Terjadi kesenyapan. Aku menggaruk belakang kepala karena rikuh. Sementara itu, si pramuniaga berdeham, membuatku berbalik badan untuk mengikutinya melepas baju. "Jadi yang ini, Kak?" tanyanya saat membantuku menurunkan resleting. Aku berbisik, "Yang lain aja, deh." "Lho, kenapa? Pacarnya udah setuju loh, bagus kan katanya." Aku tersenyum sumbang. "Yang lain aja." Pramuniaga itu terkekeh, lantas mengeluarkan koleksi yang lain dan kupilih secara asal-asalan. Dress brokat sebatas paha yang tersambung dengan korset. Bagian d**a dan lengannya menerawang menampakkan kulit. Lalu, kain ikat batik bermotif parang. Harganya lebih murah daripada yang tadi. Tapi tidak bisa dibilang murah juga untuk sobat miskin sepertiku. Limabelas juta masih mahal, njir. Usai mendapatkan baju untuk ke pernikaha

