Redaktur Pelaksana

2005 Kata

Mataku mengerjap kuat. Aku mendorong Ilalang agar menjauh dariku, tapi cengkeramannya di bahuku begitu kuat. Ia tak membiarkanku lolos. Bibirnya yang hangat masih bertaut denganku. Ia menjauh sambil terengah-engah, menatapku lekat. Sementara itu, aku masih mengkerut di jok dengan punggung menempel di pintu. Mataku membelalak kaget. "Kenapa... rasanya beda?" tanyanya. "Nuansa?" NUANSA PALA LO. Aku mengepal tangan, ingin menamparnya, tapi ia malah jatuh ke depan, di dadaku, tak sadarkan diri. Aku menggeram kesal, kemudian mendoronganya menjauh. Ia menyamankan diri di jok untuk tidur. Aku tertawa sarkastis, tak memercayai apa yang baru saja terjadi. "Dasar b******n. Lo pikir gue cewek apaan, hah?" seruku berapi-api. Kalau ia sudah tak sadarkan diri begitu, rasanya aku tidak bisa memindahka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN