnya sekalian hangout bareng. Eh si Panca malah salah paham duluan."
"Iya, Kak. Aisa gak marah sama Kak Dirga. Itu emang kesalahan Kak Panca yang salah paham dan berimbas ke Ais. Buat sekarang Aisa gak mau lagi ketemu sama Kak Panca atau bahas dia lagi. Jadi, lupain aja masalah kemarin Kak."
Dirga tersenyum, "Iya, lupain aja Ais. Gak guna mikirin cowo b******n kayak Panca. Lo tau? Dulunya dia itu mantan ketua geng waktu SMA. Wajar aja sih kalau dia bersikap kurang ajar sama cewe, pastinya dulu dia juga kayak begitu."
Aisa membulatkan matanya tidak percaya. Lelaki yang dia pikir sangat menghargai wanita ternyata sangat melenceng dari tebakannya. Lelaki yang sangat menyayangi Ibunya sendiri ternyata tidak memiliki jaminan kalau dia juga akan menghormati wanita lain.
"Ais gak nyangka kalau Kak Panca kayak gitu." ujar Aisa.
"Percaya sama gue, Aisa. Seluk beluk Panca itu, gue tau banget."
"Astagfirullah, Aisa pikir Kak Panca orang baik."
"Inget kata pepatah, Ais. Don't judge book by it's cover. Panca luarnya aja baik, tapi aslinya busuk!"
Entah kenapa perasaan Aisa ingin menolak semua perkataan Dirga. Hati kecilnya seolah berkata bahwa semua yang dikatakan lelaki di hadapannya ini tidaklah benar. Aisa seperti ingin menangis mendengar perkataan Dirga seolah dirinya yang tengah dibicarakan.
"Astagfirullah, maaf Kak. Ais mau ke kelas, gak baik kita ngomongin orang kayak gini. Jatuhnya ghibah, Assalamu'alaikum." ujar Aisa langsung pergi meninggalkan Dirga.
"Wa'alaikumsalam, Aisa." jawab Dirga sambil berputar menatap punggung gadis itu sambil tersenyum puas.
Namun, saat dirinya berbalik di hadapannya sekarang sudah ada sosok yang baru saja dia jadikan ajang fitnah kepada Aisa. Dirga tersenyum miring saat melihat rahang lelaki itu yang mengetat begitu juga dengan telapak tangan yang mengepal erat menyiratkan bahwa lelaki itu tengah menahan emosinya yang sebentar lagi akan keluar.
"Udah puas lo, jelek-jelekkin gue di depan Aisa?"
"Yo Panca, santai man. Lo dengar sampai mana tadi?" tanya Dirga lalu menepuk bahu Panca.
"Gak usah sentuh gue, rubah! Gue dengar semuanya!" ujar Panca menepis tangan Dirga kasar.
"Oh gitu yah? Baguslah, supaya lo tau kalau sekarang Aisa udah gak akan percaya lagi sama lo. Jadi percuma lo minta maaf sama dia, karena Aisa gak akan mau lagi deket-deket sama lo."
"Mau lo apa sih, hah?! Lo udah ngambil Anes, sekarang apa lagi? Ngapain lo gangguin Aisa?!"
"Menurut lo, kenapa?"
"Jawab gue! Ngapain lo gangguin Aisa?! Dia bukan siapa-siapa gue, jadi berhenti ganggu dia!"
"Lo pikir gue bodoh? Gue tau lo suka sama itu cewe!"
"Terus hubungannya sama lo apa, b*****t?!"
Dirga mentap tajam ke arah Panca lalu dia maju satu langkah mendekatkan jaraknya yang kini tersisa tiga langkah.
"Lo masih inget sama Mario?"
Pertanyaan itu membuat Panca menegang. Dia menatap Dirga dengan terkejut. Perasaan tidak enak mulai muncul dalam dirinya. Apalagi saat mendegar nama Mario disebut oleh lelaki di hadapannya ini. Nama yang dulu sempat berhasil menjebloskan Antariksa ke dalam penjara karena ulah liciknya. Lelaki psycho yang berambisi untuk menghabisi Antariksa beserta dengan geng Jupiter dulu. Mantan anggota gengnya yang kemudian berpindah haluan menjadi anggota Ragavar yang juga musuh dari Jupiter maupun Phoenix.
"Apa hubungan lo sama Mario?" tanya Panca datar.
Pandangan Panca masih menatap tajam Dirga, bahkan jika tatapan bisa membunuh maka sekarang pasti Dirga sudah tergeletak tidak bernyawa. Namun, lelaki dihadapannya sama sekali tidak memiliki niat untuk menjawab. Dirga hanya tersenyum miring lalu berjalan melalui Panca.
Sudah geram sekaligus penasaran, Panca berbalik lalu menarik tangan Dirga keras agar lelaki itu berhenti.
"APA HUBUNGAN LO SAMA MARIO, b******n!!"
Teriakan dari Panca membuat Dirga tertawa. Dia lalu melihat sekelilingnya yang cukup ramai dengan mahasiswa/i yang berlalu lalang. Sekarang tatapan mereka menuju pada keduanya dengan Panca yang sudah terbakar emosi.
"Sellow my man! Lo gak mau kan, mereka semua tau siapa jati diri seorang Panca yang sebenarnya?" ujar Dirga tenang.
"BACOT! JAWAB PERTANYAAN GUE!"
"Kenapa lo gak minta Phoenix buat cari tau? Bukannya mereka masih ada sampai sekarang?"
"Jangan main-main sama gue, Ga! Lo tau gue bukan orang yang cukup baik." ujar Panca dengan penekanan.
"Gue tau, karena disini gue orang yang cukup baik buat Anes ataupun Aisa. Dan gue... akan dapetin mereka berdua."
"b******k!"
Emosi Panca kali ini sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia meninju Dirga tepat di wajahnya, disusul dengan tendangannya yang sampai pada perut lelaki itu. Orang-orang di sekitar mereka bahkab berteriak terkejut karena tindakannya. Namun seperti tuli, Panca kembali hendak memeberikan pukulan pada wajah Dirga namun lelaki itu berhasil mengelak dan melayangkan tinjunya mengenai pipi kiri Panca.
Tidak mau kalah, Panca kembali memberikan pukulan beruntun pada Dirga tanpa membiarkan lelaki itu membalasnya. Kemampuan bela diri Panca tentu jauh diatas Dirga. Jangan pernah meremehkan mantan ketua geng, karena perkelahian seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari Panca saat dia SMA dulu.
Terbukti dengan Dirga yang sekarang sudah jatuh di lantai dengan Panca yang masih berusaha memukulinya. Mahasiswa yang melihatnya sudah berusaha untuk memisahkan keduanya, namun berontakkan dari Panca membuat mereka kewalahan.
Kira-kira ada lima orang yang berusaha menjauhkan Panca dari atas Dirga yang sudah lebam-lebam dan mengeluarkan darah dari hidung maupun dari luka yang muncul di beberapa bagian wajahnya. Usaha memisahkan Panca nyatanya berhasil, lelaki itu sudah berdiri dan sedikit menjauh dari Dirga walaupun masih dengan berontakkan yang dilancarkannya.
"BAWA MARIO KE HADAPAN GUE, b******n!! BAWA DIA, BIAR GUE HABISIN DIA SEKARANG!! b******k!!"
Teriakan Panca sangat keras membuat orang yang memeganginya menjadi ketakutan. Mereka hampir saja lengah dan melepaskan Panca.
"Astaga, Panca lo kenapa? Heh dia kenapa? Kesurupan?"
Rifki datang dengan menerobos kerumunan mahasiswa itu bersama dengan Patra. Lelaki itu langsung melihat Panca yanh berteriak-teriak tanpa melihat bahwa sudah ada korban dari amukan lelaki itu.
"Pan, sadar Pan! Astagfirullah, mana gue gak hafal ayat kursi buat ngusir setannya. Lagian kenapa juga pas pelajaran agama gue malah tidur dulu? Bingung kan sekarang temen lo kesurupan disembuhin pake apa?!" gerutu Rifki pada dirinya sendiri.
"BACOT LO RIF!!" bentak Panca pada Rifki.
"Ck! Minggir lo, g****k gak sembuh-sembuh!" kesal Patra menyingkirkan Rifki.
"Lah kenapa gu... INI SI DIRGA KENAPA? KORBAN TABRAK LARI APA GIMANA?" ujar Rifki terpotong saat melihat Dirga yang tergeletak di lantai.
"Ada apa ini?!"
Suara bariton lelaki paruh baya yang mengenakan kemeja biru muda dan jas hitam terdengar. Lelaki itu adalah Pak Endang seorang wakil rektor di kampus. Dia melihat Panca yang sudah melepaskan diri dan tengah mengatur nafasnya untuk meredakan emosi. Sementara Dirga tengah duduk bersandar pada tembok menghapus beberapa jejak darah yang cukup penuh di wajahnya.
"Kalian berdua datang ke ruangan saya! Sebelum itu obati lebih dulu luka kalian! Kamu...!"
"Saya, Pak?" tanya Patra.
"Bantu mereka ke ruang kesehatan, setelah itu bawa mereka ke ruangan saya!"
"Baik, Pak." jawab Patra.
Mendengar itu, Panca menghela nafasnya. Emosinya kali ini benar-benar menguasai dirinya sendiri.
Gue butuh lo, Aisa. Batin Panca.
©©©
TBC