Mentari pagi sudah tak malu-malu lagi menyembunyikan keemasannya. Kehadiarannya sebenarnya banyak ditunggu untuk memberikan kehangatan setelah malam yang begitu dingin dan panjang. Binarnya, memberikan pantulan unik bak pelangi kecil pada setiap embun yang masih enggan menguap. Ketika tersentuh kulit, embun-embun itu memberikan kesegaran yang jarang didapatkan bagia dua insan yang banyak menghabiskan waktu di kota. Agasta dan Danica, menikmati perjalan masuk ke area makam dengan jalan kaki. Sepeda motor Danica sudah diparkir di luar are makam. Sandal Agasta model selop, menyadari bahwa rumput-rumput di pemakaman basah, ia dengan sengaja melepas selopnya. Dalam diri berniat untuk membeli sandal model jepangan. Sedangkan Danika, memainkan tangannya pada setiap kerindangan tanaman puring d

