Sinta

1230 Kata
Dia adalah salah satu wanita terbaik yang aku kenal orangnya cukup cantik dan manih senyumnya, tetapi tidak putih dan rambutnya sebahu agak ikal. Beda banget dengan Lena. Namun gaya bicara dan pemikirannya saya suka banget dewasa dan berkepribadian jawa. Saya suka dan cocok dengan inner beauty nya Sinta. Sinta adalah adik angkatan di fakultasku kami beda 2 tahun. Kami kenalan saat dia mahasiwa baru yaitu ketika acara kegiatan agama dimana aku sebagai ketua sie agama Kristen jadi aku harus mempersiapkan acara penyambutan untuk adik kelas. Sinta merupakan salah satu yang menonjol di bandingkan dengan teman-temannya yang lain. Waktu kenalan kami tidak ada yang terlalu istimewa. Namun seiring dengan berjalannya waktu kedekatan kami terjalim. Santa sangat aktif untuk acara keagamaan sehingga kami menjadi dekat dan saat itu aku sudah tidak dekat dengan Lena jadi kami bisa berteman dan semakin akrab. Setelah selesai kegitan agama biasanya Sinta aku antar pulang ke kostnya dan ngobrol sebentar. Setahun kemudian adiknya ternyata masuk juga ke akultas kami namanya Anna lebih putih dan lebih cantik tetapi Sinta lebih manis. Karena dekat dengan Sinta juga jadi kenal dan dekat dengan Anna. Walaupun dekat kami tidak pernah berbicara untuk ke jenjang lebih jauh. Sampai kemudian ada pergantian pengurus seksi kerohanian dan Sinta terpilih jadi ketuanya menggantkan aku. Hubungan kami semakin dekat dan aku semakin kagum dengan inner beautynya. Wah ini benar-benar cocok jadi isteri idaman batinkun. Tetapi aku tidak berani melangkah lebih jauh karena masih belum percaya diri dan merasa belum perlu pacaran. Setelah lepas dari ketua kerohanian di fakultas aku menjadi pengurus kerohanian di universitas dan kenal dengan teman-teman dari fakultas lain. Salah satu teman yaitu mas Harli dari fakultas Mipa dia beberapa tahun di atasku tetapi belum lulus juga. Suatu saat Mas Hary tanya kepada ku “Tok kamu naksir Sinta ya….kok aku lihat kamu deket sama Sinta”. “Gak tahu mas kami dekat sih karena dia gantikan aku jadi ketua kerohanian di fakultas jawabku”. “Kamu tahu gak kalau Santi sudah punya pacar? Pacarnya Sinta temenku di sudah lulus dan sudah kerja di luar kota” Mas Hari kepadaku. “Oh aku gak tahu Mas, Sinta nggak pernah cerita dan aku juga tidak pernah tanya, karena aku pikir masih jomblo.”  Jawabku. “Namanya Totok juga bahkan pacarnya titip ke aku untuk ikut jaga Sinta supaya tidak diambil atau dideketi cowok lain” lanjut mas Hari. Aku semakin kaget dan segera sadar mungkin karena aku dekat Santi maka Mas Hari menegurku. “Oh gitu ya mas, tapi kami hanya berteman kok mas, aku belum berani pacaran juga” jawabku. Ya aku dan Sinta memang kalau ada kegiatan agama pasti datang dan pulang berdua hanya itu, atau ketika ketemu di kampus pas sama-sama mau pulang aku antar di ke kostnya dan mampir sebentar untuk bercanda. Memang sesekali aku pernah main ketempat kostnya tapi tidak pernah aku ajak jalan berdua. Jadi aku tidak bohong sama mas Hari. Sejak saat itu aku jadi tahu statusnya Sinta yang sudah menjadi punya pacar. Hingga suatu saat aku tanyakan ke Sinta tentang pacarnya. “Sin aku tahu dari mas Hari kamu sudah punya pacar ya…” tanyaku. “Iya mas, Mas Totok juga namanya dia teman mas Hari, kami sudah lama pacaran kami satu gereja dulu di kota asalku” katanya.  “Kok Sinta gak pernah cerita, untung aku gak nembak kamu” gurau ku. “He…he…. Lagian mas juga gak pernah tanya” jawabnya. “Terus gimana mas Mu tahu nggak kalau kita sering bersama aku gak mau ya ada salah paham” tanyaku. “Gak papa mas kami sudah saling percaya dan kayaknya kita juga gak pacaran kan jadi tidak apa-apa…mas santai saja ….. tapi tadi beneran mas bilang mau nembak aku, memang mas suka sama aku” tanyanya. Aku terdiam sebenta “Benar ya Sin, aku suka dengan kepribadian dan sikapmu itu mengingatkanku dengan ibuku aku cocok dan nyaman sama kamu”jawabku jujur. Memang aku suka banget dengan inner beautynya tapi kalau cinta aku sendiri juga tidak tahu. Tetapi setidaknya cinta bisa tumbuh jika kita sering bersama pikirku. “Sama mas aku juga merasa cocok dan nyaman sama mas” katanya. Aku kaget juga dengar jawabnya. Lah kan dia sudah punya pacar kalau pacarnya tahu gimana batinku. Aku bingun waktu itu, tetapi segera sadar aku tidak boleh jadi orang ke 3 yang bikin pasangan putus. Kemudian aku melanjutkan candaku “Gimana kalau aku nembak dik Anna saja kan dia belum punya pacar, sepertinya sifatnya gak jauh beda dengan kakaknya” candaku lagi. “He…he  emang dik Anna mau sama mas belum tentu juga kan” jawabnya. “ya….maksudku sih karena tidak dapat kakaknya adiknya juga gak papa, kan kalau pacaran dengan dik Anna bisa dekat juga sama kamu” godaku lagi. “Ye…. Janganlah kalau mas cuma main-main. kasihan dik Anna” Jawabnya. “Berarti kalau aku serius boleh dong” jawabku. “he..he….” Sinta hanya ketawa saja. Itu terakhir kalinya aku dan Sinta berbicara dan bercanda berdua, sejak saat itu kami sepertinya manjadi jauh mungkin akunya yang tidak mau mendekat.  Aku tidak pernah lagi datang ke acara kerohanian kampus dan juga tidak pernah lagi main ke tempat kostnya Sinta.   Jadi sejak kenal Sinta di semester 5 kemudian aku mulai menjauh dan melupakan dia di semester 7.  Saat aku semester 8 aku jarang ke kampus karena sudah KKN dan tinggal skripsi, dan saat itu aku sudah berpacaran dengan Rena. Tiba-tiba Sinta datang ke koat ku untung aku ada di kost. Dia diantar teman seangkatannya yang aku juga kenal namanya Wisnu. Tetapi Wisnu langsung pulang dan meninggalkan kami berdua. Aku kaget dan senang juga karena sudah lama tidak ketemu Santi, masih seperti yang dulu manis tetapi agak kurusan dikit. Setelah berbasa-basi dan cerita kesana-kemari dia sedikit sendu. Kemudian dia cerita “ mas aku sudah beberapa yang lalu cari mas di kampus tetapi tidak pernah ketemu, jadinya aku cari tahu deh kostnya mas tapi gak ada yang tahu, untung ketemu mas Bardi yang tahu. Tadi aku minta Wisnu untuk ngantar aku kesini”. “Iya banyak yang gak tahu karena aku beberapa kali pindah kost” jawabku. Kemudian Santi berkata “Mas aku putus dengan mas Totok aku sedih ternyata dia selingkuh” kata Sinta. Aku terdiam bingung kaget dan berbagai macam rasa lain bergejolak di hatiku ada rasa ikut sedih, rasa bangga dan senang karena dia curhat padaku,  senang juga karena aku berarti ada kesempatan. Tetapi sekejap kemudian aku sadar bahwa saat ini pacaran dengan Rena dan sudah komitmen dengan Rena, masak iya aku putusin terus nembak Sinta. Aku sendiri tidak ingat apa jawabku ke Santi sepertinya aku hanya bilang ke Dia bahwa saat ini aku sudah pacaran sama Rena kami sudah pacaran sekitar 6 bulan lebih. Setelah itu aku aku sedikit menghibur Santi dan mengantar dia pulang ke kostnya seperti yang dulu sering aku lakukan. Tetapi setelah itu aku langsung pulang masih bingung dengan apa yang aku hadapi. Ada rasa kecewa di hatiku, kenapa Sinta baru putus sekarang ya? Mungkin masih ada tersimpan rasa suka pada Sinta di hatiku? Seandainya Sinta datang saat aku belum pacaran mungkin ceritanya akan berbeda, mungkin kita bisa bersatu. Tuhan kalau memang jodoh dengan Sinta tolong berikan jalanMu dan kalau memang jodohku dengan Rena hubungan kami semakin dikuatkan. Sejak pertemuan itu aku tidak pernah bertemu Sinta lagi dan tidak pernah tahu kabarnya, sampai pada suatu saat aku dengar kabar Sinta sudah menikah dan bahagia dan suaminya seorang pendeta. Aku ikut bersyukur karena Sinta yang baik itu memang pantas jadi isteri seorang pendeta pas betul daripada aku seorang yang banyak salah dan dosa. Beberapa kali kami pernah bertemu dan berkomunikasi dan sebatas tanya kabar dan cerita kondisi masing-masing saat ini. Aku senang Sinta sudah bahagia dengan kehidupannya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN