Beberapa bulan kemudian… “Sayang, sakit...” Syakilla merintih memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Kedua orang tua Fatih menemani Syakilla di dalam kamar tidurnya, sembari mempersiapkan perlengkapan untuk kelahiran cucu pertama mereka. Karena saat seperti ini Fatih tidak bisa diharapkan, ia malah keluar masuk kamar tidak jelas. Membuat Syakilla semakin histeris, karena sekali lagi Fatih tidak bisa menenangkannya. “Fatih, tenangin istri kamu dan buat dia nyaman. Dan lagi mana sih supir kamu lama banget?” protes Riana mulai kesal dengan tingkah putranya. Fatih segera menghamipiri Syakilla yang sudah duduk di tepi ranjang memegangi perutnya, dengan sigap ia mengelap keringat yang mengucur deras dari kening istrinya. Bahkan dengan sigap Fatih membantu Syakilla untuk mengenakan jilb

