Aku mendengarkan penjelasan seorang narasumber sambil sesekali mencatat istilah-istilah yang tak jelas di buku catatan. Di samping, Mas Tama memotret sambil mengangguk-angguk mendengarkan keterangan dari seseorang yang memiliki hubungan dengan okum suap yang sekarang berstatus sebagai saksi. Begitu kami menyelesaikan liputan di rumah saksi itu, kami bergegas kembali ke kantor. "Eh, Fil. Ikut anak-anak nggak patungan buat beliin kulkas buat Danu?" "Hm?" Bola mataku membulat saat aku mengenakan helm. "Oh... buat nikahan, ya?" Ya elah... banyak amat sih yang nikah. Banyak uang yang akan kukeluarkan. Lantas, kapan orang mengeluarkan uang untuk nikahanku?! "Yoi. Mereka sepakat mau beliin kulkas, sih. Kalau bos-bos kayaknya ngasih yang lebih gede." "Apartemen?" "Boro-boro." Mas Tama terkeke

